DepokNews–Tim Program Pemberdayaan Mahasiswa Universitas Indonesia dalam Gerakan Masyarakat Sehat (GERMAS) untuk Pencegahan Sindrom Metabolik yang dipimpin oleh Kuntarti, S.Kp., M.Biomed telah melaksanakan pelatihan kader kesehatan sebaya (Peer Health Educator/PHE) pada 27 Oktober 2018 di Gedung Pendidikan dan Laboratorium FIK UI di ruang 405 pada pukul 08.00 – 16.00. Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang mahasiswa dari hampir semua fakultas di UI termasuk dari Program Vokasi, kecuali Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Komputer.

Pelatihan dibuka oleh Manajer Riset, Publikasi, dan Pengabdian Masyarakat  Fakultas Ilmu Keperawatan-UI  Agung Waluyo, S.Kp., M.Sc., PhD. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari kontribusi FIK-UI dalam promosi kesehatan di masyarakat, terutama di UI. Beliau senang dan bangga tim dapat mengajak dan melibatkan mahasiswa dari hampir semua fakultas di UI. Selain itu, beliau juga menyatakan bahwa tahun ini FIK-UI melaksanakan sekitar 10 program pengmas di berbagai wilayah, dan pada hari yang sama juga sedang dilakukan pengmas di wilayah Depok. Selanjutnya kegiatan pelatihan dipandu oleh Ns. La Ode Abd Rahman, S.Kep., MBA sebagai moderator.

Koordinator Pelayanan Klinik Satelit UI, dr Trevino A Pakasi, MS, PhD mengawali pelatihan dengan menyampaikan profil kesehatan mahasiswa UI dan peran Klinik Sateli UI dalam pelayanan kesehatan mahasiswa. “Universitas perlu memikirkan kontribusi kesehatan dalam mempersiapkan SDM Indonesia. Saat ini, Klinik Satelit Makara sedang melakukan reformasi dari Pusat Kesehatan Mahasiswa (PKM) yang awalnya memiliki paradigm kuratif menjadi promotif dan preventif. Tujuan pokok klinik berubah menjadi pusat peningkatan kesehatan kampus,” demikian disampaikan pada awal pemaparan materinya. Terkait dengan topik yang menjadi bahasan utama pada pelatihan ini yaitu sindrom metabolik, Klinik Satelit mendapatkan data dari hasil pemeriksaan kesehatan mahasiswa saat pendaftaran mahasiswa baru, terdapat 25% mahasiswa yang obese pada tahun 2017 jauh meningkat dibanding tahun 2016 yang hanya 7,4%.  “Perlu program kesehatan khusus untuk menyelesaikan masalah kesehatan dan menurunkan risiko pada mahasiswa,” kata dr Trevino menutup materinya. Di sela-sela pemberian materi, dr Trevino memberikan slogan “Saya tahu, bisa, dan siap melakukan” dengan berupa gerak dan lagu untuk calon kader kesehatan sebaya UI.

Pada materi yang kedua, Widyatuti, S.Kp., M.Kes., Sp.Kep.Kom staf Departemen Keperawatan Komunitas FIK-UI menyampaikan tentang peran dan proses melaksanakan peran sebagai pendidik sebaya (peer educator).  Staf yang telah banyak berkecimpung dalam pembentukan pendidik sebaya di kalangan remaja dan pemerhati usaha kesehatan sekolah (UKS) ini mengatakan,”Program UKS sudah ada untuk anak SD sampai SMA, namun yang berjalan hanya sampai tingkat SD. Apalagi mahasiswa yang merupakan masa peralihan dari remaja ke dewasa awal,  luput sebagai sasaran Program UKS ini.”  Beliau juga menyatakan bahwa adanya pendidik sebaya sebagai kader kesehatan di UI ini diharapkan lebih meningkatkan upaya promosi dan prevensi kesehatan mahasiswa, tidak hanya terkait sindrom metabolik yang saat ini menjadi fokus pelatihan ini, namun juga untuk masalah kesehatan lainnya. Pendekatan edukasi sebaya diharapkan membuat kelompok target merasa lebih nyaman dan dapat memberikan pelayanan besar dan efektif dengan biaya yang relatif murah. Widyatuti juga memberikan tips cara mendekati sebaya dengan teknik komunikasi yang tidak terkesan menggurui dan membuat calon target merasa tersinggung.

“Kesehatan merupakan investasi terbaik untuk masa depan, sehingga seseorang bisa mendapatkan apa yang diinginkan, seperti rumah mewah, bisa keliling Indonesia atau bahkan dunia, juga hidup sehat dan bahagia bersama keluarga hingga usia tua,” demikian Kuntarti, S.Kp., M.Biomed mengawali pemaparan materi tentang mengenal sindrom metabolik. Staf Departemen Dasar Keperawatan dan Keperawatan Dasar (DKKD) FIK-UI yang juga penanggung jawab kegiatan pelatihan ini menyatakan bahwa sindrom metabolik berkaitan dengan penyakit jantung koroner dan penyakit-penyakit lain yang saat ini menjadi penyebab kematian terbanyak, baik di Indonesia maupun di dunia. Sindrom metabolik dapat dicegah dengan  kembali ke pola hidup sehat dengan memperhatikan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi, latihan dan olahraga yang rutin dan teratur, memperbaiki kualitas tidur, dan manajemen stress.

Selanjutnya, peserta pelatihan dikenalkan dengan masalah-masalah kesehatan fisik yang umum terjadi pada mahasiswa oleh Hening Pujasari, S.Kp., M.Biomed., MANP, PhD. Staf yang juga dari Departmen DKKD FIK-UI dan peminat kajian tentang tidur ini, memberikan contoh kuesioner yang dapat digunakan untuk mendeteksi tingkat insomnia (Insomnia Severity Index) dan latihan relaksasi progresif untuk mengurangi masalah insomnia kepada peserta. Selain masalah kesehatan fisik, Ice Yulia Wardhani, S.Kp., M.Kep.Sp.Kep.J, Ketua Departemen Keperawatan Jiwa FIK-UI memaparkan tentang kesehatan jiwa pada mahasiswa. Masalah kesehatan jiwa yang umum terjadi pada mahasiswa adalah cemas, depresi, dan gangguan makan. Beliau memberikan strategi menghadapi masalah dan beradaptasi terhadap stress yang tidak mungkin dihindari selama hidup. Selain itu, peserta juga latihan mendeteksi masalah kesehatan jiwa pada diri sendiri menggunakan Self –Reporting Questionnaire (SRQ).

Rangkaian pelatihan ditutup dengan materi sekaligus sosialisasi tentang Peer Counselor and Health Educator (PCHE) di Klinik Satelit UI yang disampaikan oleh Ika Malika, M.Psi, Koordinator Konselor di Biro Konseling Mahasiswa (BKM) UI. PCHE bertugas promosi kesehatan baik fisik maupun mental, serta mengidentifikasi masalah maupun potensi masalah dari teman-teman di sekitar. “Untuk menjadi PCHE, peserta pelatihan PHE hari ini dapat mendaftar dan melanjutkan untuk mengikuti Pelatihan PCHE yang akan diadakan di Klinik Satelit UI dan memenuhi syarat, yaitu: memiliki kepedulian tinggi, aktif dalam organisasi kemahasiswaan, IPK minimal 2,75, berkomitmen mengikuti pembekalan secara penuh pada 3 dan 10 November 2018, dan berkomitmen terlibat aktif selama 1 tahun ke depan,” demikian Ika Malika memaparkan. Kegiatan PCHE dapat berupa sosialisasi isu terkait kesehatan, posbindu (pos pelayanan terpadu) penyakit tidak menular, curhat online, dan koordinasi temuan kasus dan peningkatan kapasitas tim.

Setelah peserta mendapatkan pembekalan materi pada pelatihan PHE ini, peserta diberi penugasan untuk latihan menjadi PHE dengan teman sesama mahasiswa di fakultas masing-masing sebagai targetnya. Setelah latihan minimal 3 kali  dalam waktu dua minggu, peserta akan memberikan laporan dalam bentuk video dokumentasi kegiatan edukasi mereka, umpan balik  dari peserta edukasi, dan refleksi kemampuan diri berperan menjadi PHE, barulah mereka mendapat sertifikat pelatihan PHE ini.  (Kamelia Syani & Kuntarti)