DepokNews- Kewaspadaan Negara terhadap ancaman perang nuklir yang diluncurkan Korea Utara harus ditingkatkan. Mengingat, eskalasi situasi di Semenanjung Korea saat ini terus meningkat. Hal ini membuka kemungkinan terjadinya konfrontasi dengan skala yang serius, terutama dengan keberadaan senjata nuklir sebagai salah satu instrumen konflik.
Korea Utara, di satu sisi, merupakan negara yang berkonsentrasi pada keselamatan rezim dan negaranya. Sebagai negara yang terkucil secara diplomatis, maka nuklir dipilih Korut untuk mencegah dan menggetarkan negara-negara lain yang menginginkan kejatuhan rezimnya. Bahkan sejak Donald Trump menjabat sebagai Presiden, Amerika Serikat secara penuh melakukan konfrontasi terhadap tindak-tanduk yang dilakukan oleh rezim Kim Jong-Un. Atas krisis tersebut, maka Indonesia haruslah berperan dalam menciptakan perdamaian dunia.
Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan (Unhan) Laksamana Muda TNI Amarulla Octavian mengatakan, krisis di Semenanjung Korea tentu berdampak pada Indonesia. Dalam tataran era globalisasi ini maka apa yang terjadi di suatu wilayah tentu berdampak dan mempengaruhi Indonesia. Jika pada skenario terburuk nantinya terjadi peluncuran rudal dan terjadi perang tentu Indonesia juga akan terkena dampaknya.
“Contohnya sekarang diluncurkan ke Jepang,tapi bisa juga kearah selatan. Kalau misal nanti terjadi kesalahan perhitungan maka ada kemungkinan senjata itu jatuh di wilayah Indonesia. Lalu bagaimana Indonesia mengantisipasi kemungkinan terburuk itu? Disinilah TNI sebagai salah satu komponen yang harus menjaga keselamatan Indonesia,” kata Octavian dalam Seminar Nasional bertajuk Diplomasi Pertahanan Republik Indonesia Menanggapi Krisis di Semenanjung Korea di Auditorium Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Depok.
Dalam hal ini kata dia TNI memiliki tanggungjawab dalam melaksanakan pertahanan anti rudal yang kemungkinan diluncurkan oleh Korut. Kesiapan yang dimiliki TNI sendiri antara lain saat ini telah dibentuk Komando Pertahanan Udara Nasional. Pasukan itu dilatih untuk bagaimana menghadapi konsep serangan udara konvensional jika dilakukan oleh pesawat udara oleh musuh. Di sisi lain, pasukan juga tidak boleh lengah akan ancaman rudal yang sewaktu-waktu bisa diluncurkan Korut.
“Sekarang mau tidak mau karena krisis di Semenanjung Korea maka kita harus bisa menghadapi serangan dari rudal. Ini sangat berbeda dengan serangan pesawat udara,” tukasnya.
Serangan rudal kata dia bisa lebih cepat dari serangan pesawat udara. Bahkan daya ledaknya juga lebih tinggi dibanding serangan udara.  Serangan rudal juga bisa meledak dimana saja.
“Makanya disebut sebagai senjata non konvensional. Ini yang harus menjadi perhatian masyarakat Indonesia seluruhnya,” paparnya.
Atas krisis tersebut, pihaknya bersama UI merasa perlu untuk mendiskusikan persoalan ini. Sehingga dapat dihasilkan rekomendasi dan usulan yang mampu membawa pada perdamaian dunia dan Indonesis khususnya.
“Disini kita ingin mendapatkan masukan apa yang seharusnya dilakukan Indonesia. Tadi ada masukan untuk mengirimkan utusan khusus misalnya militer untuk menjadi delegasi,” katanya.
Utusan itu bisa menjadi delegasi khusus yang nantinya bisa menyampaikan pada dunia perihal spekulasi seputar nuklir di Korut. Menurutnya, hubungan yang baik antar militer merupakan peluang pelaksanaan kerjasama. Jika memang. Utusan khusus delegasi TNI diizinkan masuk ke Korut dan melihat fasilitas disana maka tentunya akan bisa menjawab keraguan mengenai nuklir di Korut.
“Apa benar kalau punya senjata nuklir itu mau digunakan untuk mengancam atau tidak? Atau cuma ditujukan pada Amerika saja? Itu pertanyaan yang harus dijawab untuk memberikan penjelasan pada rakyat,” katanya.
Octavian menjelaskan pentingnya dialog bersama dalam mengatasi krisis ini. Bahkan dirinya juga berharap agar Korut bersedia membuka dialog kembali dalam forum Six Party Talks. Seperti diketahui forum tersebut terhenti sejak tahun 2009.
“Dalam hubungan internasional, putusnya komunikasi itu berbahaya. Ini pentingnya supaya Korut mau duduk bersama untuk dialog kembali,” harapnya.
Menghadapi ancaman nuklir tersebut maka Indonesia pun harus mempersiapkan diri dari segala kemungkinan, termasuk memperkuat alutsista. Sejauh ini secara teknis yang dilakukan adalah merancang pertahanan jauh diluarZTE atau laut internasional. Pesawat TNI AU milik Indonesia sudah disiapkan untuk menghadang datangnya rudal yang bisa mengancam Indonesia. Usaha yang dilakukan adalah mencegah terjadinya ledakan agar tidak dirasakan di kawasan Indonesia.
“Kalau memang harus ada resiko seperti itu maka TNI harus punya konsep untuk mengajak masyarakat berlindung. Melakukan latihan untuk menghadapi bencana nuklir,” paparnya.
Efek ledakan nuklir yang dahsyat diketahui bisa menghancurkan investasi yang telah dibangun pemerintah. Oleh karenanya sangat dirasa perlu menambah anggaran alutsista untuk menghadapi ancaman tersebut. Diperkirakan penambahan anggaran hanya sekitar 1,5persen saja.
Harapannya bisa ditambahkan anggaran untuk kearah sana (menghadapi ancaman nuklir). Saat ini belum diperhitungkan skenario menghadapi perang nuklir. Bagaimana sebetulnya negara menyelamatkan uang dan kemudian dialokasikan untuk pertahanan itu sangat penting. Seberapapun mahalnya pertahanan tersebut tetap harus kita miliki,” tegasnya.
Jika tidak dilakukan maka kemungkinan terburuk bisa saja terjadi. Investasi yang sudah dibangun saat ini pun bisa dengan cepat rusak jika serangan nuklir dilakukan Korut.
“Kalau misalnya meluncur dari Korut maka kita cuma punya waktu 16 menit untuk berlindung. Itu dari kalkulasi kita. Begitu dengar (peluncuran nuklir) maka harus segera bertindak apa yang harus dilakukan. Begitu. Ada info sudah meluncur rudal itu dan apakah arahnya ke Amerika atau kemana kita tidak pernah tahu,” tutupnya.(mia)