Talk show kontributor muda.

Perubahan Mindset Kepemimpinan Nasional

Posted on 424 views

DepokNews — Depok (30/4), Generasi muda harus mengubah cara berpikir dan bertindak dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Karena perubahan kondisi umat dan bangsa ditentukankematangan sikap dan keluasan wawasan para pemimpinnya. Hal itu ditegaskan Din Syamsyudin, Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban dalamIndonesia Youth Contribution Summit (IYCS) 2018, yang digelar Rumah Kepemimpinan di auditorium FMIPA Universitas Indonesia. Acara bertema “Kontribusi Pemuda Masa Kini dalam Menyongsong Era Baru Indonesia” itu berlangsung 27 April-1 Mei 2018.

“Perubahan mindset harus dilakukan para calon pemimpin. Menjadi baik saja tidak cukup, tapi harus be the best, menjadi yang terbaik. Saya berharap alumni Rumah Kepemimpinan akanbermuara pada terjadinya perubahan. Umat dan bangsa ini membutuhkan para calon pemimpin Indonesia masa depan,” ujar Din yang pernah menjabat Ketua Umum PP Muhamadiyah.

Pembicara lain Warsito Purwo Taruno, penemuteknologi ECVT dan ECCT untuk diagnosis kanker. Ia menekankan inovasi sebagai prasyarat bagi sebuah bangsa untuk bertahan menopang bebanzaman. Sebagaimana manusia mengalami proses pengembangan potensi, mulai dari penemuan jati diri (20-30 tahun), bertahan hidup (30-40), berjuang dalam berbagai profesi (40-50), berkontribusi lebih luas (50-60), dan seterusnya. “Saat ini era revolusi industri keempat yang ditandai internet of things(IoT). Itulah kesempatan yang Allah berikan untukgenerasi muda, yang harus dipahami dan dikuasai seoptimal mungkin. Kebesaran bangsa dan umat dengan kaum muda sebagai pemimpinnya, tidak akan mungkin terwujud tanpa integritas dan kompetensi tersebut,” ungkap Warsito, alumniShizuoka University, Jepang.

Disamping pemaparan tokoh nasional, IYCS juga dimeriahkan talk show para kontributor muda, yakni: Heni Stri Sundari (Pendiri Agro Edu Jampang), Habibi Yusuf Sarjono (birokrat di Kementerian Perindustrian), Gesa Falugon (wirausahawan Owner Ramesia), Najeela Shihab (Pendiri Sekolah Cikal), dan Refi Kunaefi (CEO Akuo Energy). Gagasan dan aksi nyata kaum muda menjawab tantangan yang disampaikan para tokoh sebelumnya.

Seperti Najeela Shihab yang memegang prinsip “Semua Murid Semua Guru”, mengembangkan inovasi dalam pendidikan. Peran teknologi pendidikan antara lain: proses adaptasi guru, literasi murid, keberdayaan orangtua, transparansi pembuat kebijakan, dan pelibatan medua, korporasi serta publik dalam pencerdasan bangsa. “Kondisi pendidikan kita sudah darurat. Sekitar 5,1 juta anak tidak menyelesaikan sekolah karena harus bekerja, tidak ada akses sekolah, menikah usia muda, hingga rendahnya minat belajar,” papar Najeela. “Karena itu, inovasi pendidikan membutuhkan waktu lebih dari 20 tahun, bahkan baru terlihat dampaknya setelah 50 tahun. Kita menanam pohon yang akan dinikmati buahnya oleh generasi masa datang.”

Rumah Kepemimpinan membina 260 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di tujuh kota di Indonesia (Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan dan Makassar). Tahun ini akan dibuka pusat pembinaan di Surakarta dan Samarinda. Sejak berkiprah 2002, RK telah mewisuda 1311 alumni yang mengabdi di berbagai sektor kegiatan.

Salah seorang alumni RK bergerak dalam bidang energi, Refi Kunaefi, kini menjadi Direktur Pengembangan Proyek Aquo Energy. “Indonesia memiliki kesempatan besar bagi kalangan akademisi dan periset dalam bidang tenaga listrik,karena dari 73.000 desa di seluruh pelosok Tanah Air, ada sekitar 12.000 desa yang tidak memiliki akses listrik atau hanya mendapatkan akses listrik 4-5 jam dalam sehari,” jelas Refi. Untuk itu, bisa dikembangkan energi listrik sesuai dengan potensi daerah.

Alumni RK yang menjadi wirausaha, Gesa Falugon, menyatakan tantangan terberat kaum muda adalah dirinya sendiri, melawan kemalasan dan ketakutan.”Yang paling ditakuti itu bukan kemiskinan dan kebodohan, tapi ketidakmampuan berdiri di ataskaki sendiri,” seru Gesa, Founder PT RamesiaMesin Indonesia. Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) itu berkisah tentang perjuangannya jatuh-bangun mengelola perusahaan dalam bidang permesinan. Jika kaum muda telah berhasil mengubah mindset dirinya, maka perubahan umat dan bangsa akan lebih terbuka