Pembicara dalam seminar Simposium Internasional (Foto: Mia Nala Dini-DepokNews)
DepokNews- Memasuki era globalisasi, gangguan urbanisasi dan migrasi menjadi tantangan tersendiri. Universitas Indonesia, Depok pun menjadikan isu ini sebagai kajian.
Untuk membahas tantangan yang berimbas ke warga desa dan kampung tersebut, Universitas Indonesia menggelar simposium internasional yang membahas pemberdayaan desa atau kampung berbasis komunitas di Aston Bogor.
Dalam simposium ini, Universitas Indonesia mengundang pembicara dari berbagai negara, seperti Singapura, China dan komunitas-komunitas desa di dalam negeri. Simposium ini menitikberatkan pemberdayaan desa dari segala aspek, seperti budaya, sosial, ekonomi dan pembangunannya. UI juga melibatkan sejumlah fakultas untuk membantu pemberdayaan desa. Antara lain Fakultas Ilmu Budaya, Psikologi, Tekhnik, Kedokteran.
Profesor studi sastra FIB UI, Profesor Melani Budinata mengatakan simposium ini digelar berangkat dari kegiatan pengabdian masyarakat.
“Tujuannya untuk belajar dari jaringan kampung. Bagi kami jaringan ini sangat penting karena memberikan jembatan untuk membangun kembali apa yang tergusur dari kampung. Ini kan sesuai dengan jargon membangun Indonesia dari desa,” katanya.
Menurutnya, kampung merupakan perwujudan Indonesia yang sebenarnya dengan mengusung semangat gotong royong.
“Ini langkah awal untuk membangun pengetahuan bersama dan semua aspek bisa dimanfaatkan. Mengapa kampung? karena kami melihat suatu ruang yang justru kita bisa belajar banyak. Kalau kota kan sudah terbelah -belah dengan agama, politi. Kampung justru mengkoreksi itu dengan semangat gotong royongnya,” terang Profesor Melani.
Perwakilan komunitas Jaringan Kampung Nusantara, Bahtiar Djanan juga mengatakan di era globalisasi ini, permasalahan di kampung semakin pelik.
“Permasalahan tiap daerah berbeda-beda cuma kalo dikerucutkan itu ya SDM, dan seringkali orang-orang desa atau kampung tidak lagi bangga dengan identitasnya seperti anak muda urbanisasi karena tidak ingat lagi identitasnya. Tradisi di desa akhirnya tidak ada yang mewarisi dan akhirnya hilang,” katanya.
“Ekonomi salah satu pemicu tapi yang utama mereka tidak merasa produktif di desa. Makanya program kita kebanyakan meningkatkan potensi desa untuk mengembalikan ini semua,” tambah Bahtiar.(mia)