DepokNews- Bertempat di Universiti Malaya (UM), empat pengajar Program Studi Hubungan Masyarakat (Humas),  Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI) menjadi pengajar Program Vokasi pertama yang diundang menjadi pengajar selama tiga hari penuh (8-10 Oktober 2019) di 12 kelas berbeda di Universiti Malaya. Devie Rahmawati, Amelita Lusia, Reska Herlambang dan Lim Suriady menjadi dosen di kelas program sarjana, pascasarjana, kelas internasional dan para pengajar di The Centre for Internship Training and Academic enrichment (CITrA).
Kuliah yang diberikan oleh keempatnya menggunakan Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin. Para peserta kuliah ialah mahasiswa Malaysia dan mahasiswa asing dari China, Bangladesh,  Sudan, Yaman, Mesir, Indonesia dan beberapa negara lainnya.  


Universiti Malaya (UM) adalah universitas terbaik di Malaysia, yang menduduki peringkat ke-70 di dunia dan peringkat 38 di Asia menurut QS World Rangking University 2019. Sedangkan, Universitas Indonesia adalah universitas terbaik di Indonesia, menduduki peringkat 277 di dunia dan peringkat ke-54 di Asia. 


“Pemerintah Malaysia ingin memastikan bahwa para lulusan perguruan tinggi dapat memiliki ketrampilan yang dibutuhkan di dunia kerja dan siap menghadapi tantangan ekonomi ke depan. Oleh karenanya pemerintah mewajibkan ada mata kuliah kewirausahaan yang memastikan seluruh mahasiswa dari semua jurusan memiliki ketrampilan dan praktik mengerjakan tugas untuk membangun bisnis. Para pengajarnya ialah profesional dari industri baik dalam dan luar negeri,” ujar Devie Rahmawati, Ketua Program Studi Vokasi Humas UI.
“UM memiliki Center for Internship Training and Academic enrichment (CITrA), yang menjadi pelaksana program training dan kewirausahaan kampus. Dosen Vokasi Humas UI yang memiliki kemampuan hibrid yaitu akademik dan profesional di industri kehumasan, dinilai sesuai dengan kriteria pengajar di UM,” tambah Devie Rahmawati, penerima Australian Awards 2019.


“Materi yang diberikan dosen Vokasi Humas ialah ialah Public Relations Practices in The Turbulence Digital Era; The Power of Persuasion Skills. How to wins People Head & Heart  (Devie Rahmawati); The Indonesian Cultural Dimensions : A Perspective for Successful Communicators (Amelita Lusia); The Media Code (Reska Herlambang); Understanding The Realm of Lies. Health Issues Case Study (Lim Suriady), “ seru Amelita Lusia, peneliti komunikasi Klinik Digital Vokasi UI.


“Pengajar Vokasi Humas tidak hanya memberikan materi di dalam kelas, namun menjadi mentor bagi peserta di luar kelas. Para mahasiswa yang sedang mendesain rencana bisnis dan merancang materi promosi untuk produknya, berdialog untuk mendapatkan kedalaman materi dan inspirasi strategi dan taktik bisnis dari para pengajar,” tambah Lim Suriady, pengajar praktik Vokasi Humas. 


“Kemampuan memahami budaya serta perspektif media, menjadi kebutuhan strategis yang harus dimiliki oleh para pebisnis di era digital. Oleh karenanya, ketrampilan untuk mengenali beredarnya berbagai misinformasi menjadi krusial. Para mahasiswa juga diberikan materi umum literasi digital kaitannya dalam membangun reputasi bisnis,” seru Devie Rahmawati, Alumni Sekolah Democratic Resilience di Australia.


“Peserta di kelas rata-rata berjumlah minimal 100 orang yang terdiri dari mahasiswa dari tingkat awal dan menengah. Dimana para mahasiswa sangat aktif untuk bertanya dan mempraktikkan tugas-tugas yang diberikan langsung oleh pengajar. Situasi yang sangat membanggakan lainnya ialah ketika kami juga diminta memberikan materi kepada para pengajar di CITrA UM yang seluruhnya bergelar Doktor. Dari interaksi bersama para pengajar UM tersebut, kami juga mendapatkan banyak ide tentang desain pendidikan yang efisien dan efektif di Malaysia, yang akan menjadi rujukan baru untuk diaplikasikan di Prodi Vokasi Humas UI,” tutup Reska Herlambang, pengajar praktik sekaligus jurnalis profesional.