Oleh : Wafa Azimah

Saat ini memang tidak dapat dipungkiri tren perkembangan teknologi yang sedemikian canggihnya memberi pengaruh besar terhadap segala aspek kehidupan. Setiap tahun di seluruh belahan dunia selalu diwarnai dengan munculnya berbagai teknologi mutakhir yang membantu dan memudahkan segala pekerjaan manusia. Yups, Revolusi Industri 4.0 sudah di depan mata. Revolusi industri 4.0 secara umum diketahui sebagai perubahan cara kerja yang menitikberatkan pada pengelolaan data, sistem kerja industri melalui kemajuan teknologi, komunikasi dan peningkatan efisiensi kerja yang berkaitan dengan interaksi manusia.

Meski Revolusi Industri 4.0 dapat menjamin beragam kebutuhan manusia terpenuhi dengan cepat dan efisien, keberadaan manusia sebagai fasilitator atau jasa manusia yang kita sebut sebagai suatu profesi mulai tergeser karena kemudahan teknologi yang sangat praktis tersebut seperti robot atau semacamnya. Namun, dampak dan risiko yang mungkin terjadi juga tidak bisa disepelekan. Tidak hanya itu, dalam dunia pendidikan hal tersebut dapat menjadi tantangan besar bagi para pendidik.

Kini tak heran lagi melihat suatu pembelajaran, siswa dapat menggunakan berbagai perangkat teknologi di ruang kelas. Bahkan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan hanya dengan duduk manis lalu ketik pertanyaan yang dicari di dalam kolom kotak ajaib (mbah google) dan “simsalabim adakadabra!”, segala informasi yang dibutuhkan akan keluar tanpa harus mereka bersusah payah karena kemajuan tersebut dapat membuka ruang kelas ke dunia luar dan dapat memaikan peran baru di ruang kelas. Hal ini juga merupakan bentuk revolusi generasi keempat, kita kenal dengan Internet of things, sebuah konsep dimana suatu objek yang memiliki kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan tanpa memerlukan interaksi manusia ke manusia atau manusia ke komputer.

Lebih dari itu, jika kita telusuri sistem kurikulum pendidikan di Indonesia bahkan memberi fokus utama pembelajaran pada siswa yang dituntut harus mampu berlaku mandiri dengan megandalkan berbagai sumber yang ada. Bahkan adanya kelas tanpa tatap muka seperti daring atau virtual, atau bahkan rancangan teknologi seperti hollogram yang memungkinkan siswa belajar dengan begitu mudahnya. Sedikit demi sedikit peran guru di dalam kelas semakin berkurang. Hasil riset yang dilakukan Dell Technologies dan Institute for the Future(IFTF) melihat dampak dan memprediksi bahwa manusia dan mesin akan bekerjasama lebih erat lagi dan mengubah kehidupan manusia lebih besar dibandingkan yang pernah ada sebelumya.

Di samping itu banyak guru yang enggan menggunakan dan mempelajari lebih dalam mengenai perkembangan teknologi khususnya komputer dan internet. Hannafin dan Savenye menemukan beberapa alasan seperti rasa kekhawatiran mereka kehilangan kewenangan di ruang kelas dan menigkatnya waktu dan upaya yang dibutuhkan untuk mempelajari teknologi. Lantas apakah seorang guru masih dibutuhkan?

Sementara perkembangan teknologi yang sangat pesat ini mampu mengambil alih semua jenis pekerjaan. Namun demikian, tugas utama seorang pendidik atau guru ialah menjadi fasilitator yang dapat melayani segala kebutuhan siswa. Manakala pembelajaran bergeser sehingga guru tidak menjadi satu-satunya sumber yang bersifat otoritas, guru tetap dapat menjadi mentor atau pembimbing yang mengarahkan siswa serta motivator atau “orang bijak di panggung”. Meskipun hal ini masih menjadi tugas besar bagi pendidik, pemerintah maupun masyarakat luas. Pendidik atau guru harus mampu beradaptasi terhadap perkembangan teknologi yang ada saat ini, menyesuaikan diri, terus mengolah dan mengasah kemampuan yang dimilikinya, bersikap kreatif, inovatif dan transformatif, serta memiliki minat baca yang tinggi.

Sumber:

https://idcloudhost.com/mari-mengenal-apa-itu-internet-thing-iot/

https://www.liputan6.com/news/read/3654305/revolusi-industri-40-segera-datang-ini-persiapan-yang-harus-dilakukan

https://geotimes.co.id/opini/mau-dibawa-kemana-revolusi-industri-4-0-kita/

https://www.quipper.com/id/blog/quipper-campus/campus-info/revolusi-industri-4-0/

 

Tentang Penulis:

Wafa Azimah adalah mahasiswi Semester 5 Jurusan Pendidikan Matematika pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sultan Agung Tirtayasa (Untirta) Serang Banten