Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat, Imam Budi Hartono

DepokNews–Sampai saat ini saya telah menerima sejumlah aduan-aduan selama pandemi corona atau Covid-19. Kali ini ada saya menerima aduan dari masyarakat melalui surat terbuka lewat media sosial Facebook saya.

Ini adalah pengaduan ketiga yang saya anggap besar selain banyak aduan-aduan kecil yang saya dan PKS bisa atasi secara langsung. Dalam surat terbuka kali ini, isinya tentang kegundahan rakyat dalam kondisi sekarang.

Berikut surat terbuka yang dikirimkan melalui Facebook pribadi saya

“Hari ini kami bekerja hari ini kami makan pak, jika diam kami mati klaparan. Biarlah di bilang orang miskin penyebar virus. Apakah kami berdosa mencari nafkah anak istri? Kami tidak mengemis pada orang kaya. Donasi bukan menolong kami tapi melindungi si kaya. Kami tidak manja pak merengek minta belas kasihan. Kami ingin menjadi pahlawan keluarga demi sesuap nasi, jika Allah berkehendak menjadikan janda dan yatim untuk mereka, hamba ikhlas walau direnggut corona.

Tetapi kami berusaha sekuat tenaga menjaga diri kami dan menjaga perut keluarga kami. Orang beruang kini ribut mencari masker perlindungan, kami sesak mencari beras untuk dimakan. Perut kami mungkin mengerti keadaan tapi perut anak kami menjerit sampai menembus dada kami. Mungkin untuk bapak tak dapat mendengar karena berlindung di tirai dinding yang rapat, jangankan virus corona malaikat mautpun menurutnya tidak dapat masuk. Oh pak jika kami memang penyebar corona kami orang miskin berharap isolasi agar dapat makan gratis dan terhindar dari ancaman virus yang mewabah. Ancaman dari kelaparan. Ancaman dari pengucilan karena kami selalu berkeliaran mencari sepiring nasi dan penyebar kematian.”

Dari surat terbuka tersebut, tergambar betapa perlunya masyarakat tidak mampu untuk menerima pertolongan kita. Yang mana mereka yang tak bisa work from home harus berjuang di tengah pandemi corona demi tercukupinya kebutuhan sehari-hari.

Bukan hanya itu, ada lagi surat keprihatinan lain warga Depok yang kali ini masuk melalui WhatsApp saya. Surat itu berisikan kritikan soal kondisi Depok yang mana bila lockdown diterapkan.

Berikut pesan yang masuk melalui WhatsApp saya :

“Bapak Wali Kota, seiring wabah Covid-19 yang sampai saat ini masih terus menjadi perhatian kita semua sampai beberapa langkah dilakukan seperti belajar online di rumah, Work From Home dan lainnya. Saya hanya ingin mengingatkan kepada Bapak Wali Kota dimana saya masih melihat kerumunan di Warung Modern Alfa**** dan Indo****. Namun sayangnya Alfa**** dan Indo**** tidak menerapkan protokol pencegahan semakin memularnya Covid-19.

1. Pintu toko selalu tertutup agar tidak ada AC bocor sehingga semua pengunjung masuk memegang pintu yang sama.
2. Belum ada alat cuci tangan yang disediakan saat masuk dan keluar dari toko.
3. Penataan parkir yang bertumpuk terjadi di beberapa toko di wilayah komplek dan kemungkinan di beberapa titik lain.
4. Sekitar ATM di dalam toko juga tidak dilengkapi hand sanitizer termasuk ATM di beberapa bank.

Padahal hal di atas seharusnya ditangani dengan cepat melalui himbauan, pengawasan, dan tindakan Bapak sebagai Wali Kota dan Aparaturnya dengan:

1. Pintu toko selalu terbuka satu pintu.
2. Disediakan hand sanitizer.
3. Keamanan parkir diutamakan.
4. ATM di Bank menyediakan hand sanitizer.

Jika hal ini terus terjadi dan dibiarkan tambahan 14 hari kedepan untuk saling menjaga jarak akan percuma karena kita tau semua toko tersebut yang masih buka dan tanpa mengindahkan protokol penanganan Covid-19.”

Perihal isi WhatsApp ini saya harap dapat segera ditangani dan ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Depok. Jangan sampai masyarakat kita was-was saat berbelanja terutama yang disebut di dalam surat tersebut.

Kami Fraksi PKS selain telah diperintahkan untuk menggunakan gaji kami untuk kebutuhan wabah Covid-19, kami juga mendorong beberapa antisipasi jika lockdown dilakukan, baik skala Kota Depok maupun skala Nasional.

Memang hal ini sangat sulit, pengaruh semua sektor sangat berdampak. Terutama yang menjadi perhatian terbesar adalah “darurat pangan”. Kita sudah mendorong APBD Jabar digunakan untuk mengatasi pangan untuk warga yang tak punya penghasilan akibat wabah Covid-19.

Kita mendesak agar minimal Rp 1 juta per bulan diberikan setiap keluarga, atau proporsional 1 orang Rp 250 ribu jika ada 4 orang maka 1 juta per keluarga/bulan. Kebajikan ini masih dikaji terkait teknis pembagian dan kriteria yang mendapat bantuan. Kita berdoa semoga musibah ini cepat selesai. Aamiin ya Robbal ‘Aalamiin.