Jakarta, 12 Maret 2021 Saya merinding melihat kekompakan tentara kitadan masyarakat melawan Belanda di film itu. Begitu komentar salah satupeserta dari SMPN 5 Depok, Ayeesha Kanzazka Meotoosu, usai menyaksikan film pendek tentang Serangan Umum 1 Maret 1949.

“Film itu membuat saya semakin ingin lebih mencintai Indonesia. Caranya melihat sejarah para pahlawan,” lanjut Ayeesha yang bercita-cita berkarir di bidang ilmu kesehatan dan kedokteran. Sementara Lulu Nur Fadhilah Mumtazah dan Muhamad Iqbal Saputra merasa takjub dan semakin ingin

membanggakan         Negara         Indonesia         dengan         cara          berprestasi.

Pernyataan Ayeesha dan dua temannya itu, hanya tiga dari puluhan komentar yang muncul di acara Roadshow to School pada 2021 yang digelar daring oleh Institut Literasi Nasionalisme (ILNAS) sejak pukul 08.00 WIB hingga menjelang Sholat Jum’at hari ini, 12 Maret 2021. Melibatkan sekitar 100 orang SMPN 5 Depok sebagai peserta, kegiatan tersebut mengambil tema: Kupas tuntas nilai-nilai nasionalisme melalui peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, di Yogyakarta. Acara dibuka oleh Direktur Eksekutif ILNAS Dr Wahidah R Bulan, M.Si yang sekaligus bertindak sebagai pembicara tunggal, juga dihadiri Kepala Sekolah SMPN 5 Depok Ety Kuswandarini, M.Pd. serta Kantor Kesbangpol yang diwakili Kasi Bina Ideologi dan Wawasan Kebangsaan Diah Haerani S.Pd.

Literasi Nasionalisme merupakan isu yang serius digarap ILNAS sejak kemunculannya pada Desember 2019 lalu. Berangkat dari keprihatinan terhadap berbagai temuan adanya kasus-kasus yang mengindikasikan rendahnya nasionalisme masyarakat termasuk pelajar (tidak hafal lagu Indonesia Raya, tidak hafal Pancasila, kurang mengenal dengan baik sejarah hidup tokoh-tokoh pahlawan bangsa), ILNAS secara rutin menggelar kegiatan yang semuanya bermuara pada upaya meningkatkan nasionalisme, terutama pada anak, pelajar, dan mahasiswa. ILNAS melalui berbagai kegiatannya selain itu bermaksud menjadi teman bagi para pelajar dan pemuda, terutama dalam menghadapi serbuan informasi yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai yang menjadi rujukan bangsa Indonesia.

“Anak-anak dan pemuda kita saat ini menghadapi serbuan informasi yang sangat masif akibat interaksi mereka yang sangat mendalam dengan media sosial. Padahal disisi lain mereka, terutama anak dan pelajar yang masih mencari identitas diri belum sepenuhnya siap menghadapi gempuran

informasi menyesatkan tersebut yang begitu dahsyat bak tsunami.” Begitu ungkap Dir. Eksekutif ILNAS lebih lanjut.

Sempat vakum sesaat karena situasi pandemi, ILNAS sebelumnya sudah memulai kegiatannya di Taman Lembah Mawar Depok melalui kegiatan literasi nasionalisme kepada siswa TK dan SD melalui kegiatan mewarnai, menggambar, membacakan kisah pahlawan serta aneka lomba.

“Penanaman nasionalisme harus dimulai sejak dini dan harus melibatkan seluruh elemen masyarakat seperti keluarga dan kelompok perempuan selain

melibatkan multi stakeholder atau pentahelix (Pemerintah, swasta, Perguruan Tinggi, Masyarakat atau NGO, dan juga media massa). Peningkatan nasionalisme adalah tanggung-jawab kita bersama dan tanggungjawabnya tidak bisa diserahkan hanya kepada sekolah melalui pendidikan mata pelajaran PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan).

Setelah diperdengarkan Lagu Indonesia Raya, acara yang dimoderatori oleh Sekretaris Eksekutif ILNAS Eni Saeni, acara dibuka dengan tayangan film pendek tentang Serangan Umum 1 Maret 1949 untuk selanjutnya diisi dengan

paparan materi dan diskusi dengan para siswa. Beberapa pertanyaan yang muncul dalam diskusi tersebut diantaranya kenapa Indonesia tak maju seperti negara lain padahal Indonesia kaya, kenapa Singapura lebih maju dari Indonesia padahal sumber daya alam Indonesia lebih banyak, bolehkah pelajar mempelajari ilmu politik, hingga pertanyaan kritis tentang PKI dan dihapusnya Dwi Fungsi ABRI.

Merespon kegiatan Roadshow to School 2021 yang diselenggarakan ILNAS Kepala Sekolah SMPN 5 Depok Ety Kuswandarini, M.Pd. memberi apresiasi, karena dapat memberi inspirasi dan semangat pada anak-anak yang sering melupakan sejarah. “Dengan kegiatan ini semoga dapat membentuk karakter nasionalisme pada anak-anak dan mereka jadi lebih mencintai Indonesia

Sementara Kasi Bina Ideologi dan Wawasan Kebangsaan Diah Haerani S.Pd., menyebutkan bahwa program Roadshow to School ini salah satu cara menumbuhkan kecintaan pada negara melalui literasi, sehingga ke dalam diri peserta akan terinstal info yang baik dan benar tentang perjuangan negerinya.

Tentang diangkatnya peristiwa sejarah sebagai isu dalam kegiatan Roadshow to School ILNAS, menurut Iyang yang menjabat sebagai KIE Kehumas di ILNAS merupakan hal yang disengaja karena Indonesia merupakan bangsa yang besar dengan sejarah perjuangan yang panjang baik untuk mendapatkan kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, hingga mengisi kemerdekaan. “Sejarah perjuangan kita sangat kaya, tapi banyak diabaikan dan dilupakan.” Lebih lanjut ia mengatakan bahwa dengan mengangkat isu peristiwa sejarah Indonesia diharapkan pelajar dan pemuda dapat mengambil hikmah dari peristiwa tersebut, selain lebih menghayati peristiwa yang terjadi dan tentu lebih menghargai pengorbanan para pejuang bangsa.

Selain Roadshow to School ILNAS juga mempunyai sejumlah kegiatan lain, diantaranya Festival Cinta Indonesia (memperingati 17 Agustus), Bincang Nasionalisme, Pemilihan Duta Literasi Nasionalisme serta Keluarga Nasionalisme. Berharap dapat berkolaborasi dengan berbagai unsur yang ada di Kota Depok termasuk Pemerintah Kota Depok, ILNAS yang tidak hanya beraktifitas di Kota Depok juga menyelenggarakan kegiatan literasi nasionalisme diberbagai daerah lainnya. Sebelumnya ILNAS pernah menyeleggarakan kegiatan Webinar mengangkat isu Nasionalisme dan Era Kenormalan baru yang diikuti 300 guru PPKN dari berbagai daerah, termasuk dari Indonesia Timur seperti Papua.