Oleh : Hamdi, S.Sos**  

Pendahuluan

            Ramadan baru saja tiba.  Selama sebulan penuh kita akan ditempa oleh madrasah Ramadan. Salah satu yang diharapkan menjadi buah Ramadan adalah kemampuan untuk mengendalikan diri dan hawa nafsu. Karena shaum (puasa) sejatinya bukan hanya menahan lapar dan haus saja, tetapi mengendalikan hawa nafsu dan syahwat (yang bisa mengurangi dan menghilangkan pahala puasa). Sesuai dengan makna shaum yang maksudnya adalah menahan diri tidak mengucapkan sesuatu yang tidak berguna meskipun sesuatu itu benar. 

            Salah satu “penyakit” yang harus dibasmi lewat puasa Ramadan ini adalah ghibah atau gosip. Ghibah adalah menyebut atau menceritakan keburukan orang lain dan yang bersangkutan tidak suka jika ia mendengarnya. Bila ghibah tetap dilakukan meskipun sedang berpuasa maka nilai atau pahala puasanya bisa berkurang bahkan terhapus. Sebagaimana   sabda Rasulullah SAW : “Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR, Ibnu Majah)            

Definisi Ghibah dan Fenomenanya di Masyarakat

           Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “’Tahukah kalian apa itu ghibah?’ Lalu sahabat berkata: ‘Allah dan rasulNya yang lebih tahu’. Rasulullah bersabda: ‘Engkau menyebut saudaramu tentang apa yang dia benci’. Beliau ditanya: ‘Bagaimana pendapatmu jika apa yang aku katakan benar tentang saudaraku?’ Rasulullah bersabda: ‘jika engkau menyebutkan tentang kebenaran saudaramu maka sungguh engkau telah ghibah tentang saudaramu dan jika yang engkau katakan yang sebaliknya maka engkau telah menyebutkan kedustaan tentang saudaramu.’” (HR. Muslim no. 2589)

          Gosip dalam kajian agama dikenal dengan istilah ghibah (menggunjing).  Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mendefinisikan ghibah yaitu menyebut saudaramu dengan hal yang tidak disukainya jika ia mendengarnya, baik kamu menyebutnya dengan kekurangan yang ada pada badan, nasab, akhlak, perbuatan, perkataan, agama, atau dunianya, bahkan pada pakaian, rumah dan kendaraannya. Misalnya, kita menyebut seseorang itu pendek, hitam, pesek atau semua hal yang menggambarkan sifat badan yang tidak disukainya, berarti kita telah berbuat ghibah.

         Termasuk kategori ghibah, menurut Al Ghazali, adalah isyarat, anggukan, picingan, bisikan, tulisan, gerakan dan semua hal yang memberi pemahaman tentang apa yang dimaksud (tentang kekurangan seseorang dan itu tidak disukainya), maka ia masuk ghibah dan diharamkan.

         Masalah ghibah dalam Islam termasuk perkara yang penting dan berat yang menyangkut hati (kejiwaan) seseorang. Orang yang suka berghibah adalah tanda orang yang di dalam hatinya ada penyakit. Dengan kata lain, ghibah adalah penyakit hati.            

            Di Indonesia tradisi budaya lisan lebih dikenal dibandingkan budaya membaca dan menulis.   Ketika penggunaan gadget atau smartphone sebagai sarana komunikasi semakin marak, sebagian  masyarakat tidak siap dengan kehadiran piranti teknologi informasi ini. Mereka   mengalami gagap teknologi sekaligus gagap media sebagai potret gejala kesenjangan budaya (culture lag) di negara berkembang. Sayangnya, kemampuan memiliki smartphone itu tidak diringi dengan kemampuan memanfaatkan teknologi tersebut secara cerdas dan bijak.                 

           Peluang untuk membicarakan keburukan orang atau berghibah semakin terbuka lebar dengan makin maraknya penggunaan media sosial. Lewat sarana jejaring sosial seperti facebook; twitter; instagram; whatsapp; line dan sebagainya orang jadi asyik dan sibuk dengan urusan orang lain daripada mengurus dan memperhatikan dirinya sendiri. Maka tumbuh suburlah informasi dan berita-berita yang tidak valid dan tidak benar atau yang dikenal dengan sebutan hoaks.

           Selain itu, sekarang tumbuh subur tayangan infotainment di hampir semua stasiun televisi, dengan menu utamanya, yaitu gosip. Tayangan gosip bagi pengelola infotainment menjadi lahan subur yang “mengasyikkan” sekaligus menguntungkan. Namun, bagi artis yang bersangkutan gosip ibarat pisau bermata dua, di satu sisi bisa mencemarkan reputasinya dan di lain sisi bisa membuat popularitasnya semakin melambung. Inilah realitas gosip di jagat media masa kini.   .

         Demikianlah salah satu dampak  perkembangan iptek di bidang informasi yang – disadari atau tidak – telah hadir di tengah-tengah kita. Masyarakat kita yang mayoritas muslim telah mengalami pergeseran nilai dan norma. Hal-hal yang tadinya bersifat privat dan tabu untuk diekspos, seperti urusan rumah tangga, sekarang sudah menjadi konsumsi umum (publik).             

          Apalagi segala sesuatu yang berkaitan dengan figur publik, seolah-olah semuanya wajib diketahui oleh khalayak umum, termasuk urusan pribadi mereka. Akhirnya, ngegosip pun menjadi tayangan yang laris manis di mayoritas stasiun tivi tanah air.  Budaya permisif  (serba boleh) tampaknya telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat kita dewasa ini.

Larangan Ghibah     

          Al Qur’an menggambarkan orang yang menggunjing  saudaranya (ghibah) seperti orang yang memakan daging saudaranya yang sudah mati. Allah SWT berfirman : “Dan janganlah sebagian kamu menggunjng (ghibah) satu sama  lain. Suka kah salah seorang dii antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?” (Al Hujuraat : 12).       

           Rasulullah telah melarang perbuatan ghibah seiring dengan larangan perbuatan-perbuatan keji lainnya. Sabdanya :  ”Janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling bersaing, dan janganlah kalian saling membuat makar. Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

          Dalam Sunan At-Tirmidzi (2032) dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata : “Rasulullah dulu berdiri di atas mimbar lalu menyeru dengan suara yang keras: ’Wahai sekumpulan manusia yang merasa aman dengan lisan dan yang tidak menjadikan iman dalam hatinya. Janganlah kalian mengganggu muslimin, janganlah kalian mencela mereka, dan janganlah kalian mencari aib mereka. Barangsiapa yang mencari aib saudaranya muslim maka Allah akan membuka aibnya. Dan barang siapa yang Allah buka aibnya maka allah membongkar keburukannya walaupun dia bersembunyi.’” Hadits ini dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi.

Dampak Negatif Ghibah

         Tidak ada manfaat dari ghibah kecuali hanya sekedar pengisi waktu luang yang sia-sia (laghwi) sekaligus menambah dosa. Padahal akibat dari perbuatan tersebut cukup fatal dan berbahaya bagi orang yang digosipkan, antara lain muncul pertikaian dan permusuhan dengan orang lain, bahkan bisa memperuncing dan memperparah masalah.

      Banyak dampak negatif dari berghibah, di antaranya ghibah bisa mengisolasi pelakunya,  menyakiti hati korban ghibah, menimbulkan penyakit hati (seperti dengki dan sombong), memutuskan ukhuwah, menghilangkan pahala, dan membuat pelakunya tidak bisa dipercaya lagi.

Balasan Perbuatan Ghibah

          Mengingat begitu besar bahaya yang ditimbulkan oleh perbuatan ghibah,  maka balasan bagi para pelaku ghibah juga sangat berat dan hina. Allah memberikan balasan siksa di dalam kubur berupa siksa, begitu juga balasan siksa di akhirat nanti. Jabir RA berkata, kami pernah bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan, kemudian Rasulullah SAW melewati dua kuburan yang penghuninya tengah disiksa. Lalu Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya keduanya disiksa dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Yang satu (disiksa karena) dahulu menggunjing orang, sedangkan yang lain (disiksa karena) dahulu tidak membersihkan kencingnya.” Kemudian Nabi SAW meminta pelepah dua korma dan membelahnya, kemudian memerintahkan agar setiap belahan itu ditanam di atas kuburan. Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya keduanya akan diperingan siksanya selagi kedua pelepah itu masih basah – atau belum kering.”  

          Dalam hadits lain, dari Anas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Pada malam ketika aku melakukan perjalanan malam (isra’), aku melewati suatu kaum yang mencakar wajah mereka dengan kuku-kuku mereka sendiri. Aku bertanya, “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?’ Jibril menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang menggunjing dan mencela kehormatan orang lain.”  

Cara Menghindari Ghibah

         Agama kita mengajarkan agar kita sibuk dengan kekurangan diri kita sendiri (dalam arti terus-menerus memperbaiki diri) sehingga kita “lupa” dengan kekurangan orang lain dan kalaupun kita tahu kekurangan atau cacatnya tetapi tidak menyebarkannya ke orang lain (berbuat ghibah). Alangkah elok dan terpujinya jika kekurangan orang lain kita tutup rapat-rapat sehingga tidak menimbulkan kekeruhan suasana di masyarakat. Nabi SAW bersabda : “Orang yang menutup kejelekan orang lain di dunia, kelak Allah akan menutupi kejelekannya di hari kiamat.” (HR. Muslim).

         Al Hasan berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu tidak akan mencapai hakikat iman sehingga kamu tidak akan mencela orang dengan yang juga ada pada dirimu. Juga hingga kamu mulai memperbaiki cela tersebut, lalu kamu memperbaiki cela dirimu sendiri. Bila kamu telah melakukan hal tersebut, berarti kamu telah sibuk dengan dirimu sendiri. Hamba yang paling dicintai Allah adalah hamba yang seperti ini.” Sahabat Umar ra. berkata, “Kalian harus melakukan dzikrullah, karena sesungguhnya ia merupakan penawar, dan janganlah kamu mengingat manusia karena sesungguhnya ia merupakan penyakit.”

        Semoga lewat gemblengan puasa sebulan penuh di bulan suci ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang  selalu sibuk memperbaiki diri untuk taat kepada-Nya dan terhindar dari segala macam penyakit hati, termasuk penyakit ghibah. Melalui tempaan madrasah Ramadan insyaa Allah kebiasaan-kebiasaan buruk (termasuk berghibah) bisa kita hilangkan dan tidak kita ulangi di luar Ramadan. Aamiin. Wallahu a’lam bish-shawab.

*Tulisan ini dibuat untuk mengisi Opini di Depoknews.

**Penulis adalah anggota Forum Akselerasi Masyarakat Madani Indonesia (FAMMI).