Pangadi Harmono bersama Istri

DepokNews–Nasib orang tidak ada yang tahu. Tapi rezeki tentu tidak akan datang tanpa dibarengi dengan usaha keras. Mengawali bisnis sebagai penggali pasir, kini Pangadi Harmono membangun proyek perumahan bernilai ratusan juta rupiah.

Sejak duduk di bangku STM di kota kelahirannya di Purwokerto, Pangadi Harmono sudah bercita-cita ingin merantau ke ibukota. Setelah ia lulus sekolah, keinginannya itu ia wujudkan. Pangadi pergi ke Jakarta hanya bermodal nekad. Tidak punya uang maupun saudara atau kenalan.

Di ibukota kebetulan ia bertetangga dengan seorang penggali pasir yang juga berasal dari Purwokerto. Untuk menyambung hidup, Pangadi pun mencari nafkah dengan menjadi penggali pasir.

“Waktu itu saya tidak punya kenalan sama sekali. Kebetulan bertetangga dengan penggali pasir. Saya kemudian ikut menjadi penggali pasir,”ujar Pangadi Harmono ketika dijumpai di Kawasan Cibinong, Bogor, Selasa (25/5).

Meskipun seorang penggali pasir, Pangadi tetap mempunyai cita-cita yang tinggi. Ia terus berusaha meningkatkan kwalitas hidupnya dengan mencari peluang. Ia kemudian berkenalan dengan orang yang juga berasal dari Purwokerto dan bekerja di pabrik. Akhirnya Pangadi pun ikut bekerja dipabrik tersebut. Tugasnya menggambar instalasi listrik pabrik.

Semangat untuk terus maju berkobar dalam dada Pangadi. Ia bekerja sambal kuliah desain interior di malam hari.

“Waktu kuliah desain interior, pagi saya bekerja, malam harinya saya kuliah,”ujar lelaki bertubuh tinggi dan tegap itu.

Setelah lulus kuliah,  kemudian ia mencari pekerjaan yang lebih layak. Ia bekerja di sebuah perusahaan konsultan properti Procon Indah. Pekerjaannya mendesain bangunan.

Apakah Pangadi berpuas diri ? Tidak. Meskipun telah bekerja di perusahaan besar, namun Pangadi tetap merasa  dirinya harus terus menimba ilmu. Sambil bekerja ia pun melanjutkan kuliah arsitektur.

Setelah merasa dirinya cukup mempunyai modal untuk memulai bisnis dan memiliki pengetahuan tentang properti, ditahun 2007 Pangadi mendirikan  CV Hardimas Kreasi Utama.

Perusahaannya pernah membuat desain beberapa unit PD Pasar Jaya di Jakarta, desain interior salah satu unit  Fakultas MIPA Universitas Indonesia, salah satu unit gedung LIPI Cibinong, dan apartemen Kementrian Kehakiman di Cinere.

CV Hardimas Kreativa Utama terus mengalami kemajuan. Perusahaan itu tidak lagi sebatas menggambar desain, tapi kemudian juga menjadi perusahaan pelaksana pembangunan gedung.

“Sebagai perusahaan desain dan pelaksana, labanya lebih besar dibandingkan sebatas perusahaan yang hanya membuat desain. Perusahaan yang melayani jasa desain, peluangnya mengerjakan proyek gedung itu tentunya lebih besar. Karena pengusaha biasanya ingin desain dan pembagunan gedung dilaksanakan oleh perusahaan yang sama,”ujar suami dari Yeni Widhiastuti itu.

CV Hardimas Kreasi Utama pernah  membangun proyek perumahan di Majalengka. Ada yang luasnya 12 hektar, ada pula di Leuwiliang  luasnya 20 hektar. Sudah ada 40 pengusaha developer yang bergabung dalam komunitas Tangan Diatas yang menggunakan jasa CV Hardimas Kreasi Utama untuk mendesain dan membangun perumahan mereka.

Kini jasa yang dilayani perusahaan itu makin bertambah, yaitu pelayanan survey lahan  dengan alat drone untuk foto udara, video dan peta kontur tanah. Kemampuannya memetakan kontur tanah mencapai ratusan hektar

“Biasanya jika akan membangun perumahan, lokasinya difoto dari udara dengan alat drone. Gunanya untuk  memetakan batas lahan dan kontur tanahnya, agar memudahkan rencana cut and fill tanah, mengatur pembuatan saluran air, membuat jalan raya dan kebutuhan pembangunan lainnya,”ujar ayah satu anak itu. Omset perusahaannya per bulan antara Rp 200-300 juta.

“Omsetnya tidak tentu sih. Tergantung banyaknya proyek yang digarap ditahun itu. Kadangkala juga sedikit mendapat proyek,”ujar Pangadi.

Pernah ditahun 2015 perusahaan sepi order desain. Daripada tidak ada pekerjaan, Pangadi menerima jasa gambar IMB ( Izin Membuat Bangunan) yang satu gambar harganya hanya Rp 150.000.

Pangadi mengungkapkan, menjalankan bisnis properti harus sabar. Seringkali klien minta dibuatkan desain yang terbagus. Tapi ketika akan dibangun, ternyata dana yang dimiliki klien tidak mencukupi. Sehingga klien kemudian minta dibuatkan desain yang nilai pembangunannya lebih murah. Itu sebabnya, jika ada klien minta dibuatkan desain rumah atau gedung, Pangadi selalu menanyakan dana yang tersedia. Sehingga desainnya bisa disesuaikan dengan budget yang ada.

“Membuat desain itu membutuhkan tenaga dan pikiran. Jadi sayang, jika  kami sudah membuat desain rumah yang bagus, ternyata budget yang tersedia tidak mencukupi. Akhirnya saya harus mendesain ulang, menyesuaikan dengan budget yang tersedia,”ujar Pangadi.

Pengusaha properti juga harus pandai memanaj SDM. Dalam satu proyek melibatkan belasan orang pekerja yang keahliannya berbeda-beda. Ada yang ahli pasang plafon, ahli mengaci tembok, ahli memasang keramik dan lain-lain. Dibutuhkan managemen khusus untuk mengatur belasan orang itu.

“Perusahaan properti itu bekerja dengan perhitungan waktu yang tepat. Jika jadwal waktu pembangunannya molor, bisa merugikan si pengusaha,”ungkap Pangadi. Budi Gunawan