DepokNews– Bincang Santai Depok Kita yang dipandu oleh Dr Pribadoko kembali menghadirkan anggota DPRD Provinsi Jawa Barat yang juga Bakal Calon Wali Kota Depok dari PKS Imami Budi Hartono atau yang sering dipanggil Bang IBH. Bincang santai kali ini membahas khusus terkait profile lengkap IBH mulai dari masa SD hingga awal mula karir di politik.

Pada kesempatan tersebut, Dr Pribadoko lebih banyak menguliti pengalaman ke masa SD hingga kuliah serta awal mula masuk ke partai politik.

Berikut dialognya “Pak Imam Budi Hartono saya baca di profilnya Pak Imam lahir di Jakarta, SMP di Jakarta dan SMA di Jakarta, ceritakan waktu lahir dulu di daerah mana lahirnya.

Imam menjelaskan bahwa dirinya dilahirkan di daerah Setia Budi Jakarta Selatan tahun 1968 dan sekolah di SD Negeri Muhammadiyah 12 Setia Budi dan sekolah tersebut saat ini sudah tergusur termasuk kampung tempat lahir dan yang tersisa hanya masjid yang sering dipakai shalat waktu kecil.

Pada masa kecil suasana masih kampung Betawi asli tapi bernuasa wilayah kota, setiap hari Minggu masyarakat sangat ramai lari pagi dari rumah ke Monas dan saat itu terasa sangat dekat karena suasana masih sangat bagus dan bersih artinya sangat jauh berbeda dulu dan sekarang.

“Waktu jaman itu masih suasana kampumh jadi saya sering main seperti galasin, petak umpet, kalau main. Dan kalau waktu main galangsing Allhamdulilah saya tidak pernah berantem begitupun waktu kecil,”ujar Imam

Selanjutnya setelah lulus SD, IBH Kecil masuk SMP Negeri 58 dan hingga saat ini sekolah tersebut masih ada di Setia Budi. Namun dengan posisi yang baru yaitu dekat SMA Negeri 3 Jakarta.

” Kalau yang dulu sudah jadi cis plaza sekarang dikelilingi gedung-gedung bertingkat. Waktu SMP aktivitas saya dulu ikut paskibra ya, jadi setiap kali upacara tuh sering jadi pelaksana pengibar bendera,”katanya.

Sejak SMP dirinya mendapat juara 3 kelas sedangkan waktu SD Imam kecil tidak pernah mendapatkan juara kelas.


” Waktu SMP terkaget-kaget karena SD nggak pernah juara, tiba-tiba SMP juara 3. Nah setelah ditelusuri, mungkin SMP beda dengan SD yang lebih banyak sosial seperti sejarah. Sedangkan waktu SMP banyak bahas IPA kebetulan saya agak menonjol di mata pelajaran matematika,”ungkapnya.

Selain jago matematika, Imam juga mengaku mendapatkan nilai 9 mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan.

” Alhamdulillah itu butir-butir Pancasila 36 butir Pancasila saya hafal betul dulu. sekali. Jadi memang waktu SMP lebih banyak paskibra dan pintar hitungan,”bebernya.

Setelah lulus SMP imam masuk ke SMA 3 Jakarta, dan sejak itu dirinya mulai mengenal organisasi dan terlibat dalam rohani Islam (rohis).

“Saya benar-benar mengenal organisasi sejak saat itu dan sangat aktif. Saya biasanya berangkat pagi jam 6 gitu, pulang sampai jam 10 malam. Karena setiap hari ada saja kegiatan-kegiatan seperti bimbingan baca Quran, bimbingan pendidikan seperti matematika, fisika kimia. semua diajarin sama kakak kelas terus juga saya ikut bela diri kungfu,”katanya.

Disamping aktif di rohis,Imam juga mengaku aktif di OSIS bagian kependidikan dan pernah ikut lomba karya ilmiah tingkat SMA.

“Dulu sering ikut lomba karya ilmiah di biro pendidikan, saya dibagian pendidikannya pernah ikut hanya juara 3 saja. Juara 3 tingkat SMA belum masuk ke tingkat nasional. Jadi cukup luar biasa aktif di rohis, kungfu,”

Selanjutnya setelah lulus SMA masuk kuliah dapat undangan ke ITB. Namun tidak diterima dan setelah itu ikut sistem penerimaan mahasiswa baru dan diterima di UI fakultas teknik jurusan gas Petro kimia.

” Pelajaran kimia ternyata jatuh cinta dan mencari mata kuliah yang mata pelajarannya banyak kimianya.Dapat teknik kimia sebab saya pengen ke ITB dilarang sama orang tua terlalu jauh katanya ada UI dan saya masuk kuliah hingga pindah ke Depok,”

Perjalanan perkuliahan melanjutkan dari aktivitas yang ada di SMA yaitu sebagai anggota rohani Islam atau mungkin aktivis dakwah kampus.

“Untuk kuliah saya nggak banyak kegiatan organisasi. karena maklum orang tua saya seorang sopir jika saya harus mencari tambahan untuk fotocopy dan hal-hal yang lain. sehingga saya waktu kuliah mencari kerja dengan menjadi guru privat SD ,SMP, SMA Alhamdulillah akhirnya berhasil juga,”

Selama kuliah dirinya tingga di kos dan belajar mandiri tidak tergantung sama orang tua. Namun sebulan sekali tetap menjenguk bapak atau ibu di rumah di Jakarta.

“Meski saya kos tetap punya waktu untuk nengokin orang tua. Ya istilah pulang ke kota asal,”bebernya.

Setelah lulus mengajar menjadi guru di STM Panmas dan cukup lama mengajar tentang matematik dan keilmuan lainnya. Namun dengan adanya reformasi tahun 1998 teman-teman mahasiswa mencoba mengajak untuk ikut demo dan setelah itu ada keputusan membuat partai danmenjadi ketua divisi waktu pertama DPC PKS Partai Keadilan kecamatan Beji.

“Dan setelah Depok menjadi kota dan jadilah saya menjadi ketua DPD pertama Partai Keadilan di Kota Depok. Begitu cepat dan akhirnya terpilih menjadi anggota DPRD pertama kali saya Depok dan sejarah juga di Depok menjadi anggota dewan,”

“Spektrokimia itu kan bidang yang sangat menggiurkan, itu Pertamina Caltex minyak nggak tertarik untuk jadi eksekutif bekerja di tempat-tempat basah seperti itu. Saya juga satunya itu tugas akhirnya beasiswa dari Pertamina sebenarnya dan Pertamina berharap juga saya bisa melanjutkan S2 di Australia waktu itu,”

“Cuman ternyata saya memilih memilih di bidang politik dan pengen banget jadi pejabat pertamina. Tapi ternyata Allah takdirkan di politik untuk melayani masyarakat,”katanya.

Ditambahkan imam dirinya lebih senang di politik dan motivasinya yaitu karena tugas dari partai karena banyak sekali hal-hal yang perlu dibenahi dalam sistem pemerintahan di Indonesia.

“Walaupun hanya Kota Depok kecil gitu ya dan sekarang agak besar lagi di pemerintahan jawa barat. Banyak hal-hal yang bisa kita perjuangkan untuk kepentingan warga masyarakat ada suatu kesenangan tersendiri ketika melakukan advokasi ke masyarakat sehingga berhasil gitu,”pungkasnya.