foto: ilustrasi anak minum susu

Tak Bisa Dilakukan Sembarangan, Para Ibu Waspada Terhadap Donor ASI

Posted on 12 views
DepokNews — Kini kesadaran masyarakat dalam memberikan Air Susu Ibu (ASI) pada bayi mereka semakin meningkat. Hal tersebut menciptakan kebutuhan baru yaitu Donor ASI untuk bayi yang tidak bisa mendapatkan nutrisi berharga ini dari ibu mereka. Namun, banyak ibu yang tidak menyadari bahwa donor ASI tidak bisa dilakukan sembarangan.Diana Yunita Sari, ibu yang baru melahirkan sekitar 6 bulan lalu merasakan sendiri bagaimana mudahnya mendapatkan donor ASI. Diana melahirkan prematur di usia kehamilan 34 minggu dan ia sendiri harus langsung masuk ICU karena kondisi kesehatannya menurun.

“Pada saat itu ASI saya tidak langsung keluar, bahkan sampai dua hari payudara saya tidak bengkak seperti halnya ibu yang baru melahirkan. Setelah dibantu dua perawat untuk memompa ASI, hasilnya hanya 0,1 mili,” katanya.

Karena bayi laki-lakinya membutuhkan asupan nutrisi, keluarganya berinisiatif mencari donor ASI. Begitu diunggah di media sosial, tidak begitu lama tawaran ASI donor masuk melalui telepon genggam suaminya.

Pendonor menawarkan ASI lengkap dengan informasi mengenai jenis kelamin anak, usia anak, dan diet si ibu. Dokter perinatologi yang merawat bayi Diana sempat memberikan ASI dari donor tetapi mucnul reaksi bayi yang tidak diharapkan. Akhirnya ASI dari donor tidak jadi diberikan.

Pengalaman serupa juga dialami Pradiningrum Mijarto yang akrab disapa Dani. Ketika itu, di tahun 2014 ia mendadak menerima anugerah harus merawat keponakannya yang lahir prematur dan ibu kandungnya meninggal dua hari kemudian. Sebagai seorang lajang, Dani merasa kebingungan mengurus keponakannya yang harus masuk inkubator selama satu bulan.

“Saya bingung harus bagaimana, akhirnya teman menyarankan untuk mencari donor ASI lewat Twitter. Saya dapat donasi ASI dari seorang ibu di Tebet. Sampai usia 9 bulan keponakan saya itu mendapatkan ASI dari beberapa donor,” ujar Dani.

Di samping itu, minimnya informasi mengenai kebutuhan ASI di media sosial pada umumnya hanya mengungkapkan jenis kelamin bayi, agama, domisili, dan juga tentang pola makan dan gaya hidup ibu pendonor. Berbekal rasa percaya, ASI pun diberikan pada bayi-bayi yang memang membutuhkan.

Melihat fenomena tersebut, Ketua Satuan Tugas ASI dari Ikatan Dokter Anak Indonesia dr.Elizabeth Yohmi, Sp.A mengaku prihatin pemberian ASI dari donor tidak disertai dengan screening sama sekali.

Sebagai alternatif makanan bayi, ASI dari donor memang terbaik, karena paling bisa ditolerir oleh pencernaan bayi. Tetapi ada juga kerugiannya.

“Meskipun ASI itu adalah susu, tetapi ia sebenarnya adalah produk darah yang dapat mentransfer berbagai penyakit. Kasus yang paling sering ditemui adalah penularan virus CMV, hepatitis B dan C, dan  HTLV (virus pemicu leukemia dan limfoma),” jelas dr. Yohmi.

Ia mengungkapkan fakta seorang bayi di Surabaya yang lahir prematur dan mendapatkan donasi ASI. Beberapa bulan kemudian baru diketahui bayi itu tertular HIV yang berasal dari donasi ASI setelah kesehatannya terus menurun.

Yohmi melanjutkan, Badan Pencegahan dan Penularan Penyakit Amerika Serikat (CDC) tidak merekmondasikan ASI dari donor tanpa didahului screening atau penapisan. Hal itu tidak hanya dilakukan pada ASI saja tetapi ibu yang memproduksi ASI.

Penapisan dapat berupa pemeriksaan secara lisan (wawancara) atau tertulis dan dilanjutkan cek laboratorium.

“Pertanyaan meliputi apakah ibu menerima transfusi dalam 12 bulan terakhir, apakah minum alkohol, sedang minum obat hormonal, dan apakah vegetarian yang akan berdampak pada kualitas ASI,” ujar dokter anak dari RS. Carolus Jakarta ini.

Jika hasil penapisan ibu terbukti sehat, ia pun belum layak menjadi donor. ASI dari donor harus dipompa dan disimpan dengan cara yang benar bahkan di-pasturisasi. Pedoman WHO menyatakan sebelum diberikan, ASI harus dikultur dulu (ditanam di media untuk memantau pertumbuhan kuman).

Hasil penelitian tahun 2010 pada 1091 donasi ASI ditemukan sekitar 3,3 persen hasil skrining serologi menemukan kandungan virus sifilis, hepatitis B, hepatitis C,HTLV dan HIV. Dan penelitian penelitian lain, hasil penapisan pada 810 ASI yang belum dipasteurisasi, ditemukan pertumbuhan berbagai bakteri.

“Jadi tidak semudah itu memberikan ASI dari donor. Belum lagi bicara penyimpanan dan idealnya  pengiriman harus diperlakukan seperti darah. Yaitu disimpan dalam kotak pendingin khusus dan petugas pengelolaaannya menggunakan alat pelindung diri,” tambah Yohmi.

Saat ini hanya RSCM yang memiliki bank penyimpanan ASI cukup baik. Berbeda di luar negeri di mana Bank ASI sudah sangat terstruktur. Namun, ASI di tempat ini hanya dikhususkan untuk pasien yang dirawat di RSCM saja.

Bank ASI tidak hanya memastikan keamanan ASI tetapi menjamin kandungan zat gizi dalam ASI tetap terjaga.

Menurut Yohmi, ASI terbaik adalah ASI dari ibu ke anaknya sendiri karena tubuh ibu memproduksi ASI dengan komposisi menyesuaikan kondisi bayinya.

“ASI dari ibu yang bayinya lahir prematur hanya cocok untuk bayi yang lahir prematur, jadi ASI yang diproduksi memang menyesuaikan kondisi bayi,” katanya.