Hj. Agustin Kurniawaty bersama suami, H. Bambang Sutopo

DepokNews- Berawal dari ketertarikan untuk mengajar siswa, Agustin Kurniawaty akhirnya mendirikan SDIT Ruhama, yang berlokasi di Jatijajar, Cilodong. Berbekal ilmu yang ditempuhnya di IKIP di Rawamangun, Jakarta Timur membawa Agustin menjadi guru pengganti di sebuah madrasah.

“Pertama ngajar saat itu saya cuti kuliah sehabis melahirkan. Menggantikan ustadzah yang naik haji selama dua bulan,” cerita Agustin saat peluncuran buku yang berjudul  “Ruhama Sekolah Para Pembelajar” yang ditulisnya bersama sang suami, H. Bambang Sutopo, di SDT Ruhama, Rabu (2/5/2018).

Dikisahkan Agustin, menerapkan metode belajar menyenangkan membuat dirinya disenangi siswa. Bahkan kelasnya selalu ramai oleh siswa.

“Ilmu dari IKIP saya terapkan. Sampai akhirnya berkembang cara belajar siswa aktif, saya di IKIP belajar Bahasa Arab, akidah target pembelajaran berhasil. Saat itu ustadzah-ustadzah melihat kelas saya ramai dan mempertanyakan cara mengajarnya. Sepertinya mereka ada keterbatasan dari metode-metode pembelajaran saya, hingga akhirnya anak-anak merasa nyaman lalu ssya harus berhenti,” ungkap Nia panggilan akrab Agustin.

Kemudian salah satu ustadzah memberikan ide mendirikan sekolah. Dengan perasaan sedih namun termotivasi mendirikan sekolah. Mulai mengumpulkan anak-anak sekitar rumah di Perumnas Depok Dua, dari tiga sampai puluhan. Dari Alquran, siroh, mengajar sholat Akhirnya dipisah berdasarkan usia anak. Dari sanalah ide membuat TK.

“Anak usia dini kalau pulang sekolah sampai Maghrib hanya bermain saja. Saya ajak belajar dirumah untuk mengaji,” kenangnya.

Kemudian, lanjut Nia pada tahun 2000-an, membuat SDIT dengan perjuangan yang cukup panjang. Itu pun karena kebutuhan yang tanda kutip banyak murid TK yang menanyakan sekolah jenjang SD.

Akhirnya membentuk tim pokja menawarkan konsep. Lalu bekerjasama dengan Mitraku, difasilitasi pelatihan, observasi di Nurul Fikri, observasi di Ikro, magang di Nurul Fikri. Itu adalah bagian dari upaya pihaknya untuk membuat SDIT. Menawarkan konsep ke orang yang memiliki gedung. Hingga akhirnya beberapa orangtua siswa menyarankan untuk mendirikam di laham fasos di Komplek Perumahan Jatijajar.

“Darisanalah SDIT Ruhama berdiri. Siswa baru yang dari lulusan TK kami, karena dari 13 siswa, tujuh siswa tinggal di Jatijajar,” cerita Agustin.

Penerapan nilai karakter ditanamkan di SDIT Ruhama. Sebelum mata pelajaran PMP, ada budi pekerti dan sekarang mulai kembali. Sekarang kurikulum berbasis karakter melihat gejala tawuran, seks bebas pada siswa. Kembali lagi nilai-nilai karakter dan akhlak harus sejak dini.

“Di Paud penanaman nilai-nilai karakter suda mulai. Semoga saja kenakalan remaja akan semakin menurun,” harap Nia.

Menurut Nia semua kurikulum bersifat baku, yakni sama karena dari Diknas tapi kembali lagi pada penerapannya. Di SDIT Ruhama ada delapan karakter Al Quran yang dijadikan program harian. Itu jadi budaya. Seperti Sholat Duha, kegiatan lain yang bersifat karakter.

“Jangan hanya jadi sebuah program tapi harus dikawal. Guru mengajar bukan mencari uang tetapi mencari pemimpin bangsa,” tutup Nia.(mia)