DepokNews–Di bulan Ramadan 1440 Hijriah dodol bermerk Harum yang berlokasi di Kukusan, Kecamatan Beji mulai dibanjiri orderan atau pesanan.

Dodol khas bermerek Harum ini ternyata sudah punya pasar tersendiri hingga luar negeri.

Nisa salah satu pelaku usaha Dodol Harum mengatakan dodolnya makin diminati setelah ia memperbaiki cara pengolahan dodolnya dengan belajar dari cara produksi salah satu pabrik dodol besar di Garut Jawa Barat.

“Saya ikuti sarannya. Dengan cara pengolahan yang baru, dodol betawi Harum matangnya seratus persen dan merata. rasanya juga makin terjaga. Buktinya dodol Harum makin diterima
pasar setelah saya mengubah proses produksinya”,katanya.

Permintaan dodol betawi semakin meningkat dengan makin bergairahnya warga Depok yang berangkat umrah dan haji.

Padahal sebelumnya dodol betawi hanya dikonsumsi saat lebaran atau jadi oleh-oleh mahasiswa UI Depok yang ingin pulang kampung ke daerah masing-masing asalnya saat liburan.

Para mahasiswa biasanya memborong sebelum pulang kampung.

Terutama saat jelang lebaran di mana pesanan juga datang dari warga Depok atau daerah sekitarnya.

Untuk yang dodol dalam kemasan kotak sedang dan atau bentuk bulat panjang berbungkus plastik harganya hanya sekitar Rp20 ribu.

Sementara yang berbungkus kotak besar harganya Rp40 ribu.

Menjelang bulan puasa dan lebaran, permintaan dodol sudah mulai berdatangan dan persiapan produksi juga sudah dimulai.

“Alhamdulillah, setiap jelang lebaran kami memproduksi dodol bisa mencapai satu ton. Produksinya dibantu para tetangga di Kukusan Beji Depok,”katanya.

Dodol harum menurut Nisa juga tetap mempertahankan rasa orisinil karena pertimbangan permintaan dan menjaga keaslian dodol betawi.

Di lokasi sama Ibu Nisa, Rokiyah menambahkan, usaha dodol yang sudah berjalan hingga tiga generasi yang sudah eksis sejak tahun 90-an ini ternyata telah menyandang label halal MUI sejak sepuluh tahun lalu.

Dodol merupakan salah satu makanan yang sering dicari ketika buka puasa selain kurma dan blewah.

Apalagi, bagi orang Betawi. Menurut Rokiyah, bagi orang Betawi, dodol seolah jadi makanan wajib disajikan saat Lebaran.

Menurut Rokiyah, meski baru awal puasa, ia sudah banyak menerima pesanan dodol untuk Lebaran.

“Sudah banyak banget yang pesan kalau buat Lebaran, sudah ada puluhan pelanggan kali ya. Di puasa ini juga ada aja si yang pesan,”katanya.

Dodol milik Rokiyah ini juga banyak dipesan oleh pejabat-pejabat Kota Depok saat hajatan maupun Lebaran, misalnya Wali Kota Depok Mohammad Idris, Wakil Wali Kota Depok Pradi Supriatna, dan pejabat DPRD Depok, maupun pejabat dinas-dinas Pemkot Depok.

“Pejabat-pejabat biasanya kalau pesan banyak-banyak, sampai kadang ada yang satu kuali kayak Pak Pradi tetangga kami ini”katanya.

Saat Ramadhan, Rokiyah mengaku omzetnya meningkat dari hari biasanya.

Biasa omzet yang didapatkannya Rp 5-6 juta per bulan, tetapi saat bulan puasa keuntungannya meningkat menjadi RP 70 juta per bulan.

“Kita jualnya dengan harga Rp 80.000 per kilogram karena banyak yang pesan sehingga omzet kita meningkat,” ucap dia.

Rokiyah juga bercerita soal dodol
Harum” yang bentuknya bulat. Menurut dia, bentuk bulat dodol itu melambangkan tali silaturahmi yang tak pernah putus seperti lingkaran.

Pembuatan dodol juga melambangkan gotong-royong dan tolong-menolong. Sebab, dodol tidak bisa dimasak sendirian akan tetapi secara bersama-sama.