Oleh: Siti Aisyah, Aktivis Dakwah, Tinggal di Depok

Ramadhan kali ini sangat berbeda dengan Ramadhan sebelumnya. Pasalnya, kaum Muslim menyambutnya di tengah pandemi Covid-19 yang penyebarannya semakin massif dan memakan banyak korban jiwa serta tidak tahu kapan akan sirna. Di tambah lagi derita rakyat akibat kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Sempurnalah penderitaan rakyat. Ibarat kata, sudah jatuh tertimpa pula. Duka dan nestapa pun menyelimuti setiap diri manusia. Ramadhan di tengah pandemi ini seharusnya dijadikan momentum untuk kembali introspeksi diri.

Melalui wabah Covid-19 ini, kita diingatkan melakukan introsfeksi diri. Bisa jadi semua ini akibat ulah tangan manusia. Sebagaimana firman Allah SWT yang tercantum dalam Qur’an Surah Ar Rum ayat 42 yang artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia sehingga akibatnya Allah mencicipkan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka agar mereka kembali.”

Kita pun seakan ditegur karena dosa dan maksiat yang dilakukan manusia dan sikap acuh terhadap kemungkaran yang ada di tengah-tengah kita. Itulah yang mengundang azab Allah kepada kita semua. Di sinilah manusia harus introsfeksi diri. Introsfeksi dilakukan tidak hanya secara individu saja, masyarakat maupun negara pun harus melakukannya.

Pertama, individu. Semua petaka ini terjadi karena individu setiap manusia tidak bertakwa kepada Allah. Kebanyakan mereka tidak mau diatur dengan hukum Islam. Baik dari masalah makanan, pakaian, sosial, bernegara dan yang lainnya. Padahal, takwa adalah buah dari keimanan seseorang yang benar-benar memahami makna pemikiran rukun iman dan sadar betul konsekuensi dari perbuatannya yakni berbalas surga atau neraka. Ketakwaan ini menjadi kunci seseorang mau berhukum dengan aturan dari Sang Pencipta, Allah SWT di kala lapang ataupun sempit.

Kedua, masyarakat. Ketika ada kemaksiatan, sebagian masyarakat seakan acuh tak acuh dan tidak ada yang peduli untuk mencegahnya. Mereka tidak melakukan amar ma’ruf nahy mungkar, sehingga kemaksiatan yang terjadi dibiarkan saja. Padahal, akibat dari kemaksiatan tersebut bisa menyerang siapa pun tanpa memandang kaya atau miskin, anak-anak, muda ataupun tua, baik laki-laki maupun perempuan, Muslim atau pun non-Muslim, yang beriman atau yang tidak. Semua manusia akan terkena dampaknya.  

Maka, di sinilah pentingnya peran masyarakat untuk melakukan kontrol dan mengingatkan antar sesama manusia. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al- Ashr ayat 1-3 yang artinya, ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Ketiga, negara. Negara berwenang menerapkan hukum Islam dan memberikan sanksi yang tegas bagi yang melanggarnya. Ketegasan sanksi inilah bisa membuat pelakunya jera. Namun, penerapan hukum Islam ini akan mudah dilaksanakan oleh negara jika ada sinergi dari individu yang bertakwa, serta kontrol antar individu di dalam suatu masyarakat. Sehingga kegiatan amar ma’ruf nahy mungkar bisa terlaksana.

Yang paling efektif untuk melakukan aktivitas amar ma’ruf nahy mungkar adalah negara. Misalnya, terkait mewabahnya Covid-19. Negaralah yang bisa menghentikan penyebaran wabah ini dengan cepat. Caranya dengan melakukan karantina wilayah/lockdown seperti yang diperintahkan Nabi SAW dan dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khathab. Tapi apa yang terjadi? Pemerintah tidak melakukan lockdown, malah menerapkan PSBB yang dinilai tidak efektif. Akibatnya sampai sekarang pandemi ini terus menyebar dan korban yang meninggal pun semakin banyak. Tak hanya korban jiwa, wabah ini pun melumpuhkan seluruh sendi kehidupan baik di Indonesia maupun di dunia.

Maka, Ramadhan kali ini adalah waktu yang tepat untuk individu, masyarakat maupun negara untuk melakukan introspeksi dan melakukan perbaikan di tengah-tengah masyarakat sehingga akan tercipta kehidupan yang rahmatan lil aalamin. Rahmatan lil aalamin akan terwujud jika individu, masyarakat dan negara menerapkan Islam secara kaffah, di bawah naungan khilafah. Allahu Akbar. []

Biodata Penulis:

Biodata Penulis:
Nama: Siti Aisyah S.Sos.
Alamat: Kampung Rawageni RT 004 RW 002 Kelurahan Ratu Jaya, Kecamatan Cipayung, Depok.
Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga
Aktif: Kordinator Kepenulisan Komunitas Muslimah Menulis Depok.
No Email: ummuauf2017@ gmail.com