DepokNews–Para kader, relawan Dewan Kesehatan Rakyat Kota Depok harus menjadi pemilih yang cerdas di perhelatan Pemilu 2019 sehingga mereka tidak mudah dibohongi oleh kontestan Pemilu.

“Kami bebaskan kepada relawan DKR untuk memberikan hak suaranya kepada parpol mana saja atau caleg yang dipilihnya akan tetapi DKR tetap satu komando atau instruksi dari ketuanya”kata ketua DKR Kota Depok Roy Panghrapan saat melakukan orasi politik di kegiatan Rapat Akbar DKR  Jelang Pemilu 2019 di gedung MUI, Kecamatan Pancoran Mas pada Rabu (17/10).

Roy menambahkan DKR sengaja melaksanakan rapat akbar yang dihadiri ribuan relawan DKR ini agar mereka langsung memahami pentingnya kegiatan politik atau demokrasi ini.

“Kita undang ribuan relawan DKR alhamdullilah mereka antusias mengikutinya dengan antusias kegiatan ini”katanya.

Dia mengatakan dengan menjadi pemilih yang cerdas untuk berpolitik sehingga warga atau anggota tidak dibohongi oleh kalangan elit politik.

“Kita harus sadar bahwa kita sudah ditindas secara sistematis, kita sadar bahwa hari ini kita harus menjadi pemilih
yang cerdas”katanya.

Dia mengajak relawan DKR  berperan aktif mengawasi penyelenggaraan pemilu serta menggunakan hak pilihnya dengan cerdas.

“Bersama-sama mari kita dukung dan mengawal pemerintah dalam pelaksanaan Pemilu 2019 yang aman, damai dan sejuk tanpa ada konflik,” katanya.

Momentum kontestasi politik ini dinilai harus diikuti dengan kematangan masyarakat dalam berpolitik dengan menjadi pemilih cerdas agar terwujud proses pilkada yang baik dan berkualitas untuk Indonesia damai.

“Nilai dari sejarah Pemilu ini apakah kita dapat mampu melakukan pemilu yang damai di daerah lumbung suara, di mana masyarakatnya menjadi pemilih yang rasional, pemilih yang cerdas dan minim sengketa pilkada.

Perlu disadari semakin minimnya sengketa atau bahkan keributan itu menunjukkan kematangan masyarakat dalam berpolitik

Momentum pemilu 2019,merupakan ukuran bagi bangsa ini dalam melaksanakan demokrasi yang berkualitas.

Dia berharap para calon mempunyai tanggung jawab moral besar untuk mewujudkan pilkada yang mencerdaskan dan damai.

Para kontestan harus menunjukkan jiwa tanding kesatria, yakni siap menang dan kalah.

Dia menilai, tingkat kecerdasan para elite politik dan para kontestan sebenarnya akan menjadi kunci untuk membangun tingkat kecerdasan masyarakat dalam berpartisipasi dalam Pemilu 2019.

Di sini yang harus dibenahi, Indonesia butuh pemimpin dan elite politik yang bisa berbesar hati, agar keributan dapat dihindari,” tuturnya.

Dia memaparkan sistem demokrasi yang ditetapkan di Indonesia mulai tahun 1998 melalui pemilu, pilpres, pilkada secara langsung dari rakyat untuk rakyat ini harus bisa dipertanggungjawabkan agar dapat mewujudkan pilkada damai dan berkualitas.

Menurut semua proses yang dilalui harus menjadi pelajaran berharga bagi bangsa ini untuk melaksanakan demokrasi yang tidak hanya berkualitas, tetapi minim konflik dan pergesekan sosial.

Kuncinya adalah membangun rasa saling percaya dan saling menghormati sesama calon pemimpin dalam proses demokrasi agar terwujud sistem yang damai dan tenang

“Bersama-sama mari kita dukung dan mengawal pemerintah dalam pelaksanaan Pemilu 2019 yang aman, damai dan sejuk tanpa ada konflik”katanya.