Oleh: Siti Aisyah, S.Sos., Koordinator Kepenulisan Komunitas Muslimah Menulis Depok

Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun…’. Kalimat istirja’ itu muncul lagi di grup WhatsApp keluargaku. Kali ini kakakku yang keempat telah dipanggil Allah SWT. Padahal, belum lama sebelum itu ibunda tercinta sudah lebih dahulu meninggalkanku. Di bulan yang sama sebelum ibundaku meninggal dunia, suamiku di operasi TB kelenjar getah bening dengan pengobatannya selama setahun dan anakku sedang sakit pula. Bahkan, terkadang sakit pinggangku pun sering kambuh.

Itulah ujian terberat yang Allah berikan kepadaku. Tentu betapa berat rasanya ujian itu datang silih berganti. Suasana hati pun larut dalam kesedihan, sampai air mataku tak terasa membasahi pipi ini. Namun, kesedihanku itu tidak sampai berlarut-larut. Aku yakin, ada hikmah di balik semua peristiwa tersebut.

Kalau dilihat, mungkin ujian yang menurut berat bagiku itu belum seberapa jika dibandingkan dengan bencana yang dialami saudara-saudara kita yang dilanda banjir  bandang di Kalimantan Selatan yang merendam sebagian wilayahnya. Salah satu daerah yang terparah, Kabupaten Banjar, Tanah Laut, Balangan dan Banjarbaru. Tanah Laut misalnya, sebanyak 21.990 jiwa terdampak banjir akibat air sungai di Kecamatan Pelaihari meluap) serta di wilayah Balangan, sebanyak 3.571 unit rumah terendam banjir.

Berdekatan dengan banjir di Kalsel, wilayah Mamuju dan Majene di Sulawesi Barat juga diguncang gempa pada Kamis (14/1/2021) dan Jumat (15/1/2021). Gempa pertama berkekuatan 5,9 terjadi pada Kamis pukul 14.35 WITA dan gempa susulan dengan 6,2 M terjad pada Jumat pukul 02.28 WITA.

Dari bencana-bencana yang terjadi itu, tentunya bagi keluarga korban akan menyisakan kesedihan yang mendalam, karena kehilangan sanak saudaranya, memicu banyak kerusakan seperti rumah dan menimbulkan keresahan bagi masyarakat setempat.

Sebenarnya, wajar jika perasaan sedih muncul ketika kita ditimpa musibah. Namun, jangan sampai berlarut-larut, apalagi timbul keputusasaan bahkan sampai berniat untuk bunuh diri. Naudzubillah.  Padahal, semua  musibah yang menimpa kepada diri kita atau pun menimpa orang lain, bagi yang beriman kepada Allah SWT, tentu saja itu semua sebagai bentuk ujian yang diberikan Sang Pencipta Alam Semesta ini kepada hambanya. Apakah kita mampu  bersabar, ikhlas dan tawakal menghadapinya ataukah tidak?

Karena, sabar, ikhlas dan tawakal merupakan kunci sukses  dalam menghadapi segala musibah yang Allah berikan, agar hati dan keyakinan kita tetap kuat dan tegar dalam menjalani kehidupan ini.

Agar kita sukses dan berhasil dalam menghadapi musibah, maka kuncinya itu harus selalu diperhatikan yakni: Pertama, sabar. Menurut Al-Jauziyah, sabar adalah kesediaan untuk menerima penderitaan dengan penuh ketabahan dan ketenangan, sehingga kesabaran membuat orang mampu mengatasi setiap masalah. Sabar  bisa menjadikan kita tahan dalam menghadapi cobaan  dengan tidak lekas putus asa, tidak lekas patah semangat. Karena, cobaan yang menimpa kita tentu sudah diatur oleh Allah SWT.

Jika kita bersabar, Allah SWT akan melipatkan pahala kita. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah az-Zumar ayat 39 yang artinya,  “Sesungguhnya  hanya  orang-orang  yang  bersabarlah  yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Boleh jadi ketika Allah terus menerus memberikan ujian kepada kita, justru di situlah akan tampak kadar keimanan kita. Allah menurunkan cobaan kepadamu, agar Allah bisa menguji imanmu, apakah engkau akan sabar, ikhlas dan tawakal ataukah akan marah-marah dan apakah engkau ridha terhadap ketetapan Allah? Dengan ridhanya kita terhadap ketetapan Allah SWT, tentu akan semakin bertambah kuat keimanan kita.

Kedua, ikhlas. Ikhlas sendiri mengandung arti menyerahkan atau memberikan dengan perasaan tulus. Kita harus yakin apa pun yang terjadi tak lepas dari kehendak Allah. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah al-An’am ayat 59 yang artinya, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula) dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).”

Ketiga, tawakal. Menurut Imam al-Ghazali tawakal ialah menyandarkan kepada Allah  SWT tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepada-Nya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram. Dalam menghadapi berbagai macam ujian, tentunya tawakal sangat diperlukan sekali agar manusia mampu menjalani hidup ini dengan baik walaupun ditimpa musibah.

Islam mengajarkan kepada seluruh umat Muslim untuk terus memohon pertolongan dan berserah diri kepada Allah ketika ditimpa musibah. Karena dari musibah tersebut, bisa jadi ada hikmah di dalamnya. Maka, tawakal merupakan salah satu sikap terpuji yang menunjukkan keimanan seseorang kepada Allah.

Itulah kunci sukses bagi seorang Muslim dalam menghadapi beragam musibah. Yakinlah, setiap musibah atau ujian yang datang menghampiri kita, jika kita sabar, ikhlas dan tawakal terhadap ketentuan yang Allah berikan dan senantiasa menyandarkannya kepada Allah SWT, insyaAllah, kita akan diberi kemudahan dalam menjalani kehidupan ini.

Dan yakinlah, Allah akan memberikan balasan yang setimpal di akhirat nanti dari sikap sabar, ikhlas dan tawakal kita, yakni Surga tempat yang luasnya seluas langit dan bumi serta kita kekal di dalamnya. Semoga. Aamiin. []

Biodata Penulis:

Nama: Siti Aisyah S.Sos.

Alamat: Kampung Rawageni RT 004 RW 002 Kelurahan Ratu Jaya, Kecamatan Cipayung, Depok.

Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga

Aktif: Koordinator Kepenulisan  Komunitas Muslimah Menulis Depok.

No Email: ummuauf2017@ gmail.com