Penulis : Seltika

Resiko merupakan suatu keadaan adanya ketidak jelasan dan tingkat ketidak pastiannya terukur secara kuantitatif. Resiko dapat digolongkan  ke dalam resiko murni dan resiko spekulatif. Resiko murni yaitu resiko yang dapat mengakibatkan kerugian secara alami dan tidak memiliki kemungkinan menguntungkan, sedangkan yang di sebut resiko spekulatif yaitu suatu resiko yang dapat mengakibatkan dua kemungkinan,merugikan atau menguntungkan. Semua kegiatan yang dilakukan baik perseorangan ataupun komunitas/perusahaan juga mengandung resiko. Semakin tinggi resiko yang dihadapi umumnya dapat di perhitungkan bahwa pengembalian yang diterima juga akan lebih besar.

 Manajemen resiko adalah suatu cara dalam mengkordinir suatu resiko yang akan dihadapi baik sudah diketahui maupun yang belum diketahui  maupun yang belum diketahui atau yang tak terpikirkan yaitu dengan cara memindahkan resiko kepada pihak lain,mengurangi efek negative resiko. Resiko yang terdapat di dari tindakan pelayanan kesehatan adalah tolak ukurnya dalam segi pelayanan kesehatan adalah upaya yang di lakukan (inspaning verbentenis),bukan pula hasil akhirnya (resultante verbentenis).

Menurut Darmawi Resiko (2008) tahap pertama dalam proses manajemen resiko yaitu tahap identifikasi resiko. Indentifikasi resiko merupakan suatu proses yang secara sistematis dan terus menurus dilakukan untuk mengidentifikasi kemungkinan timbulnya resiko atau kerugian terhadap kekayaan hutang. Proses identifikasi harus dilakukan dengan cermat dan komprehensif, sehingga tidak ada resiko yang terlewatkan atau tidak teridentifikasi. Dalam pelaksanaannya identifikasi dapat dilakukan dengan beberapa Teknik yaitu: Branstrorming,Questionanaire,Industy benchmarking,Scenario analysis,Risk assessment workshop,Incident investigation,Auditing,Inspection dan Checklist.

Hazard and Operability Studies,setelah melakukan identifikasi resiko maka selanjutnya pengukuran resiko dengan cara melihat potensial terjadinya seberapa besar kerusakan dan propabilitas terjadinya resiko tersebut. Sehingga pada tahap ini sangatlah penting untuk menetukan kemungkinan yang nantinya dapat menjadi prioritas dan dapat di implementasi perencanaan manajemen resiko. Hambatan dalam pengukuran resiko adalah menetukan kemungkinan terjadinya suatu resiko kerena informasi statistic tidak selalu tersedia untuk beberapa resiko tertentu. Selain itu mengevaluasi dampak kerusakan cukup sulit untuk asset immaterial.

Resiko dapat dikendalikan atau dikelola dengan cara yaitu: risk avoidance,risk reduction,risk transfer,risk deferral,risk detention.mungkin beberapa cara diatas dapat membantu atau mengurani terjadinya resiko.

Contoh kasus,

Kasus yang terjadi di RS ARIFIN ACHMAT ,sebuah rumah sakit  umum terbesar di kota pekanbaru,merupakan rumah sakit rujukan dan  mempunyai fasilitas yang  memadai. Namun sangat di sayangkan karna pada saat itu saya merupakan salah satu anggota keluarga pasien yang di rujuk akibat kecelakan,pasien mengalami luka parah di bagian rahang wajah dan harus segera mendapatkan penanganan, namun sangat di sayangkan penangannya di rumah sakit ini terbilang lambat setelah tiga hari pasien baru bisa melakukan oprasi ,pihak kelurga mengambil kesimpulan penangangan lambat di karenakan mengunakan BPJS. Mulanya dokter hanya mengatakan luka dalam tidak ada yang membahayakan hanya saja perlu oprasi dan tim dokter sudah melakukan rongsen namun hasilnya dokter tidak menemukan sesuatu yang berbahaya,setelah dokter mengatakan kepada keluarga pasien tidak lama kemudian muncul spekulasi baru bahwasanya usunya pasien robek dan kemungkinan putus putusan dari dokter sangat membingungkan pihak keluarga,sehingga pada saat itu dokter melakukan oprasi di bagian usus dan oprasi di bagian rahang masih tertunda selang seminggu pasien kritis tidak sadarkan diri hanya satu kontong darah yang masuk kedalam tubuh pasien sampai akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhir semua selesai sampai disini, pihak keluarga sangat kecewa dengan penangan atau pelayanan kesehatan yang terjadi di RS ARIFIN ACHMAT.