Pemukiman di Depok (istimewea)

Tahun 2045 Diprediksi Depok Jadi Kota Terpadat Penduduknya Setelah Jakarta

Posted on 23 views
DepokNews — Kota Depok akan menjadi kota terpadat penduduknya setelah Jakarta pada tahun 2045. Hal itu diutarakan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro. Dirinya menyatakan saat ini, kota dengan penduduk terpadat  setelah Jakarta ditempati oleh Surabaya, dengan jumlah penduduk 3,01 juta jiwa.”Itu dapat diramalkan dari melihat urbanisasi di wilayah Jabodetabek sangat luar biasa. Tahun 2045 diperkirakan penduduk Jakarta 14 juta jiwa, kedua (kota dengan penduduk terbanyak ada di) Depok,” kata Bambang, dalam acara Seresehan Untuk Negeri ‘Restructuring Our Cities’, di Universitas Indonesia, Depok, Kamis (5/10/2017).

Selain Kota Depok, posisi ketiga akan ditempati oleh Kota Tangerang. Kemudian Kota Bekasi dan Tangerang Selatan berada di posisi keempat dan lima. Dia menjelaskan, hal ini didasarkan oleh proyeksi penduduk dan tingkat urbanisasi yang tinggi.

Dahulu, tak ada kota di Jabodetabek yang jumlah penduduknya banyak selain Jakarta. Hanya saja, keadaan tersebut telah berubah.

“Hari ini saya tunjukkan, ada lima (kota) dengan penduduk terbesar, dan ke depannya (penduduk) akan semakin besar. Karena daya tarik Jakarta nya,” kata Bambang.

Secara otomatis, nantinya Depok akan menggeser posisi Surabaya. Hal itu disebabkan karena kurangnya daya tarik kota sekitar Surabaya, seperti Sidorajo, Jombang, dan Gresik.

“Kemudian sekarang memang mau melakukan apa-apa di Jakarta, pusat segalanya ada di Jakarta, jadi konsentrasinya tinggi. 1/4 ekonomi Indonesia datang dari Jabodetabek,” kata Bambang.

Pada kesempatan itu, Bambang juga menjelaskan pada tahun 2030, sebanyak 70 persen penduduk Indonesia akan tinggal di perkotaan. Sisanya akan tinggal di desa.

Pada tahun 2012, populasi nasional yang tinggal di perkotaan mencapai 52 persen dengan kontribusi 74 persen terhadap GDP nasional. Sedangkan untuk tahun 2030, ia memperkirakan kontribusi terhadap GDP nasional mencapai 86 persen.

Dengan demikian, ia meminta fenomena urbanisasi tidak lagi dipandang sebagai beban atau masalah. Menurut dia, urbanisasi justru dapat dijadikan sebagai penggerak roda perekonomian.

“Sampai saat ini, urbanisasi masih dilihat sebagai beban dan masalah. Justru ini sebuah tantangan, karena urbanisasi bisa menjadi roda penggerak atau motor pertumbuhan ekonomi,” kata Bambang.