Oleh : T. Farida Rachmayanti
Ketua Bidang Perempuan & Ketahanan Keluarga
DPD PKS Kota Depok

Karena Keluarga berharga. Karena bahagianya keluarga adalah harapan bagi semua. Ketika ujian datang sesungguhnya kita digiring untuk semakin mengenal arti dan makna keluarga dalam kehidupan. Stay at home menggiring kita masuk dan diam di rumah, sehingga secara utuh hati dan jiwa kita hadir bersama keluarga. Pandemi juga membawa kita untuk mengukur sejauh mana ketangguhan dalam berkeluarga. Maka kemudian hati kecil bertanya apa makna keluarga bagi kita? Apa makna keluarga bagi pasangan kita? Bagaimana dengan anak-anak, apakah kehadiran keluarga memberi arti yang dalam pada proses pertumbuhan mereka?

Idealnya setiap keluarganya memiliki misi atau tujuan. Maka seharusnya bagi keluarga tangguh, saat bencana atau kondisi yang menekan dapat menjadi momentum untuk bercermin, telah tercapaikah misi tersebut? Atau mungkin, saatnya ini untuk menajamkan arahnya?? Jika sudah jelas, maka kita bisa lebih fokus untuk menentukan langkah- langkahnya. Sehingga semakin baik ke depannya.

Secara umum ada beberapa langkah yang bisa diambil. Diantaranya, pertama hadir dan terlibat dalam keluarga. Misi keluarga akan tercapai jika anggotanya hadir. Secara lahir dan batin. Orang tua bukan hanya hadir secara fisik, tapi juga batin. Membangun ikatan emosional yang kuat dalam setiap tahap perkembangan anak. Jangan sampai mereka kehilangan orang tuanya. Dari beberapa pakar parenting mengungkapkan bahwa banyak anak yg kehilangan ayahnya. Bukan karena ayahnya tiada, tapi lebih pada abaynya ayah dalam proses pengasuhan. Kurangnya komunikasi, keringnya sentuhan.

Kedua, berpikir positif banyak bersyukur.
Misi setiap keluarga hanya akan tercapai jika keluarga berpikir positif. Tiada keluarga yang sempurna. Tiada keluarga tanpa masalah. Namun ketika sepasang suami istri bertumpu pada kekuatan yang mereka miliki bersama dan tidak saling mencari-cari kelemahan, maka sesungguhnya ini menjadi modal ketangguhan utama. Mereka memandang ke depan dan fokus bagaimana mencari solusi. Justru berbagai dinamika kehidupan membuat mereka menjadi kuat dan semakin kuat.

Ketiga, memaafkan. Ini adalah vitamin yang melapangkan hati. Hati lapang menumbuhkan semangat. Hati sempit memicu keletihan. Memaafkan alpa dan lalainya pasangan kita, juga anak-anak. Memaafkan juga jendela untuk memahami kekurangan anggota keluarga. Memaafkan juga tanda memberi arti atas keberadaan mereka dengan segala keterbatasan yang ada. Yang kemudian memotivasi orang untuk berubah -menjadi lebih baik- karena merasa tetap dihargai. Dan hal itu merupakan modal kebersamaan untuk mencapai misi keluarga.

Oleh karena itu, langkah berikutnya adalah antar anggota keluarga harus saling mendukung. Terutama dalam menjalankan berbagai perannya. Peran ibu sebagai pendidik pertama sangat membutuhkan dukungan dari pasangannya, suami dalam hal ini. Ibu yang bahagia akan mencetak anak yang bahagia. Ibu yang gundah gulana akan mencetak anal yang tidak percaya diri. Di sinilah upaya suami memberikan dukungan psikologis agar istri sebagai ibu. Menjaga perasaaanya agar nyaman, tenang, dihargai. Kadang dengan hal sederhana seperti sikap siap mendengar, pujian atau pelukan.

Kelima, bersinergi dengan seluruh anggota. Karena misi keluarga adalah misi kemuliaan. Selain misi kekhasan masing- masing keluarga, secara otomatis melekat misi eksistensi mereka sebagai bagian tatanan sosial. Artinya sebuah keluarga suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar mereka menjadi penentu kualitas peradaban bangsa. Disinilah butuh sinergi anggota keluarga. Satu ditambah satu sama dengan 10. Kok bisa? Bukankah kita sering mendengar kisah tentang, misalnya ada anak buruh tani yang meraih gelar sarjana kedokterlan, bahlan lulusan terbaik dari universitas negeri?? Atau single parent yang mampu mendampingi putra putrinya menjadi anak yang sholeh, tangguh dan mandiri?

Mari bersama kita manfaatkan momentum ini untuk merefleksi perjalanan keluarga kita. Dan yakinlah bahwa Allah SWT tidak akan membebani seseorang di luar kesanggupannya. Sebagaimana Dia Yang Rahman dan Rahiim tak akan membenani sebuah keluarga diluar kesanggupannya.