Suasana kuliah umum (Istimewa)
DepokNews- Pusat Studi Jepang dan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia bekerjasama menggelar Kuliah Umum Berseri Jepang IV/2017. Tema yang diangkat kali ini adalah Membangun Jepang dan Masyarakat Serta Pentingnya Hal Ini Bagi Indonesia. Dalam kuliah umum disampaikan oleh seorang ekspatriat Jepang bernama Mr Ryo Nakamura yang merupakan Miniter Direktur Pusat Informasi dan Kebudayaan (Diplomasi Publik).
Beliau menyampaikan sejarah terbentuknya Jepang. Bahkan Mr Ryo juga sempat menceritakan soal bagaimana transportasi di Jepang dan mengenai beras yang menjadi pangan di Jepang.
Mr Ryo menceritakan bagaimana terbentuknya Jepang pada masa tahun 1600 hingga 1800. Saat itu Jepang terdiri dari klen-klen raja kecil wilayah. Saat itu dikenal dengan Rezim Tokugawa.
“Rezim ini ada sekitar tahun 1600-an. Saat itu masuknya kaum Samurai yang mengangkat dirinya sebagai kaum tertinggi. Sebutan saat itu adalah Kaum Elit Samurai,” kata Direktur PSJ UI, Diah Madubrangti.
Diceritakan, pada rezim tersebut kondisi Jepang masih porak poranda. Sekilas, kondisinya sama dengan Indonesia. Diah menceritakan, Jepang sempat menutup diri untuk dunia luar. “Akan tetapi tetap mengadakan hubungan dengan bangsa tetentu seperti Belanda, Cina dan Korea. Namun disitulah moral bangsa (Jepang) terbentuk,” tukasnya.
Jepang saat itu juga hidup dengan sistem kasta. Pemerintah Jepang sendiri tetap berusaha mensejahterakan bangsanya. Namun di penghujung tahun 1800-an ada generasi muda Jepang yang muncul dan berontak.
“Ada perombakan. Tokugawa hancur dan masuk pada jaman Meiji. Disitulah pendidikan Jepang masuk secara nasional. Semua rakyat bisa sekolah. Sebelumnya hanya kalangan tertentu saja yang bisa sekolah,” paparnya.
Ryo juga menceritakan bahwa pada dasarnya Jepang dan Indonesia adalah sama. Keduanya merupakan masyarakat agraris. “Jepang sama dengan kita, menjadi masyarakat agraris jadi mereka juga makan beras,” tukasnya.
Namun dengan terbatasnya lahan membuat masyarakat harus berkompetisi untuk memajukan wilayahnya. Sehingga Jepang mulai menggalakkan industri. Kendati demikian, Jepang tidak melupakan kodratnya sebagai masyarakat agraris.
“Walaupun kaum muda banyak yang ke kota namun di desa tetap hidup bertani yang dikelola keluarga,” paparnya.
Mr Ryo juga menceritakan mengenai kedisiplinan yang dimiliki masyarakat Jepang. Kedisiplinan itu ditanamkan sejak anak-anak. Karena sejak leluhur Jepang sudah menanamkan pentingnya pendidikan moral. Diceritakan bagaimana jika seseorang berbuat kesalahan maka akan mendapat hukuman tinggi. Sebaliknya, jika berbuat baik akan mendapat penghargaan yang tinggi.
“Mereka juga sangat menjunjung tinggi senior (leluhur). Kesadaran bahwa. Negara itu adalah Negara saya. Itu dapat dilihat dari perilaku mereka. Tolak ukurnya adalah pengabdian tertinggi terhadap Negara,” tukasnya.
Sarah, salah satu mahasiswa yang ikut kuliah ini mengaku senang bisa mendapatkan cerita langsung dari Mr Ryo. Dirinya bisa mendengarkan langsung bagaimana Jepang membangun negaranya hingga menjadi negara maju.
“Kita seharunya bisa seperti Jepang. Karena dulu kita juga sama-sama porak poranda seperti Jepang. Bedanya, Jepang bisa lebih cepat maju,” tutupnya.(mia)