DepokNews – Dalam Reses Masa Persidangan V Tahun Sidang 2019-2020, Anggota DPR RI Fraksi PKS Hj. Nur Azizah Tamhid, B.A., M.A mendatangi Polres Metro Depok, Senin (19/10), guna lakukan diskusi intensif dan serap aspirasi terkait kasus kriminalitas anak di Depok yang tinggi. Nur Azizah menemukan bahwa permasalahan kenakalan remaja dan tawuran sudah semakin anarkis hingga pelaku berani melukai fisik bahkan hingga menghilangkan nyawa. Hal ini jelas sudah mengarah ke arah kriminalitas. Tawuran banyak didominasi oleh pelajar dan non pelajar. Salain itu, semakin banyak juga anak-anak putus sekolah yang terlibat. “Artinya, dengan banyaknya pelaku kriminal anak, berarti terdapat kelalaian baik dari orangtua maupun sekolah dalam pengasuhan serta pengawasan anak-anak tersebut”, jelas Nur Azizah.

Kapolres Metro Depok Kombes Azis Andriansyah menyampaikan, bahwa setiap kali ada aksi demonstrasi di Jakarta, Kota Depok menjadi pengirim peserta unjuk rasa anak-anak terbesar, peserta didominasi oleh anak-anak SD dan SMP, “Tidak jarang dalam aksinya mereka menyamar menggunakan seragam SMA atau ikut-ikutan menyusup dalam rombongan peserta unjuk rasa, dan ikut terprovokasi melakukan tindakan-tindakan anarkis. Setiap melakukan aksi mereka tidak memasang ‘badge di seragam sekolah, agar orang-orang tidak mengetahui identitas mereka”, jelas Azis.

Selain itu, berdasarkan laporan Kapolsek Pancoran Mas Kompol Triharijadi, anak-anak dan remaja di Depok menjadi langganan peserta tawuran antar sekolah. “Biasanya dalam satu pekan tawuran ini terjadi dua kali, mereka biasanya sudah janjian melalui media sosial, tawuran dipicu karena masalah-masalah sepele, khususnya di kawasan Pancoran Mas. Untuk mengantisipasi hal tersebut setiap jam-jam tertentu yakni di waktu setelah magrib, isya, dan subuh, kami turunkan 3 personel untuk patroli mengawasi dan menertibkan anak-anak tesebut”, jelas Triharijadi.

Karena seringnya tawuran yang berujung pada tindak kriminalitas, Azis melakukan tindakan tegas, untuk memberikan efek jera kepada anak-anak. “Jika biasanya kami lakukan proses peradilan anak, dan memanggil orangtua mereka. Kini karena kami temukan pelaku kriminal ini cenderung dilakukan oleh orang-rang yang sama, sehingga kami ambil tindakan tegas untuk langsung memasukannya ke dalam sel, setelah itu baru kami panggil orangtua mereka dan menyuruh para pelaku ini sungkem dan meminta maaf kepada orangtuanya, lalu kami secara rutin memberitakan kejadian tersebut di media. Ini dilakukan untuk memberikan efek jera. Alhamdulillah dengan tindakan tegas itu, kami mampu menekan angka tawuran, hanya terjadi sekitar dua kali dalam sebulan”, jelas Azis.

Meskipun demikian Azis menyadari, tindakan tegasnya ini banyak menuai kritik dari masyarakat karena dinilai tidak selayaknya dilakukan kepada anak-anak dan remaja. Azis menegaskan, bahwa tindakan ini dilakukan bukan atas dasar semena-mena, tapi karena tidak adanya tindakan kooperatif pihak-pihak terkait seperti instansi pendidikan, Komnas perlindungan anak, serta orangtua untuk dapat bekerjasama melakukan pengawasan dan pembinaan lebih lanjut guna mengatasi problematika ini. “Faktanya di lapangan, kami terus saja menemukan pelaku yang sama, artinya tidak ada pembinaan yang dilakukan pihak-pihak terkait setelah anak-anak itu kami proses secara hukum peradilan anak, sehingga banyak dari pelaku terus mengulangi kesalahan yang sama”, tegas Azis.

Menaggapi fenomena tersebut Nur Azizah mengapresiasi Kapolres Metro Depok karena sudah mampu menekan angka tawuran dan kriminalitas anak di Depok. “Terimakasih, Pak Kapolres sudah menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Sesuai tupoksi kepolisian untuk melindungi, mengayomi, melayani dan menegakan hukum. Saya setuju bahwa harus ada tindak lanjut dari instansi-instansi terkait untuk secara kooperatif memperhatikan fenomena ini dan bersama sama dengan kepolisian mencarikan solusinya. Saya akan serap aspirasi ini dan menyampaikan kepada dinas pendidikan Kota Depok agar segera dilakukan tindakan lanjutan” tutur Nur Azizah.

Nur Azizah menambahkan bahwa kenakalan remaja ini berawal dari rendahnya komitmen dalam menjaga ketahanan keluarga sebagai unit terkecil dalam pengasuhan dan pengawasan anak. “Terdapat faktor-faktor yang melemahkan ketahanan keluarga, selain komitmen yang rendah, gaya hidup permisif juga dianggap menjadi hal yang biasa, kemudian adanya arus invasi pemikiran negatif yang tidak di antisipasi, lemahnya pembinaan keluarga serta tidak adanya komunikasi yang efektif antara suami istri dan anak-anaknya”, pungkas Nur Azizah.