DepokNews – Universitas Indonesia kembali mengukuhkan dua Profesor atas nama Prof. Dr. drg. Ellyza Herda, M.Si yang merupakan Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Gigi UI dengan kepakaran bidang Ilmu Material Kedokteran Gigi dan Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, MPH yang merupakan Guru Besar Tetap Fakultas Kesehatan Masyarakat UI dengan kepakaran Gizi Kesehatan Masyarakat.

Upacara pengukuhan dilaksanakan di Balai Sidang UI, kampus Depok dipimpin langsung Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met.

Prof. Ellyza menyampaikan berdasarkan hasil Riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi karies di Indonesia rata-rata adalah 88,8%. Untuk itu, diperlukan program pencegahan karies gigi. Namun apabila karies telah terjadi diperlukan tindakan pembuatan restorasi gigi.

“Sampai saat ini, Resin komposit merupakan material restorasi gigi yang memberikan sifat estetik terbaik dan sifat mekanik yang tinggi dibandingkan restorasi direk sewarna gigi lainnya, “ujarnya. Kamis (7/11/2019).

Pemakaian Resin komposit sebagai material restorasi gigi semakin luas demikian pula indikasi pemakaiannnya. Namun lamanya restorasi bertahan di dalam mulut dapat berkurang karena berkembangnya lesikaries baru (karies sekunder) pada interface gigi-restorasi atau terjadi frakturmaterial.

Menurutnya tingkat keterampilan profesional dan kesadaran pasien tentang diet yang baik dan kesehatan gigi dan mulut juga menentukan suksesnya restorasi gigi. Pengalaman klinis menunjukkan bahwa meningkatkan daya tahan Resin komposit terhadap fraktur maupun melibatkan mekanisme proteksi untuk mengurangi resiko berkembangnya karies sangat penting untuk memperpanjang umur restorasi.

Usaha untuk mengatasi kekurangan Resin Komposit seperti prosedur penambalan yang bertahap, polymerization shrinkage, marginal gap dan karies sekunder terus dilakukan sampai saat ini.

Pengembangan Self-adhesive restorative composite, Remineralizing composite dan Antibacterialresin composite memberikan harapan untuk menjadi resin komposit masa depan sebagai material restorasi gigi dengan sifat fisik, mekanik, kimia, biologi serta bioaktif yang memenuhi standar.

“Untuk itu, diperlukan riset transdisciplinary yang harus terus dikembangkan dengan melibatkan berbagai pakar keilmuan terkait, “jelasnya.

Sementara itu, Prof. Sandra menyampaikan pidato masalah kurang gizi, khususnya stunting, telah ditetapkan sebagai masalah nasional dan pencegahannya menjadi prioritas nasional.

” WHO menyebutkan bahwa stunting dimulai pada 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK) dan terkait dengan banyak faktor, termasuk status lingkungan, sosial ekonomi, infeksi, penyakit menular, defisiensi mikronutrien, asupan makanan, dan status gizi ibu, “ujarnya

Prof. Sandra menyoroti Intervensi Gerakan Nasional 1000 HPK berupa promosi menyusui kepada kelompok laktasi yang hanya berupa konseling individu dan kelompok.” Intervensi ini kurang jika dibandingkan dengan kelompok lainnya,”katanya.

Selain itu dalam upaya pencegahan stunting yang komprehensif, maka diperlukan pula optimalisasi gizi ibu laktasi guna mencegah mulai terjadinya stunting di periode bayi 0-6 bulan. Saat ini promosi ASI eksklusif 6 bulan sangat gencar dilakukan oleh pemerintah dan oleh banyak organisasi nonprofit tetapi tidak demikian halnya dengan promosi konsumsi gizi untuk ibu laktasi.

“Selama ini, status gizi ibu laktasi masih sangat kurang diperhatikan, sedangkan hal tersebut tidak boleh diabaikan dan perlu mendapat perhatian utama.”tuturnya.