Oleh : Sri Mulyani

Berkata Imam Ghazali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan berbagai macam perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Sedangkan menurut salah satu pahlawan Pendidikan kita di Indonesia, akhlak adalah segala soal kebaikan dan keburukan di dalam hidup manusia pada umumnya, khususnya yang mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang berupa pertimbangan dan perasaan, sampai mengenai aplikasinya yang berupa sebuah perbuatan.

Akhlak merupakan hal penting dalam hidup kita sebagai manusia untuk berhubungan social, maupun hubungan dengan Rabb dan seluruh ciptaan-Nya. Tanpa akhlak yang baik, maka muamalah pun tak akan menjadi baik.

Akhlak sendiri berasal dari Bahasa arab yaitu jama’ dari “Khuluqun“ ( خُلُقٌ) yang menurut lughat diartikan adat kebiasaan, perangai, tabi’at, watak, adab/sopan santun, dan agama. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan “Khalqun“ ( خَلْقٌ ) yang berarti kejadian, serta erat hubungannya dengan “Khaliq” ( خاَلِقٌ ) yang berarti pencipta dan “makhluq“ ( مَخْلُوْقٌ ) yang berarti yang di ciptakan dan dari sinilah asal mula perumusan ilmu akhlak yang merupakan koleksi ugeran yang memungkinkan timbulnya hubungan yang baik antara Makhluk dengan Khaliq dan antara Makhluk dengan makhluk.

Rasulullah saw.  bersabda “Sesungguhnya aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak yang baik” (H.R Abu Hurairah).

Lalu jika Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak, bagaimana dengan ibadah? Apakah akhlak lebih utama dari ibadah? Maka tentu saja jawabannya ya, akhlak lebih penting. Karena tujuan utama ibadah adalah membenahi akhlak.

Misalnya saja dalam shalat, Allah SWT. berfirman, “Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat mencegahmu dari perbuatan keji dan mungkar”. Maka barang siapa yang shalat tapi tidak merubah akhlaknya menjadi baik, shalatnya hanyalah perbuatan yang sia-sia karena orang yang akhlaknya baik tidak akan melakukan perbuatan keji dan mungkar.

Selanjutnya jika akhlak lebih utama dari ibadah, apa kita dapat meninggalkannya? Tentu tidak seperti itu, sebab ibadah pun merupakan bentuk akhlak baik kita sebagai hamba terhadap Allah yang memerintahkannya.

Allah SWT. berfirman “kami tidak mengutusmu (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta”. (Q.S Al-Anbiya : 107)

Lalu apa hubungannya firman Allah tersebut dengan sabda Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia? Mengapa keduanya berbeda? Lalu apa korelasi antara keduanya?

Kemudian, apabila kejahatan, kecurangan, dan perbuatan keji lainnya merajalela dalam suatu tempat, apakah tempat tersebut akan diliputi oleh rahmat? Maka tentu saja tidak. Karena sejatinya tidak ada rahmat bagi semesta melainkan dengan akhlak.

Dan setelah berpanjang lebar, kesimpulan dari tulisan ini yaitu salah satu tujuan utama ibadah ialah memperbaiki akhlak, dan dengan akhlak yang baik maka hidup akan diliputi rahmat.

Wallahu a’lam bisshowab