Oleh : Halimah Yumna, Mahasiswi STEI SEBI

Kondisi pandemic di Indonesia belum usai, Virus Covid-19 setiap harinya masih mengalami kenaikan, meski sudah masa new normal tetapi tetap saja kondisi kehidupan tidak sebaik sebelum masa pandemic.  Salah satu kondisi yang belum membaik adalah kondisi ekonomi, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mencatat 6 juta orang yang dipekerjakan dirumahkan dan di-PHK selama masa pandemi ini. Wakil Ketua Umum Kadin Shinta Kamdani mengatakan bahwa sebagian besar pekerja tersebut dirumahkan karena perusahaan tidak punya cash flow untuk PHK. Pada tahun 2021 Bappenas sendiri memperkirakan, tingkat pengangguran bisa mencapai 10,7-12,7 juta orang.

Melihat kondisi ekonomi yang terdampak pandemic ini, selain para pekerja mencari cara untuk tetap menghidupi keluarga nya, sebagai anggota keluarga kita juga harus turut ikut andil dalam membantu perekonomian keluarga. Salah satu cara untuk membantunya adalah dengan mengatur keuangan dalam keluarga, bagaimana kita bisa memanjemen keuangan agar digunakan secara hemat.

Menurut Aulia (2009), pada prinsipnya sebuah perencanaan keuangan adalah untuk membantu dan memudahkan setiap keluarga dalam menentukan regulasi keluar masuknnya uang dalam keluarga. Fungsi dari perencanaan keuangan keluarga adalah merencanakan masa depan sedini mungkin untuk mencapai tujuan keuangan yang dicita-citakan melalui pengelola keuangan yang terencana, teratur dan bijak. Dengan adanya perencanaan keuangan, kita bisa mengontrol kondisi keuangan kita sekarang dan hari esok.

Lalu bagaimana membuat perencanaan keuangan keluarga dengan baik?

Hal yang bisa dilakukan adalah dengan menganalisis laporan keuangan keluarga. Sebelum kepada menganalisis sebuah laporan keuangan keluarga, Apakah kita sudah membuat laporan keuangan keluarga? Dalam keluarga membuat laporan keuangan tidaklah serumit di entitas, cukup dengan membuat laporan neraca, laporan arus kas, dan laporan laba rugi.

Contoh akun akun yang ada di laporan keuangan, yaitu :

  1. Laporan Neraca Keluarga :
  2. Aktiva ( Aset)
  3. Uang di dompet
  4. Piutang bibi
  5. Persediaan sembako
  6. Pasiva (Liabilitas dan Ekuitas)
  7. Liabilitas
  8. Hutang ke paman
  9. Kredit Rumah
  10. Kredit Mobil
  11. Ekuitas
  12. Laba ditahan
  13. Laporan Arus Kas
  14. Aktivitas Operasional
  15. Penjualan sembako
  16. Gaji Pak Fulan
  17. Bonus
  18. Aktivitas Investasi
  19. Pembelian Rumah
  20. Pembelian Motor
  21. Aktivitas Pendanaan
  22. Penerimaan Hutang Bibi
  23. Pinjaman Kredit Rumah
  24. Laporan Laba Rugi
  25. Pendapatan
  26. Gaji Pak Fulan
  27. Pendapatan Usaha
  28. Bonus
  29. Beban
  30. Pembayaran Listrik
  31. Pembayaran SPP
  32. Pembelian Sembako
  33. Pembayaran BPJS
  34. Iuran Kebersihan
  35. Belanja Bulanan

Setelah kita membuat beberapa laporan keuangan keluarga yang sederhana, kita bisa menganalisa laporan keuangan keluarga kita, apakah sudah sehat atau belum. Salah satunya adalah dengan melakukan financial check up yang dilakukan oleh Financial Clinic. Di dalam Blueprint of You’re your Money, financial check up merupakan fondasi dari perencanaan keuangan yang komprehensif. Dari hasil financial check up  akan terlihat tiga rasio yang menggambarkan kesehatan keuanganmu,

Rasio cicilan hutang adalah nilai perbandingan antara penghasilan dengan total jumlah cicilan atau utang yang di miliki. Dengan rasio cicilan hutang, kita dapat melihat kemampuan keuangan dalam membayarkan utang. Sangatlah disaranan agar rasio cicilan hutang maksimal 30% dari total penghasilan. Jumlah tersebut adalah maksimal kita memiliki hutang dan berlaku untuk semua cicilan yang dimiliki seperti cicilan untuk kredit rumah, mobil, dll. Misalnya kalau kita punya cicilan dengan nominal Rp 4.000.000 sedangkan penghasilan yang kita dapatkan  Rp 7000.000, itu artinya kamu terlalu banyak berutang sehingga dapat mengganggu porsi pengeluaran pos yang lain terutama menabung atau berinvestasi. Dan ingat ya jika harus berhutang karena benar benar terdesak, maka berhutanglah di lembaga syariah, agar terbebas dari riba.

Rasio kedua adalah rasio investasi atau menabung, rasio ini adalah jumlah pengeluaran yang dialokasikan untuk tabungan atau investasi dibandingkan penghasilan setiap bulannya. Misalnya jika kita memiliki penghasilan sebesar Rp 15.000.000  setiap bulannya dan mengalokasikan untuk Berinvestasi atau menabung sebesar Rp 150.000 hal itu berarti kita dapat memiliki rasio menabung atau berinvestasi sebesar sepuluh persen. Hal ini menunjukkan rasio menabung kita baik karena kita disarankan untuk memiliki rasio menabung atau investasi minimal sebesar 10%. Semakin besar rasio menabung akan semakin baik.

Rasio terakhir adalah rasio likuiditas yaitu jumlah aset lancar dibandingkan dengan jumlah pengeluaran bulanan. Aset lancar adalah uang tunai, tabungan, deposito dan aset lainnya yag bisa dicairkan menjadi uang tunai dalam waktu singkat. Idealnya likuiditas sebesar 3X sampai 6X pengeluaran bulanan. Fungsinya dari rasio likuiditas adalah supaya kita berjaga jaga jika ternyata nanti terpaksa tidak bekerja lagi sehingga kita punya cadangan lain untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari hari, sambil mencari pengganti pekerjaan yang lama.

Dari financial check up menggunakan tiga rasio ini maka kita bisa melihat apakah keuangan keluarga kita sudah sehat atau belum, dan tentunya untuk yang muslim harus memperhatikan juga perihal keuangannya, sudah syariah atau belum, syariah artinya terhindar dari hal hal yang dilarang oleh Allah yaitu seperti terhindar dari unsur gharar, riba, dll. Semoga dengan kita bisa melihat kondisi keuangan kita dari melihat laporan keuangan yang dibuat, membantu kita untuk bisa lebih memenajemen keuangan di masa pandemic ini. Wallahu’alam

Referensi :
Aulia .2009. Perencanaan Keuangan Keluarga (Menciptakan Surplus Anggaran dalam Keuangan Keluarga Anda). Yogyakarta: Cakrawala
Lake, Elisabeth. 2010. Analisis Rasio Keuangan Untuk Mengukur tingkat Kesehatan Keuangan Perusahaan. Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta
https://www.qmfinancial.com/2019/10/tiga-rasio-kesehatan-keuangan/
https://tirto.id/dahsyatnya-efek-pandemi-ekonomi-tersungkur-pengangguran-melonjak-fLhS
https://satisejahtera.com/category/laporan-keuangan-keluarga/#.Xwx2ZCgzbIV