DepokNews–Para pelaku usaha atau petani buah Belimbing di Kota Depok memasuki masa panen namun mengeluhkan kendala pemasaran buah Belimbing paska memasuki masa panen.

Salaha satu petani buah Belimbing di kebon Belimbing lahan Binagkit di Kelurahan Pondokcina, Kecamatan Beji Fahrudin atau yang biasa disapa Kupra kepada wartawan mengatakan
kendala pemasaran belimbing Depok, tidak jauh berbeda dengan kendala buah-buahan tropis lainnya.

Namun belimbing Depok yang sangat dekat dengan ibu kota membuatnya mudah untuk di distribusikan selama petani bergabung dengan koperasi untuk memudahkan pemasaran.

“Namun Koperasi belimbing yang ada pun harus memiliki jaringan distribusi yang baik mulai dari pedangan di pasar tradisional hingga pasar modern, namun kalau kami tahu saat ini sudah tidak ada”katanya.

Untuk itu dibutuhkan peran serta pemerintah sebagai fasilitator, dan regulator untuk memberikan dukungan dan akses bagi petani dalam memproduksi dan mengembangkan komoditi ini.

Selain itu, belimbing  sebagai komoditas holtikultura juga mudah rusak dan busuk.

Untuk mengatasi kondisi tersebut memang dibutuhkan sentuhan pengetahuan dan teknologi setelah belimbing di panen.

Pengolahan pun bisa dilakukan mulai dari tingkat petani agar buah belimbing tetap memiliki nilai jual lebih.

Salah satunya melalui produk olahan belimbing, seperti dodol, kripik, syrup, dan lain sebagainya. Selain kedua masalah di atas masih ada kendala lainnya.

Banyaknya lahan pertanian belimbing di Depok yang beralih fungsi menjadi kawasan pemukiman penduduk, membuat kapasitas produksi belimbing juga menurun.

Harga BBM yang mengikuti harga pasar dunia, ternyata  memicu efek domino mulai dari produksi hingga penjualan buah belimbing. Kondisi ini tentu sangat merugikan petani bahkan pembeli.

Sebab harga BBM akan memengaruhi biaya pupuk, transportasi bahkan daya beli masyarakat sebagai konsumen akhir.

Pasokan belimbing yang masih fluktuatif dan belum kontinu dari petani membuat produksi belimbing bisa sangat melimpah atau justru kekurangan.

Selain itu, saluran distribusi yang panjang mulai dari petani, pengumpul, pedagang besar, dan supplier bisa membuat harga belimbing naik.

Dia mengatakan untuk sekali panen sekitar lima ton bisa dihasilkan dari perkebunan buah Belimbing di lapangan Binangkit, Kelurahan Pondokcina ini.

“Dulu pas panen Belimbing kita jual ke Pasar Minggu, namun untuk sekarang tidak bisa disana, tapi dijual ke Pasar Induk”katanya.

Dia mengatakan sepatutnya peran Pemkot Depok membantu para petani saat masa panen sehingga pemasaran buah belimbing tepat sasaran dan bisa terjual dengan baik.