DepokNews– Tim pengembangan pengabdian kepada masyarakat (Pengmas) Universitas Gunadarma melakukan bincang Virtual dengan pelaku UMKM di Kota Depok, Ngasti.

Acara tersebut dipandu oleh Dr Prihandoko, dan dihadiri juga oleh Dr. Sigit Widiyanto, dan Dr. Dyah Mieta Setyawati yang mendampingi langsung Ibu Ngasti.

Diketahui Ngasti merupakan pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang selama pandemi ia terpaksa harus bekerja di rumah.
Pada kesempatan tersebut, Ngasti mengaku usaha yang dilakoninya ini awalnya untuk menghilangkan kebosanan karena seharian di rumah, ia melakukan kreasi membuat karya untuk menambah pundi-pundi uang dikeluarga.

“Awalnya hanya sekedar hobi. Ketika itu ada senior memerintah saya membuat kreasi tangan, disitulah mulai aktif membuat tas, gelang dan bunga. Tas saya bikin dari limbah kulit kopi sasetan,” katanya saat bincang UMKM bersama tiga akademisi Gunadarma. Sabtu (24/10/2020).

Selain itu Ngasti mengatakan, selama masa Pandemi dirinya membuat spesifik tas dengan media jarring.

“Saya membuat dari media jarring. Saya membuat rajut ini. Saya tutup dengan benang sudah banyak membuat,” katanya.

Meski demikian, Ngasti mengaku sangat terkendala dengan sulitnya untuk memasarkan hasil karyanya di Kota Depok.

“Selama ini tidak mendapat bantuan, saya tidak mau repot saya nggak mau berpikir uang jajan saya modal ini,” katanya.

Tidak hanya itu, selama Pandemi Covid-19 Ngasti mengatakan dirinya juga memproduksi masker dan souvernir pernikahan dalam jumlah besar.

“Saya juga produksi masker tali penghubung masker saya lagi buat dari bulan juni sampai 1500 pcs tali masker,” katanya.

Ngasti menjelaskan, masker hasil karyanya pertama kali ia pasarkan ke RS Gatot Soebroto di Jakarta.

“Pertama pemasaran di RS Garot Subroto sebanyak 100 pcs dan saya kerja sendiri awalnya. Akhir-akhir ini juga bikin souvenir pernikahan dipasarkan oleh ponakan saya lewat online,” pungkasnya.

Dirinya menuturkan, dalam satu hari ia bisa memproduksi sebanyak 20 tali penghubung masker. Sedangkan untuk tas ukuran kecil dan besar dibutuhkan waktu pengerjaan selama seminggu.

“Untuk tas kecil pembuatannya seminggu, kalo tas yang agak besar seminggu lebih, kalo tali penghubung masker sehari bisa 20,” ungkapnya.

Dikatakan Ngasti, untuk membuat kerajinan tangan bukan perkara mudah. Ia harus membuat perhitungan yang tepat. Jika salah sedikit, maka hasilnya tidak simetris. Namun Ngasti mengaku tertantang dengan hal itu.

“Ini yang membuat asik menurut saya, karena tantangan untuk menghitung itu, saya suka tantangan bikin tidak mudah pikun,” ujarnya.

Terakhir, Ngasti berpesan kepada para pemula yang ingin berkecimpung di dunia UMKM khususnya kerajinan tangan, diperlukan passion dan keinginan kuat untuk bisa menghasilkan produk yang bernilai dan bermutu.

“Harus hobi dan punya kemauan untuk maju serta menambah kreasi, karena kalo tidak hobi biasanya berhenti ditengah jalan. Kalo hobi tetapi tidak punya kemauan yang kuat juga tidak bisa,” pungkasnya.