DepokNews–Master Bonsai Robert Steven mengapreasi keberadaan Taman Bonsai yang berada di pertigaan Juanda-Margonda Kelurahan Kemirimuka, Kecamatan Bej.

Robert Steven saat memberikan workshop tanaman bonsai di Taman Bonsai baru-baru ini mengatakan keberadaan Taman Bonsai yang dibangun oleh K3D memberikan peluang bagi para seniman bonsai dalam berkarya tanaman bonsai.

“Kami bangga ada Ruang Terbuka Hijau yang isinya ratusan tanaman bonsai yang bagus-bagus”katanya.

Robert mengatakan ketertarikannya pada dunia bonsai  tanpa sengaja pada 1980-an.

Bermula dari jalan-jalan ke Puncak, Bogor, dia melihat sebuah pohon kerdil yang indah. Dia lalu membelinya.

“Sejak itu saya tertarik membuat bonsai. Nggak pakai sekolah khusus karena memang saya suka seni lukis dan patung,”katanya.

Baginya, membentuk sebuah bonsai adalah ekspresi dari imajinasi dan rasa yang meletup datang dari dalam diri, bukan mengikuti sekedar pakem sesuai text book yang penuh dengan dogmatisme aturan yang kaku.

Perbedaan gaya antara style yang dia sukai dengan pemahaman kriteria dan aturan yang cenderung kaku yang banyak dianut masyarakat pecintai bonsai, tak ayal membuat dia kecewa dan bingung.

Dari sinilah dia memulai pencarian panjang dari akar filosofis dan fundamental seni bonsai langsung dari sumber aslinya di China.

Selama di China dia merasa banyak menemukan pencerahan saat belajar penjing dengan Hu Yun Hua.

Di Tiongkok, Robert mendapat pencerahan mengenai seni bonsai yang lain dari biasanya.

Di sana tidak diajarkan mengenai peraturan-peraturan, tapi falsafah serta aspek seni dan estetikanya.

“Saya pikir inilah yang bener karena seni itu memang nggak ada aturannya, nggak ada benar nggak ada salah,” tegasnya.

Setelah pulang dari Tiongkok, dia baru menyadari bahwa di dunia bonsai tidak ada yang secara khusus mendalami estetika bonsai.

Semua buku yang ada hanya mengajarkan teknik pembuatan dan kriteria-kriteria bonsai.

“Itulah yang ditelan mentah-mentah oleh penggemar bonsai dan dianggap sebagai aturan baku,” katanya.

Robert berani mempertahankan argumennya bahwa membuat bonsai tidak boleh mengikuti aturan secara membabi buta.

“Semua aturan dalam buku saya catat. Mana yang dianggap salah dan mana yang dianggap benar. Ternyata, semua itu ada alasannya. Yaitu, aspek estetika seni dan aspek hortikultura yang berkaitan dengan fisiologi dan morfologi tanaman,” katanya.

Dirinya mengaku senang dengan adanya K3D. Lewat K3D, komunitas bonsai mendapat tempat di Kota Depok.

“Di sini (Saung K3D, red) bukan cuma komunitas bonsai yang bergabung, tapi mulai banyak dari komunitas lain,” katanya.

Ketua Dewan Pembina K3D, Bowo bangga bisa mengenal master bonsai milik Indonesia, Robert Steven.

Dia menambahkan ratusan tanaman bonsai milik Robert ikut memperindah Saung K3D.

“Sebelum jadi Saung K3D, kawasan ini dulunya gersang, kotor. Tapi sekarang nyaman dan indah. Dari awal memang kita mengajak komunitas bonsai untuk merubah kawasan ini,”katanya. 

Wakil Ketua K3D, Denny Romulo Hutauruk menambahkan Taman bonsai ini sejak 2013 bermula karena keprihatinan terhadap lahan pipa gas yang digunakan oleh masyarakat tidak bertanggungjawab dijadikan pemukiman pemulung jadi kumuh.

“Dulunya disini berdiri tempat pemukikan pemulung, kami buat kesepakatan dengan PT Pertamina lalu menggusur masyarakat yang tinggal disini dan menyulapnya untuk tempat budidaya sekaligus pameran tanaman Bonsai,”katanya.

Di taman bonsai terdapat sekitar 2.000 pot dengan ratusan jenis tanaman Bonsai.

Di antara ribuan pot itu, terdapat jenis Bonsai yang usianya sudah 80 tahun dengan jenis Anting Putri asal Kepulauan Riau, dimana bonsai yang berumur tua mencapai 80 tahun.

Dia menerangkan, bonsai-bonsai yang ada di lahan itu tidak diperjual belikan, hanya untuk pameran.

Tidak hanya kelas nasional, tetapi tanaman ini sudah sampai di pamerkan di kancah internasional.