DepokNews–Universitas Indonesia (UI) kembali menambah Guru Besar-nya. Kali ini, terdapat tiga Guru Besar dari Rumpun Ilmu Kesehatan yang dikukuhkan, yaitu Prof. dr. Asri C. Adisasmita, MPH., M.Phil., Ph.D dan Prof. Dr. R. Budi Haryanto, SKM., M.Kes, M.Sc. dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UI (FKM UI), serta Prof. Dr. Abdul Mun’im, M.Si, Apt dari Fakultas Farmasi UI (FFUI).

Rektor UI, Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met mengatakan total Guru Besar UI berjumlah 274 orang.

Prof. dr. Asri C. Adisasmita, MPH., M.Phil., Ph.D yang merupakan Guru Besar Bidang Ilmu Epidemiologi FKM UI menyampaikan Pidato Pengukuhan yang berjudul “Implementation Science: Pendekatan Inovatif bagi Epidemiologi dalam Mentransformasikan Evidence to Action”.

Dalam pidatonya, Prof. dr. Asri mendorong para epidemiolog untuk dapat berinovasi mewujudkan implementation sciencemelalui pemanfaatan teknologi.Implementation science sendiri adalah menetapkan hasil temuan penelitian menjadi suatu intervensi nyata yang berdampak bagi kesehatan masyarakat.

Di indonesia, salah satu contoh pelaksanaan implementation science adalah program Maternal Death Surveillance and Response (MDSR) yang saat ini sedang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan.

Sistem ini nantinya diharapkan dapat berkontribusi dalam mencegah terjadinya kematian ibu.

“Hal ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Perguruan tinggi dan masyarakat akademis perlu memperkuat kurikulum untuk membekali para lulusan epidemologi dengan keahlian yang menunjangimplementation science,” katanya.

Selanjutnya, Prof. Dr. R. Budi Haryanto, SKM., M.Kes, M.Sc., Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Kesehatan Lingkungan FKM UI, memaparkan Pidato Pengukuhan berjudul “Perubahan Iklim dan Polusi Udara di Indonesia: Dampak Kesehatan dan Strategi Pengendaliannya”.

Dalam pidatonya, Prof.Budi mengatakan bahwa perubahan iklim di Indonesia telah memengaruhi ekonomi, kemiskinan, kesehatan manusia, dan lingkungan, termasuk meningkatnya emisi polusi udara.

“Sektor transportasi berkontribusi paling banyak, hingga 80%, diikuti oleh emisi dan industri, kebakaran hutan, dan kegiatan rumah tangga,” tuturnya.

Ditengarai, 50% dari angka kesakitan di Indonesia saat ini terkait dengan polusi udara.

Karena itu, pencegahan dan pengendalian polusi udara pada sumber pencemarannya setidaknya dapat dilakukan dengan memperbaiki kualitas bahan bakar, meningkatkan teknologi mesin kendaraan bermotor, prasarana infrastruktur, dan manajemen transportasi.

Sementara itu, Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Bahan Alam FFUI, Prof. Dr. Abdul Mun’im, M.Si, Apt.  menyampaikan Pidato Pengukuhan berjudul “Pemanfaatan Teknologi Hijau pada Pengembangan Bahan baku dan Obat Herbal”.

Menurutnya, dalam rangka pengembangan obat herbal, diperlukan sentuhan teknologi.

Hal ini dilakukan agar kualitas meningkat dan keamanan produk terjamin.

Untuk memperoleh obat-obatan herbal, harus melewati sebuah proses yang menjadi perhatian dan menentukan kualitas diantaranya yaitu ekstraksi.

Proses ekstraksi memiliki tantangan tersendiri karena harus memilih pelarut yang bisa mengekstraksi senyawa aktif secara maksimal, aman, ekonomis, tidak mudah terbakar dan dapat didaur ulang.

Prof. Abdul lalu menyebutkan sebuah pelarut pengekstrasi bernama NADES (Natural Deep Eutectic Solvent) sebagai alternatif pelarut yang lebih aman.

NADES adalah campuran yang memiliki titik leleh jauh di bawah titik leleh setiap senyawa, biasanya di bawah 100°C.

Menurut Prof. Abdul, pelarut ini memiliki keunggulan, yaitu “rentang polaritas lebar, sehingga memiliki kapasitas pelarutan yang baik untuk senyawa dengan berbagai polaritas.