DepokNews–Masyarakat menginginkan perubahan menuju kehidupan lebih sejahtera dan pelayanan publik yang terpenuhi dengan baik. Semua itu tidak bisa diwujudkan hanya dengan pelaksanaan program yang bersifat top-down (dari pemerintah kepada masyarakat) saja, melainkan harus didorong inisiatif dan partisipasi optimal dari warga dengan berbagai potensi yang dimiliki.

Hal itu terungkap dalam dialog publik antara tokoh perempuan Hani Handayani dan pegiat jurnalis warga Sapto Waluyo dengan warga kampung Kedaung Tirtajaya, Depok. Dialog dihadiri puluhan warga yang dipimpin Ketua RW 02, Kelurahan Tirtajaya dan bertempat di rumah Ketua RT 01. Dialog berlangsung hangat karena banyak warga yang bersikap kritis dan antusias mengikuti perbincangan, meski harus lesehan dan meluber hingga pekarangan rumah.

“Kami sangat senang bisa berkumpul dengan warga dan berdialog dengan tokoh masyarakat. Forum arisan rutin memang menjadi tempat untuk menyampaikan informasi, sosialisasi program dan juga menangkap aspirasi/masalah yang dirasakan. Saya punya gagasan untuk memberdayakan kaum muda di kampung ini agar produktif dengan menyisihkan sebagian dana sukarela untuk aktivitas kepemudaan,” ujar Widodo Ketua RW 02.

Gagasan RW disambut Ketua RT dan warga yang hadir, agar prinsipnya tidak memberatkan warga. Disamping itu, dana yang mungkin terkumpul nanti dikelola dengan transparan dan disalurkan untuk kegiatan tepat sasaran. Masalah lain yang disorot adalah kesehatan, karena ternyata masih ada warga yang belum terdaftar sebagai peserta BPJS atau tidak memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS). “Bagaimana solusinya agar warga yang tidak mampu bisa tertangani ketika sakit, meskipun mereka belum terdaftar BPJS atau KIS?” tanya Firman dari kalangan muda.

Pembina Madrasah Ummahat, Hani Handayani, merespon gagasan RW dan usulan warga. “Kami sepakat, masalah sosial hanya bisa diselesaikan dengan inisiatif dan partisipasi warga. Karena itu, saya meluncurkan program untuk mewujudkan kampung literasi, kampong kreatif dan kampung berdaya. Semua bermula dari pembinaan ketahanan keluarga, sebab anggota keluarga menjadi ujung tombak perubahan masyarakat,” ujar Ustadzah Hani yang dikenal membina sejumlah majelis taklim ibu-ibu dan kaum remaja.

Salah satu program kongkrit yang sudah bergulir adalah pembuatan sabun mandi/cuci dari minyak jelantah (bekas memasak). Limbah yang biasanya dibuang dan mengotori lingkungan itu ternyata bisa diolah secara mandiri dan menghasilkan produk baru yang bermanfaat untuk warga. “Sabun J-Soap ini hasil karya ibu-ibu rumah tangga yang sudah kita latih. Kita bisa memakai produk buatan sendiri, sehingga mengurangi pengeluaran rumah tangga. Atau kita bisa menjualnya untuk menambah penghasilan,” jelas Ustadah Hani, Calon Anggota DPRD Kota Depok, sambil mengeluarkan contoh sabun warna-warni.

Sementara itu, jurnalis senior Sapto Waluyo menjawab kegelisahan warga tentang keterbatasan pelayanan BPJS Kesehatan. “Saya memahami kebingungan sebagian warga yang tidak mampu membayar iuran BPJS, namun tak tahu bagaimana prosedur pendaftarannya. Daftar penerima bantuan iuran BPJS itu ditetapkan pada masa Menteri Sosial RI dijabat Dr. Salim Segaf al-Jufri. Pemerintah pertama kali menganggarkan Rp 15,9 triliun untuk mensubsidi 86 juta warga yang tak mampu membayar iuran,”ungkap Sapto yang pernah menjadi Tenaga Ahli Menteri Sosial RI (2009-2014).

Warga miskin yang belum terdaftar BPJS harus melapor ke RT dan RW, atau dibantu untuk mengurus administrasinya, agar bisa dimasukkan dalam daftar penerima bantuan iuran di kelurahan. Pemutakhiran data di kelurahan itu menjadi basis data terpadu di Kementerian Sosial yang berkoordinasi dengan Dinas Sosial di kabupaten/kota. “Selama proses administrasi berlangsung, warga yang belum terdaftar BPJS tadi tetap mendapat layanan kesehatan darurat, apalagi dalam APBD kota ada cadangan darurat jika benar-benar dibutuhkan,” jelas Sapto, calon anggota DPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk daerah pemilihan Kota Depok dan Kota Bekasi.

Inisiatif warga menjadi kunci, termasuk dalam mengadvokasi warga miskin yang membutuhkan layanan kesehatan. Sapto sependapat dengan Ustadzah Hani yang mendorong warga agar produktif. “Kita bisa perluas skala bisnis sabun dari bahan minyak jelantah itu agar menjadi produk unggulan kampung. Bila ibu-ibu yang memproduksi, maka kaum muda yang memasarkannya. Sehingga warga membeli sabun buatan sendiri dan sebagian keuntunannya bisa dipakai untuk mendukung aktivitas kepemudaan yang digagas RW,” simpul Sapto yang dikenal sebagai Pembina di Rumah Kepemimpinan.

Salah seorang Alumni RK yang pernah dibina adalah Ahmad Zaki, pendiri BukaLapak yang kini menjadi pasar online unicorn beromzet triliunan rupiah. Prestasi besar dimulai dari langkah kecil. Perubahan besar dimulai dari pemberdayaan warga di lingkungan terkecil, kampung kita. []