Pembagian sembako di Monas beberapa waktu lalu (Istimewa)
DepokNews- Psikolog Universitas Pancasila (UP) Aully Grashinta men‎ilai kasus bagi-bagi sembako yang berujung kematian bukan kali ini saja terjadi‎. Ketika ada pengumuman pembagian sembako atau apapun yang gratis potensi untuk rusuh.
“Karena berebutan pasti tinggi dan potensi rusuh,” katanya, Jumat (4/5/2018).
Kondisi ini bukan karena masyarakat tergolong miskin. Justru banyak dari mereka yang tergolong cukup tapi juga ikut kegiatan seperti ini. “Ini terjadi karena konformitas dan ikut-ikutan,” paparnya.
Ketika ada tetangga yang mengajak, kemudian orang dekat mengajak, ada kerumunan yang menimbulkan ingin tahu. “Akirnya ikut serta pada kegiatan tersebut.‎ Seringkali dampak crowd (kumpulan massa) memang tidak dipertimbangkan karena kurangnya antisipasi dan perencanaan dari panitia,” tukasnya.
Jumlah massa tidak diperhitungkan dengan baik, waktu dan sistem pembagian juga tidak direncanakan sehingga semua menjadi chaos.
Orang tua sendiri seharusnya memperhitungkan dan berkewajiban melindungi anaknya terutama yang di bawah umur dari resiko resiko yang berbahaya.  Miskinnya lebih pada miskin edukasi.
“Misalnya apakah perlu atau tidak untuk ikut acara, ketika terjebak pada situasi chaos, apa yang dilakukan. Di manakah posko P3K dan sebagainya. Jika informasi tersebut tidak ada ya jelas potensi ‘kecelakaan’ akan menjadi tinggi,” pungkasnya.(mia)