DepokNews–Perkembangan teknologi di era Revolusi Industri 4.0 memberi pengaruh besar terhadap perubahan karakteristik pekerjaan yang ada. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya bermunculan jenis pekerjaan baru yang menuntut penguasaan pada salah satu ilmu yang sedang berkembang pesat saat ini, yaitu ilmu data.

Terkait hal tersebut, Pusat Studi Komputasi Matematika Universitas Gunadarma (PSKM UG) menggelar Data Science Seminar Series #1 dengan tema “Strategi Pengembangan Kompetensi Ilmu Data pada Perguruan Tinggi di Indonesia dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0”.

Acara tersebut berlangsung di Auditorium Kampus F8 Universitas Gunadarma, Selasa, 04 Februari 2020. Acara ini diikuti 180 peserta baik mahasiswa maupun dosen.
Dr. Tri Handhika, S.Si, M.Si. sebagai ketua pelaksana dalam sambutan sekaligus laporannya menjelaskan, tujuan seminar ini untuk menjembatani antara akademisi dengan pihak industri.

“Seminar ini untuk memperluas wawasan terkait strategi yang akan dijalankan oleh masing-masing pihak baik short-term maupun long-term sehingga dapat terwujud link and match antara dunia pendidikan dengan industri,” kata Dr. Tri Handhika.

Acara ini secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor IV Universitas Gunadarma, Prof. Dr. Didin Mukodim, DRS, M.M. Dalam sambutannya, Prof. Dr. Didin Mukodim berharap peserta bisa memperoleh ilmu tambahan terkait data science. “Manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, ajukan pertanyaan jika kurang paham,” pesan Prof. Dr. Didin Mukodim.

Pada acara ini juga diadakan penandatanganan MoU antara Universitas Gunadarma dengan PT Amartha Mikro Fintek.

Seminar yang dimoderatori oleh Dr. Setia Wirawan, S.Kom, M.MSI, Ketua Jurusan Sistem Informasi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Gunadarma, menghadirkan 4 pembicara ahli yaitu:

Prof. Dr.-Ing Adang Suhendra, S.Si, S.Kom, M.Sc – Dekan Fakultas Teknologi Industri (Universitas Gunadarma), Ardya Dipta Nandaviri, S.T, M.Sc – Senior Data Scientist (PT GO-JEK Indonesia), Dr. Andry Alamsyah, S.Si, M.Sc – Ketua Asosiasi Ilmuwan Data Indonesia dan Direktur Digital Business Ecosystem Research Center (Telkom University), Aria Widyanto – Director & Chief Risk and Sustainability Officer (PT Amartha Mikro Fintek).

Meski hampir semua kegiatan dijaman modern serba teknologi namun Aria Widyanto – Director & Chief Risk and Sustainability Officer, menyatakan bahwa teknologi hanyalah alat, jangan dijadikan tujuan. Hal itu karena masih banyak masyarakat Indonesia yg belum terjangkau teknologi, sehingga kita harus membuat teknologi yang bisa menjangkau mereka. Kami di Amartha memperhatikan banyak aspek untuk menilai resiko kredit (credit scoring), diantaranya kesehatan, kebersihan lingkungan, kondisi rumah, dan tentunya riwayat kredit. Oleh karena itu, data science sangat diperlukan dalam penentuan credit scoring.

Saat ditanya mengenai “gap” yang ada antara industri dan dunia pendidikan khususnya mahasiswa, Ardya Dipta Nandaviri, S.T, M.Sc – Senior Data Scientist mengatakan bahwa gap itu cukup terasa, sebagai contoh mahasiswa-mahasiswa lulusan perguruan tinggi dapat melakukan coding dengan baik. Namun sangat sedikit lulusan yang memiliki daya analisa yang baik. Padahal menurutnya, daya analisa yang baik sangat dibutuhkan untuk mengemas suatu masalah nyata yang dihadapi menjadi sebuah model data science. Beliau memberi contoh kasus suatu daerah yg memiliki cancel order terbanyak. Perlu dilakukan analisa mendalam sedemikian sehingga dapat ditentukan data apa saja yang harus diperoleh dan bagaimana memodelkan data tersebut sehingga pihak GO-JEK dapat mengetahui sumber masalah dan solusinya.

Selain itu, Point penting yang disampaikan Dr. Andry Alamsyah, S.Si, M.Sc – Ketua Asosiasi Ilmuwan Data Indonesia dan Direktur Digital Business Ecosystem Research Center adalah bahwa mahasiswa-mahasiswa di perguruan tinggi umumnya kurang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Hal ini kemungkinan karena kurangnya waktu yg diberikan pada mahasiswa untuk mengembangkan diri, dikarenakan pendidikan di Indonesia masih mengejar akreditasi dalam aspek durasi lulus dan juga sulitnya memperoleh data primer di lapangan. Beliau berpesan bahwa sebelum melakukan penelitian lebih lanjut, sebaiknya mahasiswa memprioritaskan utk memperoleh data terlebih dahulu, agar usulan metode atau model yang dimiliki dapat diimplementasikan dengan baik.

Pembicara Universitas Gunadarma, Prof. Dr.-Ing Adang Suhendra, S.Si, S.Kom, M.Sc, dalam pemaparannya menyampaikan bahwa Universitas Gunadarma sudah siap menghadapi revolusi industri 4.0. Kesiapan Universitas Gunadarma dapat dilihat dari tersedianya fasilitas sarana dan prasarana yang  terkait data science, seperti Mesin Cluster Computing/Cloud Computing, Mesin DGX-1: untuk implementasi Data Science Algorithm, Laboratorium Cloud Computing-Infrastructure. Universitas Gunadarma juga memiliki Pusat Studi Komputasi Matematik dan Pusat Studi Kombinatorik, lanjut Prof. Adang Suhendra. Selain itu, untuk meningkatkan kualifikasi Dosen terkait Data Science, Universitas Gunadarma memberikan Pelatihan Datathon-NVIDEA dan Rapids Library-NVIDEA secara periodik.  Beliau juga menyampaikan bahwa dari sisi kurikulum Universitas Gunadarma khususnya Fakultas Teknologi industri juga telah siap dengan menyediakanmata kuliah-mata kuliah yang terkait dengan Data Science seperti Matematika, Statistika, DataBase, Numerik, Algoritma & Pemorograman, Kecerdasan Buatan, Data Mining & Big Data Analysis, Machine Learning, Algoritma Deep Learning, Cyber Security, dan Financial Technology.

Data Science Seminar Series #1 ditutup dengan pemberian sertifikat dan plakat kepada semua narasumber dan moderator oleh Ketua Pusat Studi Komputasi Matematika Universitas Gunadarma (PSKM UG).