Kegiatan penanggulangan dampak bencana (Istimewa)
Tim Pengabdian Masyarakat (pengmas) DRPM dan penelitian Vokasi Komunikasi (vokom) Universitas Indonesia (UI) melakukan pelatihan mitigasi bencana dan penanggulangan dampak bencana di Bali. Pelatihan kali ini digelar di TK Negeri Pembina Karangasem Amlapura. Pelatihan diikuti oleh 246 anak TK yang baru saja mengalami pengalaman merasakan gempa yang menimpa Lombok pada pada Minggu (29/7) yang juga dirasakan oleh masyarakat Pulau Dewata.
 Kegiatan yang bertajuk “Meminimalisir Efek Negatif Bencana Alam dengan Integrasi Mitigasi Bencana” ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi pasca bencana gunung berapi yang mencakup kegiatan pencegahan, kesiapsiagaan, pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi.
“Masyarakat sekitar Gunung Agung menjadi sasaran kami, mengingat peristiwa letusan Gunung Agung yang terjadi semenjak tahun 2017 lalu, telah menjadi perhatian global, karena bencana letusan di pulau nomor satu favorit masyarakat dunia ini tidak memakan korban jiwa,” kata Devie Rahmawati, peneliti Vokom, Selasa (31/7/2018).
Kesiapan secara dini dibutuhkan melalui edukasi yang intensif. Pengabdi DRPM memilih TK Negeri Pembina yang merupakan salah satu TK Teladan di Bali, untuk menjadi lokasi pertama dari program pengmas, dengan harapan, semakin memperkokoh kemampuan hidup berdampingan dengan bencana oleh masyarakat Bali.
“Dengan terjun langsung menemui masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Agung, peneliti ingin mendapatkan model dari sebuah penanganan bencana yang melibatkan kerja struktural dan kultural masyarakat Bali,” tambah Devie, yang juga Ketua Program Studi Komunikasi Vokasi UI.
Sementara itu, Amelita Lusia, ketua program pengmas mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan untuk membantu masyarakat yang telah merasakan gempa dna letusan gunung, khususnya anak-anak, agar mampu melewati peristiwa yang memberikan pengalaman baru bagi mereka.
“Kami memilih program tanggap darurat dan trauma healing bagi anak-anak, dengan harapan dapat membantu anak  menghilangkan beban psikologis anak, sehingga tetap mampu menjalani kehidupan keseharian secara normal,” ucap Amelita.
Program yang didesain berlangsung selama 10 bulan ini bertujuan di antaranya untuk semakin meningkatkan kapabilitas dan kualitas SDM daerah dalam melakukan mitigasi bencana gempa dan gunung api; meningkatkan kemampuan  dalam meminimalisir  efek negatif gunung berapi melalui pola komunikasi trauma healing; meningkatkan kemampuan aparat dan warga dalam melakukan monitoring bencana gunung api.
“Kami memilih metode bercerita dan bermain untuk mentransfer pengetahuan upaya pengurangan resiko bencana dengan suka cita dan mendorong kesukarelaan anak-anak yang berusia 4-5 tahun ini untuk menyerap pengetahuan dan ketrampilan bertindak dalam situasi yang berbahaya,” seru Amelita yang juga menjabat sebagai Kepala Laboratorium Penyiaran Vokom UI.
Program ini mendapatkan respon positif dari Ni Ketut Sukanganti, Kepala Sekolah  TK Negeri Pembina. “Kami senang, tim UI datang. Ini baru pertama kali dilakukan oleh kampus. Anak-anak sangat antusias.” ujar Ni Ketut yang telah memimpin TK ini selama 13 tahun.
Sedangkan Ni Wayan Sukerti, warga asli Karangasem, berharap program ini berkelanjutan agar dapat mendorong warga menjadi lebih siap menghadapi bencana dan menjadikan Karangasem sebagai sasaran wisata baru, sehingga kelak mampu meningkatkan pendapatan warga.(mia)