DepokNews- Universitas Indonesia melalui Direktorat Kemahasiswaan bersama Telkom University mempresentasikan Peran Perguruan Tinggi dalam menghadapi New Normal. Dari pihak UI diwakili oleh Direktur Kemahasiswaan yaitu Devie Rahmawati, sedangkan dari Telkom University diwakili ol

Presentasi dilakukan dalam Webinar Expert Series Internasional yang diselenggarakan oleh Elsevier, dimana pendaftarnya mencapai hingga 1.086 orang. Dalam webinar tersebut,Devie, juga mewakili UI bersama Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan & Alumni Unhas, Dekan Fakultas Hukum Unhas, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan & Alumni Unhas dan Dekan Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia. “Dalam webinar itu disampaikan presentasi tentang Implementasi Kebijakan Kampus Bidang Kemahasiswaan Melawan Covid-19, dalam Webinar Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Hasanudin, dengan jumlah lebih dari 500 pendaftar,” kata Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UI, Rosari Saleh, Rabu (27/5/2020).

Direktur Kemahasiswaan UI, Devie Rahmawati mengatakan, UI memiliki A-B-C yaitu Academic Social Responsibility – Building An Online Environment dan Communication, sebagai strategi di bidang kemahasiswaan selama menghadapi pandemi. Kritik selama ini tentang generasi millennial yang dinilai sebagai generasi yang ego sentrik, tidak empatik, dan lemah dalam beraksi, digugurkan selama masa pandemi ini. Terbukti dalam konteks UI, para millennial ini justru menjadi yang terdepan dalam melakukan Academic Social Responsibility. Para Mahasiswa UI berhasil meruntuhkan mitos-mitos negatif tentang generasi mereka. Sebagai ilustrasi, aksi menjadi relawan kesehatan di Rumah sakit oleh mahasiswa UI, tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa dari latar belakang ilmu kesehatan, tetapi juga Mahasiswa ilmu-ilmu sosial.

“Tidak hanya itu, Mahasiswa mampu bekerjasama lintas ilmu, lintas fakultas. Mereka tidak hanya berkordinasi, tetapi juga memproduksi berbagai temuan aplikasi dan alat – alat teknis, sarana curhat psikologis, yang dibutuhkan semasa pandemi ini,” kata Devie.

Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) memang bukan hal baru bagi UI. Namun, pandemi telah memperluas penggunaannya. Temuan jajak pendapat dan kualitatif terungkap capaian dan juga tantangan dari implementasi PJJ yaitu aspek 7 T : Technology, Trust, Team, Test, Time, Training dan Touch. Dalam hal teknologi misalnya, penuturan para pengajar senior, banyak yang mengakui bahwa PJJ dengan teknologi baru ini sebenarnya tepat untuk mereka.

“Mereka merasa seharusnya menggunakan teknologi seperti ini sejak lama,” tambah Devie yang juga ketua tim peneliti dampak PJJ bagi sivitas akademika Ditmawa.

Dia mengingatkan agar setiap individu mempersiapkan diri terhadap F-U-T-U-R-E. Yaitu tantangan Financial, Uncertainty Health Condition, Transfer Knowledge and Skills, Unemployment, Research dan Entrepreneurship. Dengan kondisi kesehatan yang belum dapat dipastikan, mengingat vaksin yang belum ditemukan, maka kampus berpotensi mengurangi aktivitas publik sivitasnya, yang membuat kampus seperti Cambridge misalnya sudah mengumumkan hingga akhir tahun 2020, perkuliahan akan dilakukan sepenuhnya online.

“Ketika kampus berlangsung online, bagaimana dengan pembiayaan di kampus? Apakah benar ketika kampus tidak dihadiri mahasiswa, maka ongkos infrastruktur benar – benar dapat berkurang? Mengingat banyak kampus di amerika yang justru memilih melakukan penyesuaian jumlah pengajarnya, “ tutup Devie.