DepokNews–Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia (Pengmas UI) yang terdiri atas dosen dan mahasiswa Fakultas Psikologi menggelar psikoedukasi “AKU PEDULI” yang merupakan singkatan dari anak berkebutuhan khusus dan pendidikan inklusif.

Program Psikoedukasi ini diberikan kepada orang tua anak reguler (yang tidak memiliki kebutuhan khusus) di salah satu TK Inklusif di Cipete.

Program pengabdian masyarakat yang diketuai Farida Kurniawati, Psikolog (Dosen fakultas Psikologi UI) ini dilakukan sebagai upaya dalam meningkatkan pengetahuan orang tua anak reguler di TK Inklusif tentang anak berkebutuhan khusus dan pendidikan inklusif.

Pengetahuan tersebut diharapkan dapat membangun kesadaran serta mendorong keterlibatan orang tua anak reguler di sekolah inklusif.

Farida mengatakan program ini juga merupakan bentuk dukungan UI dalam menyukseskan implementasi pendidikan inklusif sejak usia dini.

Pendidikan inklusif merupakan sistem pendidikan yang memberikan kesempatan bagi siswa yang berkebutuhan khusus untuk belajar bersama dengan anak reguler dalam satu lingkungan belajar yang sama.

Program psikoedukasi “AKU PEDULI” diberikan melalui kegiatan ceramah disertai diskusi dan didukung dengan media psikoedukasi berupa booklet, leaflet, dan penayangan video animasi.

Ketiga media psikoedukasi tersebut berisi informasi untuk meningkatkan pengetahuan tentang anak berkebutuhan khusus dan pendidikan inklusif pada orang tua anak reguler di TK Inklusif.

Keunggulan dari penggunaan media pendukung seperti booklet,leaflet dan video animasi dalam program psikoedukasi “AKU PEDULI” dapat dengan mudah direplikasi pihak sekolah dalam mensosialisasikan program pendidikan inklusif di tingkat TK.

“Program ini kami harapkan dapat menjadi solusi bagi TK Inklusif di Indonesia dalam menyediakan akses informasi yang komprehensif tentang anak berkebutuhan khusus dan pendidikan inklusif kepada orang tua”katanya.

Serta menumbuhkan kesadaran orang tua dalam menyukseskan implementasi pendidikan inklusif di tingkat TK.

Program ini juga mendorong orang tua untuk membuat action plan yang menghasilkan rencana keterlibatan orang tua dalam pendidikan inklusif pada 3 hal yakni keterlibatan dalam pembelajaran di rumah, volunteer, dan komunikasi.

Ketiga rencana keterlibatan tersebut meliputi pembelajaran di rumah yakni membantu anak untuk memahami temannya yang memiliki kebutuhan khusus dengan kegiatan telling story.

Volunteer yakni orang tua menjadi panitia kegiatan di sekolah dan komunikasi dengan menjalin komunikasi dan memberikan dukungan kepada orang tua anak berkebutuhan khusus.