Oleh : Andi Maulana
(Kabid Perkaderan PD.IPM Kota Depok & Lembaga Media PW.IPM Jawa Barat)

Muhammadiyah pada tanggal 18 November 2020 tepat berusia 108 tahun. Muhammadiyah itu sendiri didirikan oleh Muhammad Darwisy atau yang lebih dikenal dengan KH. Ahmad Dahlan di Kauman Yogyakarta pada 8 Dzulhijjah 1330 H / 18 November 1912 M. Muhammadiyah sendiri adalah salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia yang masih konsisten membantu umat islam dalam bidang Pendidika. Betapa banyaknya amal usaha muhammadiyah yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia, dalam hal ini telah banyak masyarakat Indonesia yang sudah merasakan manfaat dari amal usaha muhammadiyah itu sendiri.

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Muhammadiyah sendiri sangat berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa terutama dalam amal usaha di bidang pendidikan yang dimiliki oleh muhammadiyah itu sendiri. Berkaitan dengan hal ini, penjelasan Amal Usaha Muhammadiyah itu sendiri merupakan salah satu usaha yang dibangun oleh Persyarikatan untuk mencapai maksud dan tujuannya, yakni menegakkan dan menjujung tinggi agama islam. Semua bentuk kegiatan amal usaha Muhammadiyah harus mengarah kepada terlaksananya maksud dan tujuan Persyarikatan, dan seluruh pimpinan serta pengelola amal usaha berkewajiban untuk melaksanakannya. Dahulu, Bidang amal usaha yang dirintis pertama kali adalah sebuah sekolah di rumahnya dan biaya penyelenggaran pendidikan pun ditanggungnya sendiri dan juga merupakan salah satu faktor penyebab lahirnya Muhammadiyah adalah tidak efisiennya lembaga pendidikan di Indonesia saat itu. Lembaga pendidikan yang tersedia sudah tidak memenuhi kebutuhan dan tantangan zaman lagi, sehingga isi, metode pengajaran, bahkan sistemnya juga harus dirombak.
Kini, terhitung amal usaha muhammadiyah dalam bidang pendidikan di seluruh pelosok negeri. Menurut dari Wikipedia, jumlah TK/TPQ Muhammadiyah sebanyak 4623, jumlah data SD/MI Muhammadiyah sebanyak 2604, jumlah SMP/MTs Muhammadiyah adalah sebanyak 1772, jumlah SMA/MA/SMK Muhammadiyah adalah sebanyak 1143, dan jumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah adalah sebanyak 172. Dengan kita melihat data ini, muhammadiyah sendiri sangat serius dalam memajukan dunia pendidikan dan berkomitmen untuk mencerdaskan umat islam dan seluruh masyarakat Indonesia. Sebagaimana dalam buku Kristen Muhamamdiyah karya Prof. Dr. Abdul Mukti, M.Ed dan Fajar Riza Ul Haq, bahwa murid dan mahasiswa di Sekolah dan juga Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Indonesia Timur justru mayoritas adalah non muslim. Mereka tidak sekolah di sekolah Negeri atau sekolah non muslim, tetapi justru memilih di sekolah Muhammadiyah karena mutu dan kualitas pendidikan Muhammadiyah yang sangat baik. Mereka sekolah dan berkuliah di Muhammadiyah tetapi tetap mendapatkan pelajaran agama sesuai dengan agama mereka. Jadi Muhammadiyah memang sangat toleran dan rahmatan lil alamin.

Tantangan Muhammadiyah Ke Depan

Tantangan dalam konteks penjelasannya merupakan segala hal atau pun kegatan yang memiliki tujuan atau sifat yang menggugah kemampuan. Muhammadiyah sendiri dalam melakukan sebuah gerakan pastinya akan menghadapi sejumlah tantangan kedepannya.

Pertama, ketidakadilan sosial, ekonomi, dan politik yang tengah melanda masyarakat. Dalam kaitannya dengan politik, Muhammadiyah memang tidak didesain untuk berpolitik. Tokoh pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan agaknya memang tidak begitu mempercayai politik sebagai alat perjuangan. Meskipun demikian, Muhammadiyah dalam rekam jejaknya tidak antipolitik. Hanya saja dalam konteks keorganisasian, Muhammadiyah tidak terjur dalam politik praktis karena organisasi muhammadiyah sendiri terlalu suci dalam membawa ke dalam ranah politik. Akan tetapi, Muhammadiyah melalui kader-kader terbaiknya juga harus terjun ke gelanggang kebangsaan untuk ambil peran utama dalam proses perbaikan bangsa dan negara agar terhindar dari kegagalan. Kegaduhan politik di Indonesia yang akhir-akhir ini diperlihatkan oleh para elit merupakan akar masalah dari pertumbuhan ekonomi yang semakin melemah dan ketidakadilan sosial masih saja terjadi, puncaknya yaitu terjadi konflik.

Kedua, Arus sekularisme-materialisme yang juga melanda dunia menjadi tantangan besar bagi warga Muhammadiyah. Pada era globalisasi seperti saat ini, Indonesia mau tidak mau harus masuk ke dalam arus tersebut, namun dengan catatan tidak boleh terseret oleh arus. Keterbukaan warga Indonesia yang semakin baik dan demokratis merupakan kondisi yang menguntungkan bagi Muhammadiyah, karena peran Muhammadiyah akan semakin mudah diterima, namun dengan catatan bahwa Muhammadiyah harus bisa bergerak secara dinamis, luwes, dan kooperatif agar mudah diterima masyarakat dalam radius yang lebih luas.

Ketiga, cengekeraman
kapitalisme global yang berdampak langsung kepada pembangunan dan orientasi kehidupan yang memuja materi dan kesenangan duniawi. Jangan sampai amal usaha yang dimiliki Muhammadiyah terjadi pergeseran paradigma, yakni berorientasi kepada profit dan menjauhkan dari nilai teologi Al Ma’un sebagaimana gerakan awal Muhammadiyah berdiri.

Maka dari itu, dalam menghadapi segala tantangan yang akan muncul di masa Muhammadiyah ke depan ini perlu adanya satu kesatuan antar kader Muhammadiyah maupun masyarakat indonesia terlepas dari persoalan-persoalan baik berbeda pendapat, pilihan, dan pemikiran. Semoga dengan tulisan ini dapat menjadi renungan penulis pribadi dan kita bersama selaku kader Muhammadiyah dan juga penerus bangsa.