DepokNews- Wakil Rektor III Universitas Gunadarma Dr Irwan Bastian menegaskan tuntutan para mahasiswa yang melakukan demonstrasi hanya mis komunikasi. Hal tersebut disampaikan Dr Irwan Bastian saat konferensi pers di Kampus Gunadarma F8. Selasa (3/10/2020).

“Perlu diketahui sebagai bapak nggak mau kan anaknya nggak lanjut.Artinya sanksi yang nggak lanjut itu Nggak ada,sebenarnya hanya nilainya nggak bisa dilihat. Artinya tidak benar. Bukan berarti tidak membela diri, kami itu bingung, itu masalah Miss komunikasi saja,”ujarnya.

Menurutnya mahasiswa yang menunggak berjumlah 3000 sekian. Namun yang sudah melakukan pelunasan 1100 mahasiswa dan sisa yang menunggak 1900 mahasiswa.

“Setelah ada kebijakan sebelumnya terburu-buru dengan menutup nilai, ini akhirnya yang membuat mahasiswa bergejolak dan kami jadi terkaget kaget juga. Terus kami panggil untuk menyelesaikan. Kenapa kami panggil orang tua. Ya bagaimanapun untuk memastikan,”Katanya.

Sementara solusi yang ditawarkan terkait pecah blangko tersebut yaitu 50-50. Solusi lain yaitu ada skema beasiswa lainnya.

” Ada persyaratan yang berprestasi bisa disalurkan.bahkan ada pihak lain yang bisa memberikan bantuan pinjaman. Tapi intinya kami memberikan kemudahan. Akhirnya kami hadapi kasus per kasus. Di delegasikan ke prodi atau jurusan masing-masing. Dan nilai itu udah dibuka lagi tadi malam dan yang belum lunas bisa membuka juga,”katanya

Ia Juga mengatakan sebagai orang tua pihaknya memiliki itikad baik untuk mempermudah mereka soal pembayaran.

“Jadi istilah pecah blanko itu dalam satu semester memang ada perubahan 70 : 30, namun ternyata itu memberatkan mereka sehingga kembali seperti dulu.
Cuma kan yang namanya pendidikan pun ada prosedur, bagaimana bila mau keluar nilai tapi mereka belum melunasi kewajibannya,”ujarnya

Lanjut nya dari dialog kemarin sudah disepakati bahwa nilai yang belum keluar itu bukan hangus, tapi tak bisa dilihat internal.

“itu semacam digital locker ya yg bisa dilihat mahasiswa. Ini sebenarnya mereka gak dirugikan, tapi kebijakan ini belum tersosisalisasi dengan baik,”katanya

Bastian juga membeberkan terkait pembentukan organisasi kemahasiswaaan atau Bem Universitas dikembalikan ke para mahasiswa.

” Itu sudah ada SK rektornya. Mereka mempertanyakan kenapa bem tingkat univ belum terbentuk. Akhirnya di dalam dialog kemarin dikembalikan ke mahasiswa ya silahkan karena ini kan demokratis,” bebernya.

Terkait transparansi dan pembangunan yang merata di seluruh kampus, pihaknya akhirnya sudah menyampaikan melalui locker digital atau semacam informasi yg bisa mereka akses masing masing.

” Sebenarnya bagi kami tidak ada yang disembunyikan, setiap tahun kami pun diaudit oleh lembaga publik, pajak pun Alhamdulillah kami taat.

” Dan berkaitan dengan sarpraspun, insya allah kami sampaikan apa yang akan dibangun itu sudah direncanakan,”tutupnya.