DepokNews–Kesulitan mencari salon khusus muslimah di lingkungan tempat tinggalnya di Tanah Baru, Depok, Siti Nurbadriyah mendirikan sendiri salon khusus muslimah Farras Ayu. Kini salonnya berkembang pesat. Sebelumnya sempat menjamur salon muslimah meniru jejak Siti Nurbadriyah. Untung pengusaha ini sigap mengjhadapi persaingan.

Ketika baru pindah dari Jakarta ke Kawasan Tanah Baru, Depok, Siti Nurbadriyah kesulitan mencari salon khusus muslimah. Kebanyakan yang ada adalah salon umum yang melayani konsumen pria maupun wanita. Setiap kali ke salon, wanita ini meminta agar gordeyn dan pintu salon ditutup rapat, khawatir ada kaum adam yang melihat.

“Wanita kan pasti butuh ke salon untuk relaksasi. Minimal untuk menggunting rambut. Nah, saya kesulitan mencari salon khusus muslimah di Tanah Baru,”ujar Siti Nurbadriyah ketika di jumpai di Jalan Sanim, Tanah Baru, Depok, Senin (21/6).

Di tahun 2016, Siti Nurbadriyah yang akrab dipanggil Bu Ibad membuka salon khusus muslimah Farras Ayu.

“Setiap wanita itu kan butuh relaksasi dan refreshing. Karena kalau seorang ibu bahagia, maka keluarga menjadi surga. Maka wanita butuh salon yang nyaman dan aman ketika perawatan,” katanya.

Ia sengaja membuka salonnya pada hari Jumat 19 Februari 2016. Sengaja memilih hari Jumat yang penuh berkah. Targetnya adalah ibu-ibu muda yang masih banyak belajar menjadi orangtua.

Saat itu Ibad memberikan diskon perawatan hingga 20% kepada pengunjung hari itu. Sejak saat pembukaan, salon khusus muslimah Farras Ayu pun ramai didatangi konsumen.

Salonnya kemudian terus berkembang hingga sekarang. Dari awalnya ia memiliki 3 karyawan, kini Ibad mempekerjakan 8 karyawan.

“Alhamdulillah, salon ini bisa memberikan manfaat kepada banyak orang. Bisa memberikan solusi bagi ibu – ibu muda yang membutuhkan pertolongan perawatan. Juga memberikan lapangan kerja bagi wanita – wanita pejuang keluarga,” katanya bersyukur.

“Alhamdulillah modal bisnis ini hanya dari tabungan pribadi, Merintis dari nol, hingga akhirnya bertumbuh. Pendapatan salon, saya simpan untuk menambah sewa ruangan salon, menambah perlengkapan salon, mendaftarkan haji saya, suami, dan kedua orangtua saya serta untuk alokasi pengembangan bisnis kedepan,” katanya menambahkan.

Datang ke salon muslimah Farras Ayu, kental dengan suasana feminin. Dindingnya berwarna pink. Di ruang tamunya ada beberapa vas bunga. Karyawannya semua wanita. Lantainya bersih dan wangi.

Ruang tamu agak sempit, karena tamu langsung masuk ke dalam ruang perawatan di dalam. Hanya ada 2 bangku di ruang tamu yang ditunggui seorang resepsionis. Antara ruang tamu dan ruang perawatan ada pintu yang selalu tertutup. Di ruang perawatan, banyak peralatan perawatan kecantikan dan perawatan tubuh.

Ibad sendiri seorang sarjana kimia lulusan Universitas Diponegoro, bukan seorang ahli kecantikan. Namun ia sukses menjalankan bisnis salonnya.

“Bisnis adalah tentang leadership dan bagaimana mengelola manusia, SDM. Menurut saya, pengusaha restoran tidak perlu menjadi ahli masak. Pengusaha salon tidak perlu bisa menggunting rambut. Yang penting, bagaimana dia bisa memimpin dan mengelola manusia dengan baik,” kata ibu 3 anak itu. Namun demikian ia memberikan konsultasi kecantikan secara gratis.

Ibad berusaha menyesuaikan pelayanan salonnya dengan kebutuhan ibu-ibu muda di sekitar salon. Mereka adalah penghuni perumahan baru. Kebanyakan ibu-ibu muda yang sedang hamil atau baru memiliki anak. Sehingga selain ada pelayanan perawatan kecantikan, juga ada pelayanan perawatan ibu hamil, pijat bayi, perawatan ibu paska melahirkan, pijat laktasi dan lain-lain.

Pengusaha ini bukan sekedar membuka salon, tapi ia juga bergaul dengan ibu-ibu muda di sekitar salon. Itu sebabnya ia tahu keluhan – keluhan ibu-ibu muda itu. Dari keluhan-keluhan itulah ia terus memperbanyak jenis pelayanan yang diberikan oleh salon muslimah Farras Ayu.

Ketika awal terjadi pandemi COVID 19, salon muslimah Farras Ayu sempat tutup selama 1 ½ bulan. Pada saat tutup, Ibad tetap bisa menggaji karyawannya. Ia juga memberikan bantuan sembako untuk karyawan dan warga sekitar yang kurang mampu.

Di bulan April 2020, lantaran banyak permintaan pelanggan, salon dibuka  kembali.

“Pada masa PSBB ternyata banyak ibu-ibu stress. Karena dia harus mengajari anaknya belajar. Suaminya juga ada di rumah. Nah, ibu-ibu itu butuh ruang untuk relaksasi. Mereka meminta salon cepat dibuka kembali,” ujar pengusaha yang hobi olahraga atletik itu.

Salon muslimah  Farras Ayu pun dibuka dengan menerapkan protokol kesehatan. Pengusaha yang hobi menulis ini sengaja membuat tempat cuci tangan, menyediakan hand sanitizer, dan melakukan penyemprotan disinfektan  setiap  ada konsumen selesai melakukan perawatan.

Konsumen yang datang harus dalam kondisi sehat. Ada pengukuran suhu badan. Konsumen juga harus daftar minimal sehari sebelum datang ke salon. Dengan adanya daftar calon pengunjung, Ibad bisa mengatur agar tidak terjadi penumpukan pengunjung di salonnya.

Untuk menghindari kerumuman, Ibad kemudian juga memberikan pelayanan ke rumah-rumah konsumen.

“Untuk mengurangi kerumunan, saya juga memberikan pelayanan datang ke rumah-rumah konsumen, “ kata wanita kelahiran 26 Oktober itu.

Salon muslimah Farras Ayu bisa disebut sebagai salon pertama di Depok yang memberikan pelayanan ke rumah-rumah konsumen. Triknya sukses meningkatkan jumlah pengunjung salon muslimah Farras Ayu. Tidak heran, jika pada masa pandemi, salon muslimah Farras Ayu tetap banyak dikunjungi klien.

Sebagai pengusaha salon, suka dan duka pernah dialami oleh Ibad. Namun baginya ujian adalah sebuah petunjuk untuk segera melakukan perbaikan dan perubahan. 

Terhadap karyawan dan konsumen yang nakal, Ibad tidak segan-segan menegur. Namun ia bermaksud ingin memperbaiki kepribadian orang tersebut. Sampai saat ini pengusaha ini belum pernah memecat karyawannya.

Terhadap kejadian yang tidak masuk akal, Ibad tetap berfikir positif. Ia tidak mau berfikir yang aneh-aneh. Buktinya, meskipun beberapakali mengalami kejadian diluar akal sehat, tapi salon muslimah Farras Ayu mengalami kemajuan yang pesat.

Persaingan bisnis juga dialami oleh istri dari Toto Yulianton itu. Ketika mendirikan salon muslimah Farras Ayu, di Tanah Baru belum ada salon sejenis. Beberapa bulan kemudian muncul beberapa salon sejenis. Bahkan tepat di depan salon muslimah Farras Ayu.

Ibad berusaha tidak mau kalah bersaing. Jika salon pesaing memberikan harga murah, Ibad tidak terpengaruh menurunkan harga, tapi fokus menambah servis ditiap perawatan. Misalnya dengan memberikan bonus pelayanan gratis jika seseorang melakukan terapi di salon Farras Ayu.

“Jika klien melakukan perawatan pijat, maka saya berikan pelayanan totok wajah gratis,” ujarnya. Alhamdulillah, dalam waktu kurang dari setahun, para kompetitor mulai berguguran.

Pendidikan bisnis sebenarnya telah ditanamkan orangtuanya sejak Ibad duduk di bangku SMP. Sebelum berangkat ke sekolah, ia harus mengantarkan barang dagangan ibunya berupa snack dan manisan buah ke beberapa sekolah. Sebagai remaja, tentu saja Ibad saat itu merasa malu. Ia mengirim barang dagangan dengan cara sembunyi-sembunyi dari teman-temannya. Ternyata sekarang Ibad bisa mengambil hikmah dari ajaran bisnis yang ditanamkan orangtuanya.

“Kami keluarga bersahaja. Untuk bisa kuliah, kami harus berjuang mencari uang, untuk mempertahankan kuliah hingga lulus sarjana. Kuliah sambil bekerja dan tetap aktif berorganisasi. Jadi saya terbiasa bekerja keras,” ujarnya sambil menitikkan air mata. Budi Gunawan.