DepokNews–Pelatihan kesehatan warga secara mandiri di tingkat keluarga dan komunitas akan menghemat anggaran kesehatan, karena biaya promosi kesehatan lebih kecil dibandingkan proses pengobatan (kuratif). Hal itu diungkapkan Sapto Waluyo, mantan Tenaga Ahli Menteri Sosial RI (2009-2014) dalam pelatihan keterampilan totok punggung yang dilaksanakan LPKS Ulul Albab di gedung MITI Center (Ahad, 16/12).

Dalam APBN tahun 2018, anggaran kesehatan nasional dialokasikan Rp 111 triliun atau sekitar 5 persen dari total APBN. Sementara tahun 2019 direncanakan anggaran kesehatan meningkat Rp 122 triliun dari total APBN (Rp 2.439 triliun). “Sebagian besar anggaran itu untuk melayani 92,4 juta peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang ditanggung Pemerintah, sehingga beban negara cukup berat. Termasuk anggaran daerah seperti Kota Depok yang pada tahun 2018 menetapkan APBD untuk sektor kesehatan sebesar Rp 286 miliar, dan baru terserap Rp 134 miliar pada akhir tahun,” jelas Sapto di hadapan seratus peserta yang berasal dari berbagai kelurahan.

Karena itu, Sapto sebagai calon Anggota DPR RI untuk dapil Kota Depok dan Kota Bekasi mendukung penuh pelatihan keterampilan yang bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan dan kebugaran, serta mendeteksi gejala penyakit sejak dini. Kegiatan pelatihan yang dilakukan secara berkelanjutan itu diinisiasi Sahabat Ali Amril dan SahabatSAPTO, yakni komunitas relawan yang peduli dengan pemberdayaan warga. “Kami senang karena masyarakat antusias menyambut acara ini, sehingga peserta harus dibatasi sesuai kapasitas ruang. Usai pelatihan, semua peserta akan diberi kartu relawan yang membuka akses pelatihan beragam, termasuk layanan ambulan dan asuransi kecelakaan,” sambut Ali Amril, Direktur QuPro Indonesia, yang dicalonkan sebagai anggota DPRD Kota Depok dari dapil Sukmajaya.

Pelatihan totok punggung merupakan salah satu keterampilan alternatif, disamping pijat refleksi, latihan pernafasan atau bekam dan ruqyah yang sudah popular. Pelatihan dibimbing trainer bersertifikat dan berpengalaman panjang dalam terapi herbal, Lenny Widyastuti. “Dengan totok punggung, kita mendeteksi kelainan fungsi organ dalam tubuh kita, sekaligus menormalisasinya. Sehingga tidak perlu buru-buru ke Puskesmas atau dokter spesialis. Semacam penanganan pertama jika terasa gejala dini sakit,” ujar Lenny. “Bahkan, saya pernah diizinkan dokter untuk menemani pasien yang kondisinya cukup parah. Dengan totok punggung yang dilakukan anggota keluarga, maka terjadi interaksi dan sugesti untuk mendorong kesembuhan.”

Itu menunjukkan efektivitas pelatihan kesehatan bagi warga di level dasar. Warga baru pergi ke Puskesmas, apabila gejala penyakit tidak bisa ditangani sendiri. Sebab, tidak jarang gejala kelainan fungsi organ terjadi akibat kondisi psikologis yang labil atau tertekan. Promosi kesehatan dasar merupakan modal penting untuk mengendalikan anggaran kesehatan yang terus membengkak. []