DepokNews, Jatijajar- Yayasan Isbatuna yang berlokasi di RT.02 RW. 04 Kelurahan Jatijajar Kecamatan Tapos Kota Depok harI Rabu siang (12/5/21) menutup akhir Ramadan 1442 Hijriyah dengan mengadakan acara Santunan Para Hufadz Keluarga Disabilitas Tuna Netra. Hufadz adalah sebutan untuk para hafidz penghafal Alquran. Sekira 30 orang hadir dalam acara tersebut mengikuti standar prosedur kesehatan pendemi.

Selain hufadz, acara juga dihadiri oleh Pengurus Yayasan Isbatuna dengan Ketuanya Puguh Widodo, Perwakilan Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) yaitu Hadi Rahmawadi, Ketua RQN (Rumah Quran Nusantara) kota Depok Mamuri Raskaman, Ketua RT.02 RW.04 Junaedi, dan para donatur.

Penyerahan bingkisan dana yang diserahkan Yayasan Isbatuna bertujuan untuk memberikan semangat atau support terhadap para Penghafal Al-Quran tuna netra. Pihak yayasan juga memberikan bantuan THR Lebaran kepada keluarga Tuna netra.

“Ada tuna netra yang hafal 2 juz dan ada yang 4 juz. Kita kasih reward berupa sejumlah uang sebagai apresiasi terhadap semangat mereka dalam menghafal Alquran,” jelas Puguh Widodo, Ketua Yayasan Isbatuna.

Ketika ditanya dari mana sumber pendanaan kegiatan, Puguh menjelaskan kegiatan ini berasal dari Lembaga BAZNAS Pusat, CSR HI ( Human Inisiatif), dan perorangan.

“Alhamdulillah, sponsornya dari berbagai pihak seperti Baznas Pusat , Human Inisiatif PKPU, dan juga dari perorangan,” ungkap Puguh.

Acara diisi pula dengan ceramah dari Ustad Mamuri Raskaman, ketua RQN kota Depok.

“Sungguh mulia kedudukan orang yang cinta dengan Alquran. Derajatnya demikian tinggi di mata Allah SWT. Di hari pembalasan nanti Alquran akan membela orang yang selalu membacanya, ” kata Mamuri di sela-sela ceramahnya.

Menurut ketua RT.02 RW.04, Junaedi warganya mendukung kegiatan Yayasan Isbatuna yang berada di lingkungannya.

“Kami mendukung kegiatan Yayasan yang dipimpin Ustad Puguh. Bukan kali ini saja namun kegiatan lainnya warga lingkungan kami turut membantu juga,” ujar Junaedi.

Di tempat yang sama, Pengurus ITMI memberikan motivasi kepada tuna netra yang belum bisa membaca dan menghafal Alquran yaitu sekuat tenaga terus berinteraksi dengan Alquran.

“Harus sekuat tenaga. Terus bersemangat. Istilahnya jangan sampai tunanetra itu sengsara dua kali. Sengsara di dunia karena tidak bisa melihat. Kedua, sengsara di akhirat karena tidak bisa membaca Alquran. Sekarang kan ada Alquran Braille, ” tutur Hadi.

Diketahui sudah lama ada Alquran braille yang bisa dibaca oleh orang buta atau tuna netra. (shl)