Bekasi – Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PKS Hj. Nur Azizah Tamhid, B.A., M.A., dalam Kunjungan Dapil (Kundapil) di Hotel Avenzel Kota Bekasi pada Sabtu (28/11), Nur Azizah menyampaikan bahwa tahun 2019 sebanyak 1.000 warga Kota Bekasi tercatat sebagai Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), menjadikan Kota Bekasi menempati peringkat kedua dengan jumlah ODHA tertinggi di Jawa Barat.

“Rata-rata ODHA itu beragam. Namun, paling besar di dominasi dari kalangan produktif, mulai usia 17 tahun sampai 47 tahun. Berdasarkan informasi Pengelola Program HIV, Dinas Kesehatan Kota Bekasi, peyebab penyakit ini di dominasi oleh perilaku seks bebas. Dari data Dinkes Bekasi periode Januari hingga Nopember, sebanyak 145 orang remaja di Kota Bekasi positif menderita HIV”, terang Nur Azizah.

Menurut Nur Azizah, persoalan ini tidak boleh dianggap remeh, pemerintah harus hadir mengatasi persoalan ini. “Saat ini teknologi semakin mudah untuk di akses, informasi dari yang baik sampai yang menyimpang juga dapat diakses dengan mudah, termasuk konten-konten pornografi yang dapat merusak moral bangsa, menggiring para remaja terjerumus perilaku seks bebas. Pemerintah harus hadir mengawasi derasnya arus informasi yang masuk. Serta menindak tegas pelaku penyebaran konten-konten pornografi”, jelas Nur Azizah.

Menurut Windarto Kepala Yayasan Pendidikan Ibnu Sina, Kota Jakarta. Sebagai pendidik, ia menginginkan komitmen pemerintah untuk segera menaggulangi permasalahan ini. “Kami perlu komitmen yang tegas dari pemerintah kaitannya dengan tayangan-tayangan yang merusak moral. Buat kami tingginya angka ODHA itu dipicu oleh hal yang sepertinya negara tidak menganggap itu hal yang serius”, jelas Windarto.

Windarto menambahkan, berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2019, remaja usia SMP yang sudah tidak perawan itu mencapai 67%, 27% diantaranya sudah melakukan aborsi. “Berbeda dengan jaman kita dulu yang masih usia SD atau SMP pacaran saja malu, pegangan tangan itu suatu hal yang luar biasa. Hari ini pacaran anak SMP kalau gak hubungan badan itu gak pacaran. Salah satu sebabnya karena negara membiarkan tayangan-tayangan yang merusak moral. Banyak selebritis dan artis kita yang berbicara di medsos soal hal-hal yang vulgar. Anak-anak sekarang juga sudah sangat pintar memegang gadgetnya sendiri”, tutur Windarto.

Menanggapi kondisi tersebut Nur Azizah menjelaskan bahwa saat ini, negara memang belum hadir secara utuh dalam membimbing para remaja yang sudah masuk usia aqil baligh. “Jadi mudah-mudahan ada tindak lanjutnya, konten-konten media sosial yang dapat merusak moral, harus di tindak. Selain itu, Progam Bina Keluarga Remaja (BKR) harus semakin intensif digalakkan hingga tingkat RW atau sampai RT di seluruh daerah. Para orangtua yang memiliki remaja harus diberi bimbingan bagaimana mengelola remaja supaya sukses. Sukses tentu dalam hal pendidikan, kesehatan, tentunya tujuannya untuk menjadi insan yang sejahtera di dunia dan di akhirat”, pungkas Nur Azizah.