Pendekatan holistik pemberdayaan masyarakat pedesaan

 

Depok, 23 Agustur 2018

Para sarjana alumni Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang bernaung dalam Fusi Foundation menggelar program Insinyur Blusukan untuk menjadi bagian dari solusi problematika masyarakat berbekal ilmu keahlian, dan pengalaman keteknikan. BISA AJA Community yang sebagian menaungi praktisi pengobatan holistik dan pegiat pemberdayaan masyarakat bertekad membangun peradaban bersama masyarakat, aparatur pemerintah dan tokoh agama. Kolaborasi ciamik BISA AJA Community dan FUSI FOUNDATION melahirkan harapan hadirnya kemajuan pendidikan dan perekonomian di Desa Barengkok, Jasinga – Bogor.

Hal tersebut disampaikan oleh Ahmad Fitrianto, kemarin di seketariat Fusi Foundation Depok, usai memantau kegiatan Qurban di sejumlah wilayah. Ustadz Ahmad saat itu didampingi oleh Ketua Bisa Aja Community Heru Kusmiyanto, serta pengurus Bisa Aja Community, antara lain Akgam Fradikha, Helmi dan Ustadz Khasani.

“Berbekal tiga ekor kambing kami bersama masyarakat bertekad meretas peradaban unggul di desa Barengkok. Kami akan memulai social mapping untuk menentukan langkah terbaik menghadirkan perbaikan berkelanjutan bagi warga desa Barengkok,” papar Ustadz Bayu Andhika selaku Pembina Bisa Aja Community dan Owner Klinik Pengobatan Holistik Nida’ul Jafar Depok.

“Bapak Herman Setiawan selaku Kades menyambut positif rencana pemanfaatan lahan wakaf keluarga besar H. Ahmad seluas 2.000 m2 untuk Lembaga Pendidikan. Beliau juga berterima kasih atas perhatian rekan-rekan Fusi Foundation dan Bisa Aja Community kepada warganya. Beliau berjanji akan segera membantu proses legalitas akta wakaf agar bisa segera dilanjutkan dengan perancangan bangunan dan penggalangan dana. Pak Kades juga menyampaikan bahwa ada 17 orang warga desa yang sudah berstatus sarjana siap membantu proses kegiatan belajar mengajar, termasuk dua orang diantaranya alumni PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Qur’an),” demikian diceritakan oleh Ustadz Khasani yang mengikuti kegiatan Qurban di Desa Barengkok kemaren.

Sejumlah warga yang membantu kegiatan Qurban terlihat sangat antusias dan menaruh harapan besar hadirnya Madrasah Tsanawiyah atau ‘Aliyah yang tidak ada di sana. “Warga di sini 80% hanya lulusan SD karena untuk bersekolah SMP/SMA harus pergi jauh ke Jasinga atau Leuwiliang. Sementara masyarakat yang bekerja sebagai buruh tani dan buruh lepas tentu sangat berat jika menyekolahkan anak mereka dengan ongkos transportasi yang mahal,” demikian keluh Haji Ahmad selaku tokoh masyarakat setempat.

 

Pendekatan Holistik

Di tempat yang sama, Ketua Fusi Foundation Ahmad Fitrianto berpendapat, berdasarkan survey awal pada tanggal 18 Agustus 2018, permasalahan krusial yang harus segera ditangani adalah ketersediaan air bersih bagi warga desa. Sumur di rumah warga dan mushola hingga mata air di pinggir hutan sudah mengering sehingga kebutuhan MCK sangat terganggu dan berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan. “Kampanye WAKAF AIR menjadi penting untuk dilakukan agar segera direalisasikan sumur bor dan penampungan air bagi warga desa,” papar Ahmad Fitrianto. Yang tidak kalah penting, lanjut alumni Fakultas Teknik UI ini, pemberdayaan ekonomi masyarakat di sektor peternakan dan perkebunan juga harus direncanakan secara serius. Hal ini menjadi alternatif solusi pendapatan warga yang selama ini mengandalkan sawah tadah hujan mengingat produksinya menurun bahkan terancam gagal di musim kemarau.

“Usaha penanaman singkong juga cukup berpotensi dikembangkan karena setelah mencoba singkong di desa Barengkok bagus kualitasnya. Insya Allah kita bisa ATM (amati, tiru dan modifikasi) usaha kecil dan menengah kripik singkong di desa Trisobo, Semarang – Jawa Tengah,” demikian ditambahkan Heru Kusmiyanto Ketua Bisa Aja Commnuty dan pebisnis kripik singkong.

_Dikeluarkan oleh Bisa Aja Community dan Fusi Foundation. Keterangan lebih lengkap dapat menghubungi_
*Sekretaris BISA AJA Community – Akgam Fradikha 085774294565*