Walikota Depok saat melayat (istimewa)

DepokNews–Wali Kota Depok Mohammad Idris pada Senin (8/10) melayat ke rumah keluarga Ali Akbar (14), pelajar yang menjadi korban pembunuhan di Kampung Kebon Cinangka, Kampung Bulak Poncol, RT 01 RW 01, Kelurahan Cinangka, Kecamatan Sawangan.

“Saya sekedar takziah (menghibur) bersama keluarga, khususnya orangtua. Sebagai orangtua, sebagai anak tunggal, kita harus menghibur. Kita sangat empati sama keluarga. semoga Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan sesuatu yang kita enggak tahu rahasia Allah Subhanahu wa ta’ala seperti apa,” ucapnya

Idris berpesan untuk menguatkan hati keluarga dan berharap kriminalitas di Depok dengan penduduk mencapai 2.170.000 jiwa tidak terjadi lagi.

Maka itu, pihaknya perlu meningkatkan kembali sinergitas antara Pemerintah Kota Depok dengan instansi terkait.

“Harapan kami tetap sinergi pemangku kepentingan, jangan kerja masing-masing. Ini pentingnya sinergitas kami, pemerintah, dan aparat negara”katanya.

Tingkatkan kolaborasi pengamanan karena tugas pokok kita mengamankan bagaimana masyarakat tetap nyaman dalam kondisi seperti ini.

Saat melayat ke rumah korban, Wali Kota Idris didampingi Camat Sawangan Zainudin, Lurah Sawangan Rijal Farhan, Kapolsek Sawangan Kompol Suprastyo, Danramil 05/Sawangan Kapten Armed.

Orang Tua korban Ali Akbar siswa MTs Al Hidayah Sawangan, Sumarno tidak disangka anak sulungnya itu ditemukan tewas di pinggir Kali Ciputat, Kelurahan Cinangka, Kecamatan Sawangan pada Sabtu (6/10).

“Kami dan keluarga sangat terpukul atas kepergian buah hatinya itu dengan sangat mengenaskan”katanya.

Dia mengatakan tersebut sekitar pukul 09.30 WIB sempat pulang sekolah ke rumah.

“Korban udah ganti baju kaos hitam namun celana masih panjang Pramuka coklat,”ujarnya.

Korban sempat meminta uang jajan Rp.10 ribu untuk main .

Namun uang itubelum sempat dikasih oleh Marno lantaran dia sudah keburu pergi ojek.

“Tadi korban awalnya mau pake motor untuk main karena tidak saya kasih mau dipakai kerja ojek. Setelah itu anak langsung keluar rumah alasannya mau main futsal sama temen-temennya,”katanya.

Namun berselang kurang lebih sekitar dua jam Marno dapat kabar jika anaknya tersebut sudah tewas.

“Tragis banget kematian anak saya dengan cara dianaiyaTidak sanggup melihat keadaan anak saat di kali penuh darah dan urat nadi tangan kanan sudah putus,”tambahnya.

Sehari-hari anaknya tersebut dikenal sangat pendiam dan tidak pernah macam-macam. “Jangankan main yang tidak bener, badung (nakal) aja tidak pernah,”katanya.