DepokNews- Jelang pendaftaran peserta pemilihan kepala daerah (pilkada) kota Depok, para bakal calon (balon) dan partai politik dinilai masih disibukan dengan kalkulasi suara atau berkoalisi untuk memberikan dukungan kepada pasangan balon.

Hal ini dianggap kurang melibatkan warga Depok yang mempunyai hak suara atau pemberi mandat langsung kepada para balon itu nanti.

“Jadi menurut saya, alangkah baiknya para balon kepala daerah kota Depok ini sudah dapat menggaungkan gagasannya untuk memperbaiki Depok,” ujar Tokoh Perempuan dan Anak kota Depok, Novi Anggriani Munadi, Senin (13/7).

Padahal menurut Novi, semua para balon mengaku menginginkan perubahan terhadap kota Depok menjadi lebih baik, tetapi belum ada satu pun yang mempunyai gagasan mendobrak, terperinci dan terukur untuk memperbaiki Depok.

“Yang tertangkap oleh warga Depok, ya baik para balon petahana maupun penantang, tidak ada bedanya. Artinya kota Depok mungkin nantinya akan berjalan sama saja di beberapa aspek kehidupannya,” kata Novi.

Ketua Komunitas NADI Center ini pun menjelaskan bahwa para nama – nama baru balon kepala daerah kota Depok yang menjadi penantang mestinya menunjukan taji nya kalau mereka ingin merubah, memperbaiki atau memperbarui Depok. Caranya dapat dilakukan dengan menunjukan terobosan gagasan yang berbeda dari para petahana.

“Kalau sampai sekarang kan yang terkesan, mereka para balon penantang, hanya jadi pendamping atau pelengkap para balon petahana yakni Pak Idris dan Bang Pradi yang terpecah dan memutuskan maju masing – masing,” imbuh Novi.

Pada kondisi banjirnya informasi, banyaknya platform media sosial dan maraknya komunitas yang ada di warga Depok, mestinya dapat dimanfaatkan para balon kepala daerah Depok yang menjadi penantang untuk mengumpulkan saran, ide dan gagasan dari warga untuk merubah atau memperbaiki Depok.

Dengan begitu, informasi yang sampai kepada warga Depok jelang pendaftaran calon kepala daerah kota Depok ini, tidak hanya bongkar pasang koalisi partai politik dan penjodohan atau perpisahan para bakal calon saja. Melainkan lebih substansi yakni bagaimana mengenal para balon kepala daerah dari gagasan – gagasannya.

“Selain itu juga, supaya pilkada Depok tidak hanya terkesan milik elit dan bentuknya selalu dari atas ke bawah atau top down. Tetapi sedapat mungkin pilkada Depok juga bergerak dari bawah ke atas atau buttom up untuk melibatkan warga akar rumput, sedari awal,” pungkas Novi.(mia)