DepokNews, Depok – Universitas Indonesia (UI) melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2020, berhasil menghadirkan air tanah artesis bagi masyarakat Desa Citayam, Tajur Halang Bogor Jawa Barat khususnya warga Pesantren Quran Daarut Tajwid dan sekitarnya.

                “Alhamdulillah ketersediaan air bersih insyaAllah tidak lagi menjadi kendala bagi masyarakat dan warga pesantren”, kata ketua tim geofisika UI, Dr. Syamsu Rosid, Selasa 29 Desember 2020.

                Air tanah artesis yang berasal dari lapisan akifer tertekan berhasil ditemukan, dibor, dan dipersembahkan kepada masyarakat Tajur Halang. Air tanah yang jernih dan segar dengan debit sekitar 2.500 liter per jam telah memancar dari dalam sumur bor di daerah tersebut.

                Upaya pengadaan air tanah artesis ini berawal dari adanya kebutuhan konsumsi air bersih dalam jumlah besar dari Pesantren Quran Daarut Tajwid yang jumlah santrinya diperkirakan mencapai seribu lebih. Santri Quran ini merupakan siswa pada jenjang sekolah SMP ditambah dengan orang-orang dewasa yang mau belajar Al-Quran.

                Lapisan akifer tertekan di daerah ini tidaklah terlalu dalam. Air artesis ini mulai memancar keluar sejak pengeboran sumur menembus lapisan batuan di kedalaman 30 m. Pembuatan sumur bor dihentikan pada saat sudah mencapai kedalaman sekitar 42 m.

                Secara hidrogeologi, lapisan batuan lempung dari Formasi Bojongmanik dari Selatan terangkat ke permukaan di daerah Tajur Halang ini dan menurun lagi ke Utara menuju Jakarta. Dengan demikian lapisan akifer tertekan yang menghasilkan air tanah artesis ini berada tidak terlalu dalam.

                Survey geolistrik tahanan jenis telah dilakukan dengan konfigurasi Wenner-Schlumberger untuk mencari keberadaan lapisan akifer tertekan di bawah permukaan. Data geolistrik diukur pada 2 lintasan yang berbeda masing-masing sepanjang 510 m dan 310 m dengan jarak antar elektrodanya sebesar 10 m.

                Dari data geolistrik teridentifikasi adanya cekungan air tanah (CAT) pada kedalaman sekitar 50 m. CAT ini terhampar tepat diatasnya lapisan konduktif lempung dari Formasi Bojongmanik yang sangat tebal. Ketebalan formasi ini belum terdeteksi batas bawahnya oleh hasil pengukuran geolistrik yang penetrasinya telah mencapai kedalaman 120 m. Para ahli air tanah sepakat bahwa lapisan Bojongmanik ini ini tidak baik untuk menjadi lapisan akifer karena dominasi batuan lempung yang bersifat impermiabel (sulit dilewati air).

                Proses pengeboran sumur artesis telah dilakukan. Prosesnya cukup lama, memakan waktu 10 hari dari rencana 5 hari, padahal target kedalamannya sudah berkurang dari 60 m menjadi akhirnya hanya 42 m. Lamanya proses pengeboran ini disebabkan karena mata bor bertemu batuan keras boulder sejak kedalaman 7 m hingga hampir 25 m. Batuan beku basalt dan andesit ini memang sudah ditengarai oleh data geologi bahwa lapisan alluvial yang berpotensi menjadi lapisan akifer ini mengandung boulder batuan meskipun dominannya adalah lapisan pasir.

                Ibarat pepatah “sesudah kesulitan ada kemudahan”, sejak kedalaman 27 m didapatkan lapisan air tanah tertekan yang memancarkan air jernih ke permukaan. Lapisan air tanah tertekan ini rupanya berada pada lapisan batuan konglomerat yang tebalnya hingga kedalaman 36 m. Di bawah lapisan ini terdapat lapisan pasir lanau hingga kedalaman 39 m dan mulai berkurang debit airnya. Dan makin kebawah lagi makin dijumpai lapisan lempung dari Formasi Bojongmanik. Lapisan lempung ini sudah kedap air dan tidak berisi air, sehingga proses pengeboran dihentikan pada kedalaman sekitar 42 m.