Secercah Kisah di Balik Gerobak Jus Buah Pak Karim

Posted on

Oleh : Qonita Chairunnisa (Mahasiswi di Politeknik Negeri Jakarta)

Lalu-lalang puluhan pasang kaki kian ramai menjelang siang hari. Bising suara klakson mobil angkutan bersautan seakan berlomba dengan suara para pedagang yang berteriak menawari dagangannya, demi menafkahi keluarga di rumah.

Di siang hari, hiruk pikuk Pasar Pal Cimanggis, Depok, seakan membuktikan bahwa hangatnya matahari adalah sahabat yang setia. Lingkungan yang tak lagi dikatakan nyaman menjadi saksi para penjual dan pembeli berseteru mendapatkan apa yang mereka inginkan. Letaknya yang terdapat di pinggir Jalan Raya Bogor seringkali menjadi salah satu faktor kemacetan yang terjadi terutama pada pagi hari. Ditambah lagi, pasar tersebut merupakan akses jalannya angkutan umum sehingga padat yang luar biasa dianggap orang-orang sebagai hal yang sudah biasa.

Sinar matahari kalah cepat dibanding aktivitas pasar ini. Setibanya subuh, para pedagang mulai mempersiapkan tokonya masing-masing, merapikan barang dagangannya agar terpampang semenarik mungkin. Rasa kantuk terkalahkan dengan semangat demi meraih rezeki yang diharapkan. Para pelanggan pun berdatangan seiring terangnya hari.

Barang yang dijual di pasar ini terbilang lengkap, mulai dari kue tradisional, kosmetik, seragam sekolah, hingga optik. Tak sedikit juga yang menjajakan jajanan ringan hingga minuman segar untuk memuaskan lapar dan dahaga. “Biasanya orang kemari karena haus habis belanja, cuaca kan panas, terutama siang.” kata Pak Karim, salah seorang penjual jus di Pasar Pal. Tak hanya menjual berbagai macam jus buah, pria paruh baya itu juga menjual air kelapa, es buah, es teler, dan es campur. Cuaca yang panas dan kebisingan pasar sudah menjadi hal sewajarnya yang terjadi di kehidupan sehari-harinya.

Mungkin sebagian orang masih meragukan kebersihan  makanan dan minuman di pasar tradisional, namun hal itu tertepis ketika gerobak jus buah yang ditutupi banner dengan nama “Pondok Es 2 Putra” ini terlihat bersih dan terawat. Dari kaca gerobaknya bisa terlihat berbagai macam buah-buahan segar dan bahan pelengkap minuman di dalam toples-toples yang tertutup rapat. Terlihat pula dua pria muda yang sibuk mengolah buah-buahan hingga menjadi minuman nikmat idaman semua orang di siang hari bolong. Sekilas mungkin orang mengira mereka adalah putera-puteranya, namun kedua pria itu adalah pekerja di usaha jus buah tersebut.

 

Kemeja batik dan peci yang ia kenakan terasa nyaman melekat di tubuh rentanya. Kerutan di wajahnya bukan apa-apa dibanding senyumannya yang tak kalah hangat dengan mentari. Sambil duduk di kursi kayu khas kuliner pinggir jalan, bapak dari tiga putera dan satu puteri itu bercerita bahwa kampung halaman tercintanya berada di Kuningan, Jawa Barat. Di sana beliau berprofesi sebagai salah satu orang yang berjasa dalam tonggak kehidupan rakyat negeri ini, yaitu petani. Meskipun begitu ia sudah tidak asing dengan kehidupan di Depok, tempat ketiga puteranya dan seorang puterinya mengadu nasib serta menimba ilmu. “Iya, ini anak saya. Baru lulus SMK dia.” kata beliau sambil menepuk-nepuk pundak puterinya, tersirat rasa bangga terpancar dari kedua bola matanya. Ia juga mengatakan bahwa usaha jus buah ini bukanlah hasil jerih payahnya ia seorang. Putera-puteranya lah yang mengambil peran banyak dalam menyukseskan wirausaha ini demi menafkahi keluarga dan membanggakan orang tuanya.

Menariknya, usaha jus buah itu terletak agak jauh dari keramaian pasar yaitu di pinggir jalan dekat akses keluar. “Ya, sudah 10 tahun di sini, tidak pernah  pindah tempat. Sudah nyaman juga.” tutur Pak Karim sembari matanya menatap sekeliling pasar seakan mengilas balik tahun-tahun yang ia lewati.  Beliau juga mengatakan bahwa keadaan sehari-sehari pasar cukup aman, tidak ada preman atau orang-orang yang mengganggu. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Perubahan demi perubahan telah ia rasakan, dari yang tadinya suasana pasar masih terbilang sepi nan asri hingga menjadi sepadat dan seramai sekarang.

“Betah saja di sini. Tempatnya lebih bersih dibanding di dalam, pelanggan juga bisa sambil duduk-duduk”. ujar Pak Karim ketika ditanya apakah ada rencana ingin pindah lokasi. Memang, lingkungan yang kurang higienis, hawa yang tak lagi segar, bisingnya suara keramaian, membuat orang tidak nyaman untuk membayangkannya.  Ketakutan akan keamanan kian kali terbesit di benak para pembeli.

Namun, mungkin benar kiasan “jangan menilai sesuatu dari luarnya saja.”. Seperti yang dikatakan Pak Karim, lingkungan pasar ini terbilang aman dan tentram. Bukan berarti pula para pedagang makanan dan minuman di sini tidak mementingkan kebersihan. Tentu mereka berusaha yang terbaik demi mendapat rezeki yang halal