DepokNews–Yayasan Mutiara Ilmu Mandiri yang membawahi SDIT  Taman Ilmu yang berlokasi di Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji membebaskan biaya pendidikan kepada siswa yatim.

Ketua Yayasan Mutiara Ilmu Mandiri Rahmat Fitrah kepada wartawan pada Jumat (22/2) mengatakan program pembebasan biaya SPP dan biaya pendidikan lainnya sebagai rasa
keprihatinan terhadap pendidikan di Indonesia saat ini.

Dirinya melihat bahwa seiring kemajuan teknologi dan informasi, sebagian penyelenggara pendidikan cenderung memberlakukan biaya yang mencekik para orangtua calon siswa termasuk bagi siswa yatim.

“Sejak sekolah kami ini berdiri kami lakukan program bebas biaya pendidikan hingga lulus bagi siswa yatim”katanya.

Dijelaskannya, bagi siswa yatim mampu dan dilengkapi dengan surat keterangan orang tua meninggal, maka biaya pendidikan akan mendapatkan bebas biaya pendidikan.

“Jika memang sama sekali tidak mampu tentunya akan siswa juga akan digratiskan,” katanya.

Pemberian bebas biaya SPP bagu siswa yatim tersebut merupakan bagian untuk melakukan penjaminan mutu pendidikan i di sekolah.

Diakuinya, siswa yatim piatu kesulitan untuk mengakses pendidikan tinggi tanpa ada kepedulian pihak sekolah sendiri.

Karenanya dengan kebijakan tersebut pihaknya ingin memberikan kesempatan anak yatim piatu memperoleh akses tersebut.

“Selain membebaskan biaya SPP bagi siswa yatim kami juga memberikan diskon biaya pendidikan bagi siswa yang orangtuanya sebagai guru”katanya.

Dia berharap, para siswa yatim bisa ikut pendidikan di sekolahnya ini karena telah disediakan program-program yang dijalankan.

“Kami harapkan bisa menjadi suatu gerakan di tingkat pendidikan sebagai bentuk kebersamaan bagi siswa yatim dalam mengenyam pendidikan”katanya.

Rahmat Fitrah menambahkan SDIT Taman Imu juga memberikan kesempatan bagi siswa berkebutuhan khusus untuk mengenyam pendidikan tanpa diskrimininasi.

Pihaknya memang memberikan kebebasan kepada siswa berkebutuhan khusus untuk mengenyam pendidikan di SDIT Taman Ilmu.

Keberadaan mereka pun tidak mempengaruhi KBM dan semuanya berjalan seperti biasa serta tidak ada gangguan.

“Alhamdulillah, siswa kami yang ABK bisa melanjutkan ke salah satu SMP negeri di Kota Depok dan prestasi yang luar biasa,” tuturnya.

Ia menjelaskan, dari data Ditjen Dikti menyebutkan bahwa di Indonesia terdapat 811 sekolah inklusi yang diperuntukkan bagi anak-anak berkebutuhan khusus dengan jumlah total 15.144 siswa. Namun jumlah ini belum dapat menampung seluruh anak dengan kebutuhan khusus yang ada di Indonesia.

“Namun jumlah ini belum dapat menampung seluruh anak dengan kebutuhan khusus yang ada di Indonesia,”katanya.

Dirinya mengakui, bahwa terkadang ada siswa ABK bila marah sampai memecahkan barang.

Namun, siswa lain yang normal tidak takut malah mereka membantu untuk memberikan support untuk belajar.

“Dalam memberikan pelajaran kepada mereka (ABK-red) kita bekerja sama dengan psikolog untuk membantu mereka. Dimana orang tua siswa dianjurkan untuk berkonsultasi dengan psikolog sehingga bisa mengetahui perkembangan anaknya,”katanya.