DepokNews– Jakarta(26/6) – Pertemuan politik penting berlangsung di kantor DPP PKS (Partai Keadilan Sejahtera), Jalan Simatupang, Jakarta. Tak kurang dari 16 duta besar dari negara-negara di kawasan Uni Eropa hadir di gedung Markas Dakwah, disambut Presiden PKS (M. Sohibul Iman), Wakil Ketua Majelis Syura (Hidayat Nur Wahid), Sekretaris Jenderal (Mustafa Kamal), Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri (Sukamta), dan Ketua Bidang Hubungan Masyarakat (Ledia Hanifa).

Vincent Guerend (Dubes Uni Eropa) memimpin delegasi kehormatan yang antara lain, terdiri dari Dubes Jerman (Michael von Ungern-Sternberg), Dubes Denmark (Rasmus Abilgaard Kristensen), Dubes Spanyol (Jose Maria Matres Manso), Dubes Austria (Helene Steinhausl), Dubes Polandia (Beata Stoczynska), Dubes Romania (Valeria Epure), Dubes Slovakia (Michal Slivovic), Dubes Swedia (Johana Brismar Skoog), Dubes Portugal (Rui Fernando Sucena du Carmo), Dubes Ceko (Ivan Hotek), dan Dubes Belgia (Patrick Hermann). Sementara itu kedutaan besar Perancis, Finlandia, Belanda, dan Inggris mengirimkan pejabat sementara (charge d’affaires) danfirst secretary.

Dubes Uni Eropa menyampaikan, “Diskusi bagus antara kelompok Duta Besar negara-negara Uni Eropa dengan pimpinan PKS tentang perkembangan politik, ekonomi dan sosial di Indonesia menjelang Pilkada 2018 dan pemilihan umum 2019,” ujar Guerend dalam akun twitternya. Begitu pula Dubes Denmark, Kristensen menyatakan: “Duta Besar negara-negara Uni Eropa di Jakarta bertemu dengan Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman untuk membicarakan kondisi menjelang pemilihan (kepala daerah dan nasional) serta hubungan UE dengan Indonesia.”

Presiden PKS menyambut gembira pertemuan yang sudah direncanakan lama, tapi baru terwujud saat ini, sehari menjelang pemilihan kepala daerah di seluruh Indonesia. “Ini membuktikan posisi PKS diterima di kalangan komunitas internasional. Dalam pertemuan ini, PKS juga menyuarakan kepentingan nasional Indonesia, meskipun sekarang bersikap sebagai oposisi, namun PKS memahami kepentingan nasional yang lebih besar,” ungkap Sohibul Iman.

Sohibul berharap pertemuan PKS-Uni Eropa bisa mempererat hubungan antara rakyat Indonesia dengan UE, tidak hanya hubungan formal pemerintahan. PKS sebagai bagian dari bangsa Indonesia, siap bekerjasama dengan berbagai pihak di dalam dan luar negeri. Kerjasama yang didasari sikap saling menghormati, saling menghargai dan konstruktif. “Kami yakin, masa depan dunia akan lebih baik dan sejahtera jika kita memiliki komitmen untuk saling terbuka dan bekerjasama,” ujar Sohibul yang pernah menjabat Wakil Ketua DPR RI.

Direktur Center for Indonesian Reform (CIR), Sapto Waluyo, melihat itu pertemuan istimewa dari segi timing, substansi pembahasan dan dampak politiknya. “Selama ini ada kesan PKS dijauhi komunitas internasional, karena sikap ekslusif. Bahkan, ada kelompok yang mulai mengkampanyekan PKS harus dibubarkan karena mendukung sikap radikal dan terorisme serta intoleransi. Semua tudingan itu tanpa bukti kongkrit dan telah terbantahkan dengan penerimaan dari berbagai kelompok domestik dan internasional,” cetus Sapto. Satu hal yang patut diacungi jempol, walaupun bersikap sebagai oposisi di arena politik domestik, PKS tetap membela kepentingan nasional ketika berinteraksi dalam arena diplomasi internasional.

Hal senada diungkapkan Ioana Emy Matesan, Asistant Profesor dari Jurusan Pemerintahan, Universitas Wesleyan, Amerika Serikat. “PKS sama dengan partai lain dalam lingkungan politik Indonesia: ia memiliki nilai tersendiri, tetapi bersikap strategik dalam meraih target politik. Basis anggota dan konstituennya berkomitmen terhadap nilai-nilai dan visi keagamaan mereka, namun seperti partai lain, kepemimpinan politiknya bersikap pragmatik. Hal itu terlihat ketika PKS membangun aliansi politik dengan partai nasional/sekuler, dan kita jelas melihatnya pada level daerah. Tentu saja itu antara lain disebabkan sistem politik Indonesia yang membolehkan semua partai untuk membentuk aliansi yang beragam demi meraih kuasa,” jelas Emy. Ia sedang melakukan riset di Indonesia berkaitan dengan fenomena PKS sebagai partai politik dan gerakan dakwah.

Hasil pilkada akan membuktikan apakah kepemimpinan baru PKS efektif dalam membangun strategi untuk meraih dukungan publik domestik dan meyakinkan komunitas internasional.