DepokNews–Sejak awal Februari 2019, Code Margonda menginisiasi program bernama Ruang Publik Bersama (RPB), suatu program yang bertujuan untuk mendorong kesadaran para pemangku kepentingan kota untuk mewujudkan ruang publik yang bisa diakses oleh beragam golongan. Selain melibatkan belasan komunitas, kami di tim RPB juga mengamati hal-hal yang berkaitan dengan ruang publik di kota Depok, terlebih tentang taman publik.

Pembangunan taman-taman di kota Depok sedang digenjot. Hingga tahun 2021 kota Depok memiliki target memiliki satu taman terpadu di setiap kelurahan, yang artinya akan ada sekurangnya 63 taman kelurahan. Hingga awal 2019, sudah terselesaikan 30 taman, hingga akhir 2019 akan diselesaikan 15 taman, sisanya dibangun bertahap hingga 2021.

Disisi lain, kami melihat masih belum terberdayakannya taman publik sebagai fasilitas yang memang disediakan untuk warga kota. Ada beberapa yang kami lihat sebagai penyebab. Pertama, karena masih belum terkomunikasikannya taman-taman kota ini dengan baik kepada warga. Mereka yang ingin membuat acara komunitas di taman –taman ini juga tidak tau bagaimana prosedur meminjamnya. Kedua, taman-taman kota ini kondisinya memang tidak menarik dan tidak nyaman. Menjamurnya pedagang disekeliling taman, rusaknya fasilitas serta hadirnya juru parkir liar, membuat taman kota sulit menarik hati publik kota Depok.

Terkait inklusivitas, hanya sedikit taman publik di Depok yang bisa dimasuki dan dilalui oleh pengguna kursi roda, serta tidak semua taman punya kursi duduk yang ramah lansia. Untuk toilet, kami juga belum menemukan toiletnya bisa mengakomodir pengguna kursi roda. Arena bermain memang mudah ditemukan di taman publik, namun tidak sedikit yang kondisinya memprihatinkan. Seperti di Taman Jatijajar, dari lima ayunan yang tersedia, hanya satu yang bisa digunakan.

Melihat kondisi ini, kami di tim Ruang Publik Bersama mendorong kegiatan quick win dengan memfasilitasi komunitas-komunitas untuk membuat acara di ruang publik. Komunitas yang berkolaborasi di satu lokasi taman juga dibuat agar lintas bidang. Kami memilih taman karena inilah ruang publik yang dirasa egaliter, ruang publik yang seharusnya mudah diakses oleh beragam kalangan.

Dari akhir Juli hingga awal Agustus 2019, di setiap weekend, komunitas-komunitas ini menggelar acara di ruang publik. Selain anggota komunitasnya, mereka juga mengundang golongan-golongan lain yang umumnya termarginalkan dalam menikmati fasilitas ruang publik seperti komunitas difabel, anak-anak berkebutuhan khusus dan anak jalanan. Area ‘kolong’ jembatan GDC, Taman Jatijajar, Taman Tapos dan Taman Lembah Gurame menjadi saksi bahwa acara tersebut ramai, meriah, dan dihadiri oleh peserta dengan umlah yang melebihi ekspektasi.

Respon masyarakat seperti ini membuktikan asumsi kami bahwa publik Depok butuh akan konten-konten acara menarik, punya kemauan mengenal komunitas-komunitas baru, yang mana hal tersebut dilaksanakan di ruang publik. Quick win ini tentunya perlu ditindaklanjuti oleh segenap pemangku kepentingan kota untuk mewujudkan ruang publik yang lebih baik lagi, lebih inklusif dan nyaman untuk beragam golongan. Ini sejatinya harus diperjuangkan jika Depok ingin memposisikan dirinya sebagai ‘Friendly City’ alias kota yang bersahabat.

Untuk merayakan taman kota sebagai ruang publik kita bersama, maka sebagai acara pamungkas, kami mengajak segenap warga kota untuk hadir di acara “Taman Kota, Punya Kita” pada Sabtu, tanggal 24 Agustus 2019 di Taman Lembah Gurame. Sekurangnya 55 komunitas lintas bidang kami ajak untuk berpartisipasi hadir. Disini juga akan akan ada banyak games dengan hadiah, serta berlimpah suvenir bagi pengunjung yang hadir. Tidak ketinggalan, photobooth yang menarik juga disediakan. Kami mengundang publik kota Depok untuk hadir meramaikan dan melihat bagaimana ruang publik inklusif yang seharusnya, dengan sebelumnya melakukan registrasi gratis di tautan bit.ly/takoyaki-2019 untuk menghindari antrian panjang di meja pendaftaran. Sampai bertemu di lokasi!