Penembakan (Ilustrasi)
DepokNews- Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Ferdinand Andi Lolo mengatakan, tes psikologi terhadap para pemegang senjata khususnya aparat penegak hukum harus lebih diperketat lagi. Dari segi aspek tingkatan emosi pemegangnya harus dilihat lebih dalam apakah yang bersangkutan memiliki kecakapan menguasai emosi yang lihai atau tidak.
“Yang terjadi saat ini belum bisa tes yang dilakukan itu lantas disebut gagal. Karena gambaran besarnya tes itu efektif. Mengapa? Karena kejadian ini tidak terjadi tiap hari dan ini insiden,” katanya.
Hal kedua, kata dia setelah pemiliknya dilihat soal tingkat emosinya maka selanjutnya dilihat tingkat kecakapan menguasai situasi sulit. Apakah yang bersangkutan akan memilih menggunakan senjata ketika dihadapkan pada situasi sulit atau dia memilih cara lain untuk bebas dari situasi sulit tersebut.
“Dari hasil tes soal tingkat mengatasi situasi sulit akan terlihat apakah cenderung menggunakan senjata atau memilih menghindari menggunakan senjata,” tukasnya.
Senjata memiliki dua sisi mata pisau. Jika pemegangnya tidak cakap mengendalikan emosi dan mengatasi situasi sulit, bisa jadi pemegangnya cenderung menggunakan senjata sebagai jalan keluar.
“Orang yang memegang senjata cenderung memiliki keberanian lebih,” paparnya.
Dengan demikian, secara kejiwaan maka pemegangnya harus betul-betul mampu menguasi emosi dan situasi. Tes kejiwaan pun dilakukan secara berkala untuk mengetahui perkembangan emosi pemegang senjata.
“Indikator tes perlu ditingkatkan. Kemudian dilakukan evaluasi dari indikator sebelumnya,” pungkasnya.(mia)